Apa Orang SALAM Mempelajari Jacotot?

Pada 1818, Jossph Jacotot, seorang profesor asal Belgia diminta mahasiswanya di University of Louvain, Belgia untuk mengajar bahasa Prancis. Jacotot memang menguasai beberapa disiplin ilmu, seperti matematika, hukum, ideologi, bahasa namun ia sama sekali tak mengerti soal Bahasa Prancis. Tak mau menyerah, Jacoto menjawab tantangan dari mahasiswanya.

The Ignorant Schoolmaster

Menggunakan sebuah novel dwibahasa Prancis dan Belgia, Jacotot membuat mahasiswanya untuk mencari kata dalam Bahasa Prancis yang paling memiliki korespondensi dengan Bahasa Belgia untuk menemukan arti, sambil membaca novel tersebut. Hingga setengah buku terbaca, Jacotot memerintahkan mahasiswanya untuk membaca novel tersebut sejak awal dan kemudian menuliskannya dalam Bahasa Belgia.

Mulanya Jacoto pesimis dengan hasil yang akan didapatkan mahasiswanya, sebab masih banyak mahasiswa yang kesulitan memahami novel tersebut, namun, di akhir pembelajaran, di luar dugaan seluruh mahasiswanya, termasuk Jacotot mampu mengerti Bahasa Prancis dengan baik melebihi ekspektasinya.

Kisah Jacotot ini ditulis oleh Jacques Ranciere dalam The Ignorant of Schoolmaster (1991). Ranciere mengilustrasikan kisah Jacotot untuk memberi gambaran bahwa seorang guru harus mentransmisikan pengetahuannya kepada siswa agar berada dalam satu level kemampuan tak selalu benar. Jacotot dan mahasiswanya memulai pelajaran bahasa Prancis dengan level yang sama: tidak mengetahui apa-apa.

Ranciere dalam The Ignorant of Schoolmaster ingin menunjukan bahwa pendidikan tak melulu berjalan secara asimeteris. Pendidik tak selamanya memiliki lebih banyak pengetahuan dibanding peserta didik. Ia menekankan bahwa masih ada alternatif lain dibanding pendidikan asimetris tadi.

Bahkan lebih ekstrem, Ranciere menginginkan pendidikan berjalan secara simetris, sebab eksplanasi oleh pendidik yang mencerminkan otoritas pendidikan terhadap pengetahuan dianggap sebuah upaya pembodohan (stultification) oleh Ranciere. Eksplanasi-eksplanasi tersebut memberi batasan terhadap pemahaman peserta didik.

Jauh dari Belgia, pada 2000 Lahir Sanggar Anak Alam (SALAM) di Kampung Nitiprayan, Yogyakarta yang menyadari bahwa di sekolah murid mendapatkan pelajaran yang terlalu berat.

“Kami semakin mengetahui kalau sebenarnya yang dipelajari di SD itu bukan hal hal yang mendasar, banyak hal hal yang sebenarnya belum saatnya dipelajari. Misalnya tentang kebijakan publik, tugas tugas MPR DPR,”

SALAM memulai  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk anak usia 2 hingga 4 tahun. Pada 2008 SALAM berkembang dengan mendirikan Sekolah Dasar (SD), dan semakin lengkap dengan hadirnya Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 2011, Di Tahun 2017, sudah berdiri setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)

SALAM hidup dengan asumsi bahwa ada hal yang lebih penting untuk diketahui siswa namun tidak terakomodasi oleh sekolah. Oleh karenanya, di SALAM mengembangkan kurikulum dan metode belajar yang berbeda dengan sekolah yang ada.

“Karena ini pendidikan dasar maka hal-hal yang mendasar seperti karakter, nilai-nilai yang harus ditanamkan dan itu tidak bisa dihapalkan harus diterapkan da ndiulang-ulang. Makanya kami melakukannya dengan eprspektif pangan, lingkungan hidup, dan sosial budaya kami mengembangkan proses pembelajaran,”.

Melalui perspektif pangan misalnya, SALAM ingin menekankan pentingnya menjaga keutuhan indonesia sebagai negara agraris. Para Siswa SALAM diajak untuk membatasi konsumsi makanan atau bahan pangan impor. Secara sistematis SALAM juga memiliki program untuk mendidik muridnya membiasakan diri mengonsumsi makanan asli Indonesia.

Di dalam pembelajrannya. SALAM merancang kurikulum yang berbeda dengan sekolah formal. mata pelajaran yang diberikan tidak menjadi subjek yang berdiri sendiri, malah nyaris mata pelajaran, melainkan membentuk instrumen yang mendukung pembelajaran. Sebab, pembelajaran di SALAM dilakukan berbasis penelitian.

Misalnya, penelitian soal beternak ayam, murid diminta untuk mengamati proses dari keluarnya telur hingga penetasan dan perawatan awal anak ayam. Sedangkan mata pelajaran diberikan terkait dengan tema-tema penelitian yang ada seperti biologi soal morfologi ayam sederhana, matematika soal dosis pakan, fisika dan kimia soal mengatur suhu dan kelembapan sarana penetasan.

“Di akhir pembelajaaran nanti murid akan presentasi membuat laporan, terus kemudian juga pengumpulan dan analisa data terus membuat kesimpulan mengenai hasil penelitiannya. Presentasi itupun tidak harus dalam bentuk tulisan bisa melalui gambar, drama, dan lainnya karena tidak semua anak mau dan bisa menulis,” jelas.

Setiap tahapan aktivitas yang dilakukan selama penelitian tersebut akan diamati oleh para fasilitator. Untuk satu kelas fasilitator dan murid berbanding 1:7, sedangkan dalam satu kelas biasanya jumlah murid mencapai 15 siswa, atau satu kelas terdapat 2 fasilitator. Fasilitator akan mengevaluasi murid soal sejauh mana pemahamannya terhadap penelitian yang dilakukan, sekaligus memberi perlakuan untuk murid yang belum memahami.

“Jadi kecermatan dialog, komunikasi itu memang mutlak. Jadi penilaiannya bukan hanya dalam artian kamu mampu mengerjakan tugas tugas, tapi juga dalam keseharian dalam kamu menghadapi masalah, dalam kamu berteman itu kami proses disini,”

Penelitian ini sendiri dilakukan satu hingga dua kali selama satu semester, sedangkan temanya dirembuk bersama dengan fasilitator (guru), orangtua murid, dan murid pada awal semester dimulai.

Cerita Jacoto yang ditulis oleh Ranciere dan upaya-upaya yang dilakukan SALAM memperlihatkan bahwa terdapat visi alternatif dibanding pendidikan formal yang ada. Bahwa pendidikan harus mampu diaplikasikan dalam beragam bentuk dan cara. Tak melulu berasal dari pemerintah.

Selanjutnya kita mampu bertanya: mana yang lebih alternatif? Aplikasi pembelajaran Jacoto yang secara filosofis diterjemahkan Ranciere merupakan upaya membongkar pendidikan secara umum, meski dilakukan di universitas yang memiliki struktur baku atau kisah SALAM yang justru membuat struktur mandiri di luar struktur pendidikan negara? ***  (Kurnia Yunita & Anggar Septiadi)