Suasana Ruang Limbuk-Cangik pada Rabu, 20 Mei 2026, tampak ramai oleh antusiasme para pengunjung yang datang untuk menyaksikan Gelar Karya anak-anak Taman Anak SALAM. Di antara 28 karya yang dipamerkan, terdapat sebuah karya sederhana namun menarik milik Dominikus Cavero Oni Kurnia Randayan, yang akrab dipanggil Ero. Karya tersebut berjudul Mainan Adu Penalti, sebuah permainan yang lahir dari kecintaannya terhadap dunia sepak bola.
Sejak awal acara dibuka, Ero terlihat bersemangat. Ia bersama teman-temannya memasuki ruang pameran, melihat karya-karya yang dipajang, lalu berdiri di dekat hasil karyanya masing-masing. Kehadiran orang tua yang mendampingi anak-anak menambah hangat suasana. Ero hadir bersama ibunya dan adiknya, sementara ayahnya berhalangan hadir karena tugas dinas.
Saat sesi presentasi dimulai, Bu Rika sebagai pemandu acara mengajak Ero bercerita tentang proses pembuatan karyanya. Meskipun waktu yang tersedia hanya sekitar tiga hingga lima menit karena harus bergantian dengan teman-teman lainnya, Ero mampu menjelaskan berbagai hal dengan baik. Ia menceritakan dari mana ide itu berasal, bahan-bahan yang digunakan, bagaimana proses pembuatannya, berapa lama waktu yang diperlukan, siapa saja yang membantunya, serta peran yang ia lakukan selama proses berlangsung.
Dengan penuh semangat, Ero juga memperagakan cara memainkan mainan adu penalti tersebut. Ketika ditanya tentang nama pemain sepak bola dan asal negaranya, ia menjawab dengan cepat dan tanpa ragu. Pengetahuannya tentang sepak bola memang bukan sesuatu yang baru. Baik di rumah maupun di sekolah, Ero dikenal senang bermain bola. Ia sering memperagakan pertandingan sepak bola, baik sendiri maupun bersama teman-temannya. Ketertarikannya juga meluas hingga mengenali nama-nama pemain, negara asal mereka, serta bendera masing-masing negara. Bersama ayahnya, ia sering bermain tebak-tebakan seputar dunia sepak bola.
Ide membuat mainan adu penalti muncul setelah Ero melihat permainan serupa di YouTube. Rasa penasaran mendorongnya untuk mencoba membuatnya sendiri. Untuk mewujudkan ide tersebut, ia meminta bantuan ayahnya. Ero turut berusaha mencari bahan-bahan yang diperlukan, terutama kardus yang menjadi bahan utama pembuatan permainan. Bahkan pada satu kesempatan, ia dengan spontan bercerita, “Kardus dari temenku aku boleh dipinjemi.” Kalimat sederhana itu menunjukkan bagaimana Ero juga belajar membangun hubungan sosial dan memanfaatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya dalam proses berkarya.
Tujuan Ero membuat mainan ini cukup sederhana namun bermakna. Ia ingin menjawab rasa penasarannya sekaligus memiliki permainan yang dapat dimainkan bersama ayah maupun teman-temannya. Selama proses pembuatan, Ero menghadapi tantangan yang tidak kecil. Rasa bosan sering muncul, begitu pula godaan untuk beralih fokus karena ingin bermain dengan adik atau saudara-saudaranya. Namun perlahan-lahan ia belajar bertahan hingga karyanya selesai dibuat.
Beberapa bagian permainan dikerjakan sendiri oleh Ero, salah satunya membuat garis-garis lapangan. Dari proses tersebut terlihat bahwa ia memahami unsur-unsur dasar dalam permainan sepak bola. Ketika Bu Rika memberi kesempatan untuk menambahkan cerita, Ero bahkan masih ingin berbagi informasi lain mengenai kipernya yang dibuat dari kardus. Antusiasme itu menunjukkan bahwa ia memiliki banyak hal yang sebenarnya ingin diceritakan tentang karyanya.
Pada sesi tanya jawab, Ero tampak percaya diri menjawab berbagai pertanyaan. Ekspresinya memperlihatkan bahwa ia masih memiliki keinginan untuk bercerita lebih banyak. Meski demikian, keterbatasan waktu membuat sesi berlangsung cukup cepat sehingga beberapa cerita yang mungkin menarik belum sempat tergali lebih dalam.
Di balik presentasi singkat tersebut, terdapat proses belajar yang berharga. Ero belajar bahwa membuat sebuah mainan membutuhkan usaha, waktu, dan kesabaran. Ia juga belajar menghadapi rasa bosan serta belajar menunda keinginan untuk melakukan aktivitas lain demi menyelesaikan proyek yang telah dimulai. Pengalaman ini menjadi latihan penting untuk membangun ketekunan dan tanggung jawab.
Suasana positif yang tercipta selama gelar karya juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar Ero. Dukungan teman-teman, keluarga, fasilitator, serta para orang tua yang terlibat dalam penyelenggaraan acara menciptakan lingkungan yang hangat dan memberi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan hasil kerja mereka dengan percaya diri.
Melalui karya Mainan Adu Penalti ini, Ero tidak hanya menunjukkan kecintaannya pada sepak bola, tetapi juga memperlihatkan proses tumbuhnya kemampuan untuk mewujudkan ide menjadi karya nyata. Langkah kecil yang dimulai dari rasa penasaran, dibantu oleh dukungan keluarga dan lingkungan, telah mengajarkannya tentang proses, ketekunan, dan kebahagiaan dalam belajar.
Dari Notulensi: Yudhistira Aridayan & Bernadheta Ranggi
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply