Pendidikan bak Industri

Sudah bertahun-tahun Bangsa Indonesia menyadari pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa yang maju. Maka disusunlah suatu sistem pendidikan lengkap dengan komponen dan metodologinya. Bahkan pemerintah bersedia menyisihkan tak kurang dari 20% anggaran belanjannya untuk mengelola dunia nendidikan. Tetapi muncul pertanyaan, apakah pendidikan sekarang telah mencapai apa yang dicita-citakan. Apakah dengan anggaran yang sebesar itu dan sistem kurikulum yang kerap berubah telah memenuhi tugasnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa?

Realitasnya pelajar-pelajar Indonesia hanya diperas tenaganya sekedar untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Sembilan tahun wajib belajar dan beberapa tahun di perguruan tinggi merupakan waktu yang terlampau lama untuk sekedar melakukan transfer ilmu. Pada jenjang SD, pelajar dibebani delapan mata pelajaran (mapel), sepuluh mapel di SMP dan enam belas mapel di SMA. Dengan mata pelajaran sebanyak itu, pelajar Indonesia menghabiskan sekitar 45 jam setiap minggunya. Para pelajar dituntut untuk memahami kesemua mapel dam mendapat nilai yang baik. Akhirnya masa-masa remaja mereka pun habis diperas oleh sistem pendidikan saat ini yang semata cuma mengejar nilai dan ijazah yang tinggi.

20160521-esai-01

Masa pendaftaran peserta didik baru selalu menjadi momok bagi para pelajar. Banyak pelajar merasa gelisah tentang keberlangsungan studinya. Setiap pelajar memiliki harapan yang tinggi untuk melanjutkan studi di lembaga pendidikan dengan kualitas terbaik, tetapi terkadang realitas berkata lain. Lihat saja dari data SNMPTN, dari 852.093 pendaftar, hanya 137.005 saja yang diterima. Sungguh kasihan para peajar ini, sudah dibebani oleh kurikulum yang berat, masih juga tidak memiliki kepastian tentang kelanjutan studinya.

Jika benar setiap orang berhak mengenyam pendidikan yang berkualitas, mengapa proses penerimaan peserta didik baru selalu dipersulit. Pelajar-pelajar, baik yang dicap pandai maupun tidak, seharusnya diberi kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan berkualitas. Ataukah sekarang pendidikan yang berkualitas hanya diperuntukkan bagi mereka yang pandai?

Setiap lembaga pendidikan selalu berusaha untuk menjaga kualitasnya. Itulah sebabnya mengapa setiap lembaga pendidikan yang berkualitas selalu berusaha mencari input yang juga berkualitas. Semata karena gengsi persaingan kualitas antar lembaga pendidikan, nasib para pelajar tergadai. Bak sebuah industri yang selalu mencari bahan baku terbaik agar kelak produknya dapat bersaing dengan industri lain, itulah gambaran dunia pendidikan Indonesia saat ini.

20160521-esai-02

Namun sebenarnya kualitas lembaga pendidikan yeng menjadi gengsinya sangat dipengaruhi oleh input peserta didiknya. Ambil contoh salah satu SMA yang kualitasnya telah diakui di Yogyakarta. Menempati peringkat pertama berdasar rata-rata nilai NEM bisa menjadi indikator kualitas suatu lembaga pendidikan. SMA tersebut mencapai nilai rata-rata NEM 496,79 atau 82,793 untuk setiap mapel. Bukankah hal yang luar biasa? Namun perlu diingat juga bahwa pelajar baru di sana masuk dengan rata-rata NEM SMP 389,1 atau 97,225 per mapelnya. Dari situ terlihat bahwa input dan output sekolah sama-sama tinggi. Sederhananya, mereka masuk sudah pintar, keluar tetap pintar, hanya sedikit dipoles.

Hal yang lebih aneh lagi dari sistem pendidikan di Indonesia adalah kesan bahwa sekolah hanya mempersiapkan pelajarnya agar mudah mendapat lembaga pendidikan berkualitas di jenjang selanjutnya. Seolah-olah proses pembelajaran di SD disiapkan sekedar agar dapat mudah diterima di SMP ternama, begitu juga di SMP maupun SMA. Kiranya pendidikan di perguruan tinggi pun tak jauh berbeda, agar mudah diterima di dunia kerja. Entah mengapa pelajar Indonesia sudah serasa seperti barang dagangan saja, inginnya cepat laku.

Proses penerimaan mahasiswa baru dapat dijadikan contoh konkretnya. Diterimanya pelajar-pelajar di Perguruan Tinggi Negeri, terutama melalui jalur SNMPTN, biasa dijadikan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan sekolah. Seakan-akan jika banyak pelajar yang diterima melalui SNMPTN menunjukkan bahwa SMA tersebut berkualitas. Dan sebaliknya, minimnya pelajar yang diterima di PTN dianggap sebagai satu bencana. Layaknya sebuah industri saja, yang melihat tingkat penjualan sebagai indikator suksesnya.

Lembaga pendidikan saat ini telah mirip dengan industri. Jika dianalogikan, para peserta didik selayaknya sumber daya atau bahan baku yang akan diolah. Itulah mengapa dibutuhkan pelajar yang berkualitas jika ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Selain itu, tingkat penjualan dalam industri dapat diibaratkan dengan angka diterimanya lulusan-lulusan di lembaga pendidikan ternama.

Hal lain yang perlu disadari adalah persaingan antar lembaga pendidikan tak ubahnya seperti persaingan dalam dunia industri dan bisnis. Kerap kaliĀ  pengembangan dan pembaharuan yang dilakukan dalam sekolah bukan semata ditujukan untuk kepentingan siswa, tetapi untuk mendongkrak daya saing sekolah serta memikat calon-calon peserta didik baru.

Dalam situasi yang telah digambarkan di atas, sangat mungkin timbul mindset yang buruk dalam diri pelajar Indonesia. Lembaga pendidikan yang mempersiapkan murid layaknya produk yang diharap cepat laku dapat berimbas pada pola pikir pelajarnya. Pelajar Indonesia akan terbentuk dalam suatu mental pengikut yang selalu ingin cari mapan, bukan seorang pemimpin yang tak henti berinovasi. Pelajar Indonesia akan selalu mengusahakan agar kelak dapat mudah mendapat kerja, gaji, dan uang pensiun yang terjamin. Mereka akan sulit tumbuh menjadi seorang kreatif, inovatif, dan pembaharu.

Andaikan ini sistem pendidikan yang dulu digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, rasanya sulit bagi Indonesia untuk merdeka. Sitem pendidikan sekarang telah jauh melenceng dari apa yang telah dikonsepkan oleh Bapak Pendidikan kita. Konsep pendidikan yang diterapkannya pada masa pra-kemerdekaan tak terlihat lagi benih-benih terpelajarnya. Kaum terpelajar masa perjuangan adalah mereka yang memiliki sikap kritis, berani dan seorang pemberontak. Jika sistem pendidikan masa itu sama seperti sekarang, pastilah kaum-kaum terpelajar masa itu lebih memilih menjadi abdi bagi kota praja Hindia-Belanda. Tidak akan ada proklamasi, tidak akan ada revolusi, dan tidak akan ada perubahan.

Inikah yang dicita-citakan dari sistem pendidikan Indonesia? Mengolah pribadi-pribadi polos menjadi sumber tenaga kerja yang dibutuhkan pasar? Ataukah mencerdaskan kehidupan bangsa dalam arti kritis, inovatif, kreatif dan seorang barani? Kiranya banyak yang perlu diluruskan. (Clemens dion, baru saja lulus SMA Debritto).