17-san Secara Virtual

Kemarin, media sosial tampak ramai dengan twibbon berbingkai merah putih yang berisi gambar pribadi diiringi dengan caption-caption semangat kemerdekaan. Banyak orang kemudian mengunggah gambar mereka dan banyak juga yang memberikan komentar atau sekadar memberi likes. Pandemi membuat perayaan kemerdekaan berpindah ke aktivitas virtual. Bahkan, saya mendapatkan undangan lomba 17 Agustusan secara virtual melalui sebuah link. Ada lomba makan kerupuk, lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Coba bayangkan lomba 17-an secara vitual!

Sungguh lucu rasanya ketika saya melihat bahwa tidak ada yang berubah dalam peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-76 tahun ini. Iya, tidak ada yang berubah. Hanya medianya saja yang bertransformasi. Esensi peringatannya tetaplah sama. Kebanyakan orang merayakan kemerdekaan dalam suka cita. Suka cita secara virtual. Apakah itu salah? Tidak juga. Tidak ada yang salah karena sejak awal kita memang tidak pernah benar-benar menghadirkan refleksi kebangsaan dalam setiap peringatan hari kemerdekaan.

Hampir selama saya lahir dan nunut hidup di negara ini sambutan hari kemerdekaan ya begitu-begitu saja. Setiap akhir pekan jelang hari kemerdekaan tiba, para warga diajak bergotong-royong untuk mengecat gapura, membersihkan taman kampung, dan memasang umbul-umbul. Bahkan, ketika kalender sudah berganti bulan menjadi Bulan Agustus, semua warga mulai memasang bendera jika ingin dianggap sebagai warga kampung yang baik. Tentu, warga pengontrak yang bebal, seperti kami ini yang males-malesan mencari dimana bendera merah putih ditumpuk dan dilipat akan mendapatkan stigma buruk, hingga akhirnya kain merah putih itu tampak wagu berkibar pada sebuah bambu yang telah remuk sebagian karena sering dipakai main oleh anak saya.

Dua kali ini hari kemerdekaan Indonesia dirayakan dalam suasana pandemi.  Tahun lalu, saya masih ingat bahwa anak saya diminta untuk turut menyimak upacara bendera secara virtual. Tahun ini tidak lagi. Anak saya bahkan bisa bangun lebih siang daripada biasanya karena malamnya dia ikut bertirakat dengan menonton film animasi anak sepanjang malam. Sungguh, ini bukan sesuatu yang membanggakan dan layak ditiru apalagi pasti bersebrangan dengan para penganut paham parenting tertentu.

Ada satu film yang kami tonton bersama yang cukup menarik. Film itu berjudul Raya and The Last Dragon. Ini adalah film animasi yang sebetulnya sudah agak lama, tapi kami baru benar-benar tergerak untuk menontonnya saat itu.  Telat memang. Berdua, saya dan anak saya membahas film itu kemudian mengaitkannya dengan kemerdekaan. Memang kesannya nyambung-nyambungin, tapi cukuplah anak saya mengerti bahwa keutuhan sebuah bangsa itu dapat tercapai apabila banyak pihak mau bekerja sama dan penuh perjuangan. Sama halnya dengan cerita dalam film animasi Raya and The last Dragon ini, dimana tokoh utamanya yang bernama Raya berjuang untuk mempersatukan rakyatnya di tanah Kumandra. Ya, sama kan dengan negara kita, tokoh utama wanitanya juga sedang berusaha mempersatukan rakyatnya. Eeh, gimana?

Bagaimana pun peringatan kemerdekaan berulangkali dirasa hanya menjadi seremonial. Bahkan ketika pandemi pun, esensi perayaannya tetap berjalan seperti biasa seolah memang sudah menjadi agenda rutin tahunan. Tidak ada yang berbeda di tahun ini, selain kemarin atlet bulu tangkis kita berhasil merebut medali emas di tengah situasi pandemi dan kembali membuat cabang olahraga ini kembali dielu-elukan. Tapi pasangan Greysia-Apriyani memang keren sih, dan tentu ada perjuangan dan kerja keras di dalamnya. Apakah sebagai sebuah negara kita sudah bekerja sekeras dan sefokus itu? Mungkin sejatinya pemerintah kita sudah belajar dari perjuangan para atlet muda itu, berjuang untuk terus memperpanjang PPKM seperti cicilan rumah.

Terlalu cepat untuk mengumandangkan lagu kebangsaan. Karena pekerjaan rumah kita sejatinya masih amat banyak. Cenderung menumpuk tanpa ada ketuntasan yang signifikan.

Pandemi makin menambah daftar orang yang kehilangan pekerjaan utama mereka. Ada yang  bertahan dengan banting setir berjualan secara online, ada yang mau tak mau  terpaksa mengubah varian produknya agar lapaknya tetap berjalan sehingga tidak merumahkan pegawainya, ada juga yang harus bekerja ganda sebagai driverfood di aplikasi A dan B dalam waktu bersamaan. Semua orang berusaha untuk bertahan hidup. Bisa mencukupi kebutuhan makan keluarganya hari ini saja sudah lebih dari cukup.

Tidak hanya soal pekerjaan. Pendidikan juga.

Pandemi semakin membawa rupa belajar merdeka yang digaungkan tidak membawa apa-apa. Sebagian besar anak-anak tetap mendapatkan pembelajaran secara virtual namun tanpa mengubah jumlah pencapaian kurikulum, sehingga beberapa sekolah, tampak menjejali anak didiknya dengan penugasan yang tiada ampun, demi tuntasnya kurikulum di semester itu. Sementara sebagian anak-anak lain tidak mendapatkan pendampingan yang mumpuni, hanya diberikan penugasan tanpa pengenalan materi.

Pendidikan kita tetaplah masih timpang. Baik pembelajaran secara tatap muka ataupun virtual. Selama di sana-sini masih terdengar suara bahwa sekolah swasta kualitasnya lebih baik daripada sekolah negeri, dan muncul standarisasi lain yang membuat para orang tua merasa lebih bangga ketika anaknya bersekolah di sekolah tertentu maka sejatinya pendidikan nasional kita belumlah melangkah kemana-mana. Lantas apakah pendidikan kita sudah benar-benar mencapai kemerdekaannya?