SALAM Rumah Kedua Kami

SALAM itu bagaikan kehidupan di tanah gersang. Banyak tanaman, bunga dan jenis tumbuhan yang beragam tumbuh subur, berkembang sesuai dengan jenis tanamannya. Ada yang tumbuh merambat, ada yang tumbuh menjulang, dan ada yang berbuah di dalam tanah. Semua tinggal di tanah yang sama, tumbuh, hidup dan tidak saling merasa lebih daripada yang lain. Tidak ada tanaman daun mangkok yang merasa iri dengan bunga telang, tidak ada tanaman padi yang ingin menjadi buah markisa. Semua berbahagia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada tanaman yang tinggal lama, ada juga bunga-bungaan yang menetap sebentar demi merasakan kuncup mekar di tanah yang subur itu. SALAM merupakan jalan sekaligus rumah dengan sebuah pekarangan yang cukup untuk segala jenis tanaman.

Saya dan anakku

Setahun lebih tak terasa sudah terlewati, Bulan Maret tahun 2017 adalah awal pertemuan sesungguhnya saya dengan SALAM, bukan hanya dari kabar orang-orang, ataupun pada media cetak. Saat itu adalah saat yang sulit karena ada banyak pertimbangan untuk memutuskan tentang gagasan saya dan suami menyekolahkan anak kami di sini. Sejujurnya, SALAM berada di dalam daftar terakhir kami saat itu, malahan sudah hampir kami coret karena ada satu persoalan yang cukup besar bagi kami untuk mencapai lokasi. Jarak. Ya, jarak SALAM dengan tempat tinggal kami berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Tercatat 38,6 km. 56 menit pada google map meski kenyataannya, menembus macetnya pertigaan Bandara Adisucipto, kota Yogya  bisa menjadikan waktu perjalanan menjadi lebih lama dari perhitungan. Kota Klaten adalah tempat tinggal kami saat ini, dan menemukan tempat bermain yang tepat untuk anak kami di usia dini adalah PR besar paling tidak begitulah menurut kami.

Sekolah Dini bagi kami tidaklah melulu tentang penerapan disiplin, kegiatan silabus yang terpenuhi dan target akademis. Meski teorinya, penerapan sekolah dini masih bersifat longgar dan bersenang-senang, namun kebanyakan yang ada, praktiknya tidaklah berjalan seirama. Kalau bukan karena kami melihat kebutuhan interaksi sosial adalah hal yang penting, mungkin kami tidak akan terburu-buru berpikir untuk mencemplungkan anak kami ke dalam sebuah wadah yang diberi nama PAUD, tapi ya, anak kami perlu belajar berteman, belajar bekerja sama, belajar berbagi, dan belajar menyayangi orang lain di luar lingkup keluarga kecilnya. Banyak orang di sekitar kami yang memberi saran  ‘sekolah paud ki cedhak omah wae, sing penting suk nek SMP karo SMA isoh nang sekolah favorit’ , juga slentingan lain muncul ‘isih PAUD wae kok ndandak golek sing tenanan’. Kami pun terdiam. Tidak lagi kami terlalu gembar-gembor ke siapapun tentang sekolah paud ideal yang ada di dalam pikiran kami. Karena, mungkin angan-angan kami untuk mendapatkan sekolah paud ideal terasa hanya mimpi. Sekolah ideal di dalam pikiran kami adalah sebuah tempat layaknya rumah yang mampu membuat anak kami bahagia dan bisa bereksplorasi sepuasnya tanpa terlalu diikat dengan aturan baku, tanpa harus sering-sering duduk lama di dalam kelas. Bisa jejingkrakan dan lari-larian sepuasnya. Bisa memiliki banyak teman. Dan yang paling penting mampu menanamkan nilai-nilai baik yang sejalan dengan cara pandang kami. Tapi ya, lagi-lagi bagi kami idealisme ini mungkin terlalu muluk. Tapi kami tetap mencoba, dan berharap.

Jadilah list demi list kami jajal. Namun, kami  banyak bertemu dengan peraturan-peraturan yang baku dan kaku. Kami menemui jalan buntu.  Kami melihat kembali coretan yang kami buat. Ada nama Sanggar Anak Alam (SALAM) di deretan paling akhir.  Kami berdiskusi, kami mempertimbangkan, akhirnya kami mencoba melangkahkan kaki ke sana. Setelah mencari tahu melalui salah seorang teman, mencoba mengenal melalui websitenya, dan keputusan ada pada reaksi anak kami nanti setibanya di sana. Dalam perjalanan kami ke SALAM, saya nyeletuk ke suami, “ Mengko nek ternyata betah tenan piye yo Yah?”  Dan rupanya, perjalanan kami ini memang bukanlah menjadi akhir cerita.

anak-anak bebas bermain

Setibanya kami bertiga di SALAM, helaan napas panjang, rasa deg-deg an dan bahagia entah bagaimana semua menjadi satu sekaligus. Vadin sudah girang melihat jalur semacam parit dan sembari-takut-jatuh berjalan pelan mendahului kami. Meskipun saat itu ada insiden kecil Vadin jatuh ke kali dekat perosotan yang membuatnya menangis kencang, Vadin terlihat tidak kapok di hari berikutnya. Kami datang lagi di hari berikutnya, lagi dan lagi. Masa percobaan yang panjang, selama satu minggu Vadin diperbolehkan bermain di lingkungan SALAM.  Melihat Vadin senang dan nyaman bagai di rumah sendiri, kami  menjadi semakin yakin bahwa ini adalah “rumah bermain” yang kami cari.

***

Suara mesin kereta api menderu, dan suara menderit antar gerbong yang bergesekan menjadi teman sepanjang perjalanan pagi untuk menuju ke SALAM. Hari Senin, Rabu, dan Jumat menjadi hari yang dinanti (paling tidak begitulah kesepakatan yang saya dan Vadin buat, meski pada prakteknya awal mula masih dua kali dalam seminggu, atau sesuka hati Vadin ingin berangkat hari apa). Saya sangat lega, karena bu guru (fasilitator) sangat memberikan kelonggaran, sehingga saya dan Vadin bisa berangkat ke SALAM tanpa harus merasa khawatir akan terlambat. Nyatanya, di SALAM tidak mengenal kata terlambat.  Semua anak di Kelompok Bermain terkesan bebas datang jam berapa saja sesuai dengan kondisi masing-masing. Namun, anehnya justru dengan kelonggaran itu anak-anak bisa bermain dan belajar tanpa ada perasaan berat dan terpaksa. Semua terlihat senang dan bergembira. Bahkan Vadin juga tampak larut dalam antusiasme ketika bermain di kali, atau kejar-kejaran dengan teman. Tidak ada anak yang ditegur karena tidak mau mengikuti agenda belajar di dalam kelas, tidak ada anak yang merasa bosan, karena semua anak boleh bermain apa saja di sana. Sungguh bahagianya anak-anak.

Jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan. Saya menyukai konsep ini. Bahkan sudah saya terapkan juga dalam keseharian di rumah. Tumbuh berkembang menjadi bagian keluarga SALAM merupakan hal yang patut saya syukuri. Banyak sekali orang bertanya, apa alasan saya menyekolahkan Vadin di SALAM? Saya sering gelagagapan juga menjawabnya, karena menjelaskan alasan-alasannya membutuhkan waktu sepanjang hari sambil duduk menyeruput kopi.

Satu tahun ini saya belajar banyak dari guru (fasilitator), teman-teman kecil, juga para orangtua di Kelompok Bermain (KB) SALAM. Belajar bahwa kesenangan dan kegembiraan itu bisa berangkat dari hal-hal yang sederhana, dari hal-hal yang biasa. Menapakkan kaki ke SALAM adalah melangkah ke sebuah keluarga baru, dimana kita tidak akan dibedakan karena berbeda, tidak akan dianggap remeh karena kita bukanlah si Nomor Satu, sebuah tempat dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri, diterima apa adanya kita, selalu disambut dengan sapaan hangat dan ramah, tidak perduli kita berpenampilan seperti apa. SALAM merangkul keberagaman kita semua dalam kebersamaan juga toleransi. Adakah yang lebih damai dan lengkap daripada itu?

Mengenal SALAM tidak bisa hanya melalui sayup-sayup angin atau rerumputan yang bergoyang, tidak juga hanya karena kabar orang-orang. Kita harus mengalami dan merasakan sendiri. Itupun tidak cukup hanya dalam waktu sehari dua hari. Saya butuh waktu lebih lama daripada itu. Satu tahun. Ya, satu tahun saya mulai benar-benar mengenal SALAM. Semua melekat erat. Kuat. Mengakar di hati.

Dan kini saya terjebak dalam cinta jarak jauh. Jarak memang pada akhirnya menjadi batu sandungan untuk saya dan vadin untuk melanjutkan berpetualang di sini.  Tapi, saya yakin, jarak akan memupuk dan membuat cinta kami pada tempat ini terus bersemi dan bertumbuh. []