Heboh dan Khidmat

Sabtu (17/8) suasana di Sanggar Anak Alam (SALAM) cukup ramai. Berbeda dari biasanya, anak-anak tampak lebih rapi dengan baju bernuansa merah dan putih. Tak hanya mereka, para orang tua dan fasilitator juga tak kalah penampilannya. Tak hanya bajunya, pipi mereka pun digambar bendera merah putih.

Upacara 74 tahun Indonesia Merdeka. Foto Anang Istiawan
Foto Anang Istiawan

Tampak berbeda juga dengan suasana Sabtu pagi itu, tak ada teriakan anak-anak, yang ada hanyalah suasana khidmat Upacara Bendera 17 Agustus. Seperti tahun-tahun sebelumnya, petugas upacara Hari Kemerdekaan adalah siswa dan ortu kelas 6 SD.

Ambience yang “Salam” banget baru terasa usai upacara, sebab ini saatnya “adu fisik”.

Organisasi Anak Salam (OAS) sudah mempersiapkan berbagai lomba untuk adik kelasnya, juga untuk orang tua dan fasilitator. Paling ditunggu adalah lomba tarik tambang ortu vs fasi, yang ternyata dimenangkan oleh tim ortu. Paling kocak adalah futsal plus joget yang pesertanya sama, ortu vs fasi cowok dan ortu vs fasi cewek. Bisa dibayangkan ribetnya menggiring bola sembari joget-joget nggak jelas.

Nah, menurut Raisa Kanaya yang mewakili OAS, selama kurang dari seminggu mereka memeriahkan bulan Agustus dengan berbagai permainan untuk semua siswa SALAM. Yaitu, lomba makan kerupuk, tarik tambang, dan sepak bola.

Menurut Rere, sapaan akrabnya, harapan dari permainan ini bukan sebagai ajang berkompetisi. Tapi justru menumbuhkan semangat kebersamaan.

“Jangan sampai terjebak dalam ilusi menang dan kalah justru seharusnya menumbuhkan semangat kerja sama,” ujarnya.

Kemeriahan hari Kemerdekaan di SALAM ditutup dengan makan bersama yang sudah disiapkan oleh Bu Sri Wahyaningsih dan tim. Menunya adalah Tumpeng. Menurut Bu Wahya, tumpeng memiliki filosofi yang mendalam. Artinya, tumindak engkang lempeng. Kalau diterjemahkan, kurang lebih adalah bertindak dengan lurus dan benar. Harapannya, ke depan semua langkah bisa dilakukan dengan benar dan bisa dipertanggungjawabkan. []