Dua Ujung Tombak Kisah “Sang Penemu Bola Lampu Pijar”

Pendidikan kita selalu berbicara kepada murid-murid tentang daya juang Thomas Alva Edsion, agar mereka pun berbenah dan menjadi seperti Edison. Tetapi, mengapa pendidikan kita tidak pernah berbicara soal guru-guru yang memberinya label amat buruk akibat disleksia dan gangguan pada pendengaran yang dialaminya?

 

Suatu hari, saya membaca lebih jauh tentang kisah Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu pijar. Menurut beberapa sumber, Edison diduga mengalami disleksia (gangguan dalam proses belajar, misalnya dalam menulis, membaca dan mengeja) dan gangguan pada pendengaran, kondisi ini mempengaruhi perilakunya di sekolah dan tentu nilai-nilainya. Guru-gurunya di sekolah bahkan memanggilnya “addled”, saya enggan mengartikan kata tersebut. Sang ibu kemudian menariknya dari sekolah dan memilih untuk mendidik Edison sendiri di rumah. Namun, tampaknya situasi ini tidak meredupkan sedikit pun rasa ingin tahu yang dimilikinya. Ia justru terus membaca buku dan melakukan ribuan percobaan. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, Edison menjadi seorang ilmuwan yang mengubah peradaban dunia dengan penemuan-penemuannya.

Kisah ini acap kali menjadi kisah inspiratif bagi murid-murid agar pantang menyerah dalam mempelajari sesuatu. Hal ini saya akui baik, tentu amat baik. Edison memang layak dijadikan teladan bagi murid, agar gigih dalam berusaha untuk mengembangkan dirinya. Namun, agaknya bagi saya kisah ini tidak hanya tajam di satu sisi, kisah ini adalah tombak dengan dua ujungnya yang tajam. Ujung tombak yang satu sudah mengoyak kemalasan dan ketidakpercayaan diri murid-murid. Ujung tombak lainnya, seharusnya mengoyak pola dan kebiasaan para tenaga pedidik kita yang senang melabeli murid dengan label-label tertentu. Sak senenge dewe. Si A dibilang “cerdas”, si X dibilang “berbakat”, terus si B dibilang “nakal”, si Z dibilang “pemberontak”, si T dibilang “kurang cerdas”. Situasi ini menciptakan distingsi yang amat tajam antara si A dan X dengan si B, Z dan T. Alhasil, ada kelas superior dan kelas inferior. Jadi, kita menciptakan kelas-kelas yang saling mendominasi satu sama lain, lagi? Kebiasaan ini juga biasanya berujung pada sikap abai terhadap kelompok-kelompok inferior. Kalau kisah ini hanya digunakan untuk mengoyak kemalasan murid-murid kita (yang penyebabnya harus dicari tahu hehehe), tanpa mengoyak pola dan kebiasaan para tenaga pendidik kita yang saya cap buruk itu, maka, kita mereduksi esensi dan efisiensinya.

Kita mengharapkan murid-murid untuk berbenah dan pada akhirnya memiliki semangat yang membara dalam dirinya agar terus belajar, tetapi, di sisi lain, kita sebagai pendidik, meruntuhkan kepercayaan diri mereka dengan memberinya label-label yang buruk, bahkan amat buruk. Lalu, setelah itu masih dibandingkan dengan murid lain dengan label-label amat baik atau superior. Kalau begini terus, bagaimana mungkin harapan kita dapat terwujud? Paling-paling, terwujud bagi sebagian murid saja yang masuk dalam kelompok superior.

Saya sering mendapat cerita dari teman, bagaimana mereka di sekolah dibanding-bandingkan dengan kakak atau adiknya yang perilakunya dinilai lebih baik, apalagi soal nilai (dan banyak juga yang mendapat perlakuan yang sama dari orang tuanya sendiri). Akibat dari kebiasaan ini, banyak dari mereka yang menutup diri dan percaya bahwa dirinya adalah apa yang tertera pada label-label tersebut. Begitu banyak potensi yang kita bungkam suaranya, dengan label-label tak penting itu.

Sebaiknya, kisah ini membenahi dua pihak, murid-murid dan pendidikan kita.

 Catatan : jika dibaca sambil mendengar dan memaknai lagu FSTVLST berjudul “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan” , mungkin tulisan ini sedikit lebih hidup ~ sejenak kita akan mengerti apa rasanya menjadi mereka yang diberi label buruk itu. []