Mendiskusikan Dunia “Sempurna”

Ada yang menarik di kelas Kelompok Belajar (KB) Sanggar Anak Alam (SALAM) siang itu, Senin 27 Maret 2017: Pemutaran film dan diskusi untuk para orangtua KB. Ide untuk menyelenggarakan acara tersebut tercetus spontan, karena hari itu bertepatan dengan jadwal homevisit ke rumah Sandhi. Kok bisa bikin diskusi di kelas sementara anak-anak home visit? Ya jelas bisa. Lhawong rumah Sandhi, yang cucunya pendiri SALAM, cuma beberapa langkah di belakang kelas.

Foto: Doc. SALAM

Pemutaran film “The Beginning of Life” ini di fasilitasi oleh Karunianingtyas dan Catharina Esthi, duo yang sering memandu ‘Pojok Parenting’ di radio Petra, sekaligus fasilitator dan orangtua di SALAM. Acara nonton bareng dan diskusi seputar film “The Beginning of Life” ini sendiri telah terselenggara ratusan kali di Indonesia oleh komunitas TemanTakita.com dan Ashoka Indonesia yang berperan menyediakan film ini dalam subtitle Indonesia. Bagi Tyas, panggilan akrab Karunianingtyas, ini adalah kali keempat ia berperan sebagai fasilitator diskusi.

Film berdurasi 1 jam 36 menit ini adalah film dokumenter bikinan UNICEF mengenai perkembangan anak usia dini. Selain menghadirkan pendapat ahli dari berbagai negara, film ini potensial menjadi pemantik diskusi. Tyas juga mengungkapkan bahwa film ini cukup mudah dicerna. Selain meninggalkan banyak kesan, beberapa peserta diskusi bahkan menyatakan ingin menyaksikan kembali film ini bersama suami/istri untuk menyamakan visi dalam pengasuhan anak.Maka sejatinya, film besutan Estela Renner ini tepat sekali jika dijadikan media untuk diskusi-diskusi dengan tema parenting anak usia dini.

Film yang sinematografinya seindah iklan asuransi jiwa ini nyatanya cukup membuat air mata ngambang di pelupuk mata. Mulai dari pernyataan beberapa pakar tumbuh kembang anak hingga testimoni berderet orangtua, menjadi sumber ilmu yang luar biasa. Hanya saja saya sempat iri ketika mbak Gisele Bundchen menghias layar. Gimana nggak iri. Selain ia cantik, pintar sekaligus kreatif dalam mengasuh anak, rumah yang menjadi latarnya (dan saya duga kuat itu adalah rumahnya) juga bisa tetap bersih. Tak tampak ranting dan daun kering, benda yang kerap ia pakai sebagai media belajar bersama anak-anaknya, bertebaran. Sungguh sempurna!

Rupanya bukan saya saja yang menangkap kesan “perfect world” dari film ini. dalam diskusi yang bergulir, Keke, mamanya Nawang, juga merasakan hal yang sama. “Menyaksikan film ini membuat saya berpikir bahwa saya bukan ibu yang sempurna. Karena ketika lajang saya adalah perempuan yang merdeka dalam berkarir. Maka sejak memiliki anak, dunia saya seperti dibalik. Setiap kali berdiskusi dengan kakak tentang kesulitan yang saya alami, hiburnya ‘sudah cukup baik jika kita tidak jadi gila’. Jadi saya menganggap menjadi orangtua selain sebagai proses belajar terus menerus, juga sebuah proses untuk menjadi perempuan yang lebih baik,” ungkap Keke.

Foto: Doc. SALAM

Beberapa peserta diskusi juga menggulirkan pertanyaan tentang bagaimana mengelola emosi. Seperti yang diungkap Pradit mamanya Rafqi yang merasa bersalah karena masih kurang sabar ketika menghadapi anak sulungnya. Begitu juga yang dialami Puput, mama Shalom, yang seringkali merasa bahwa ia kerap menjadikan anak sulungnya sebagai sasaran kekesalannya. Mengenai hal ini ada sedikit tips dari Ivy, ibu dari Arsa dan Adyatma, bahwa sesekali seorang ibu perlu menyisihkan waktu untuk diri sendiri.

Tentang peran ayah dalam pengasuhan anak juga menjadi topik asyik. Seperti yang diungkap Butet, mama Angger, bahwa ia kerap mengalami kesulitan untuk melepaskan pengasuhan anaknya kepada suaminya. Kelahiran Agni, anak keduanya, akhirnya membuat ia, mau tak mau, melibatkan suami lebih aktif dalam pengasuhan anak. Film ini memberi wawasan baru bagi Butet, bahwa ayah dan ibu memang memiliki caranya sendiri dalam mengasuh anak-anaknya. Namun kehadiran keduanya memiliki peran khas yang penting bagi tiap anak. Bagi Esthi, mama Lita, cuti ayah seperti yang diterapkan di negara-negara maju seperti Swedia dan Denmark juga menjadi wawasan menarik. Artinya banyak negara telah mengakui bahwa kehadiran ayah secara penuh waktu di bulan-bulan awal kehidupan anaknya adalah penting.

Foto: Doc. SALAM

Ada kutipan menarik yang sempat saya catat tentang peran ibu dan ayah dari film ini. Bahwa ‘Seorang ibu adalah contoh pertama dari kemanusiaan yang bersentuhan dengan seorang anak’, dan ‘Peran seorang ayah adalah menunjukkan pada anak-anaknya bahwa diluar sana ada dunia yang lebih luas dari ibunya’.

Tentu saja masih begitu banyak hal yang ingin kami diskusikan. Saya sendiri melihat banyak benang merah antara konten film dengan cara berpikir dan metode belajar di SALAM. Namun apaboleh buat, acara home visit telah usai. Anak-anak kami menerjang masuk dari berbagai penjuru. Beberapa diantaranya menghambur dengan membawa sepiring nasi kuning dari Sandhi. Sisanya meringsek dalam pangkuan dengan celoteh-celoteh yang bisa mengalahkan diskusi paling seru sekalipun. Mungkin ini bisa jadi ide untuk ormas-ormas yang gemar membubarkan diskusi apapun. Ambil saja anak-anak para peserta diskusi dan terjangkan mereka ke tengah ruang. Maka diskusi akan bubar dengan sendirinya dengan ceria.

Foto: Doc. SALAM

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kutipan dari film “The Beginning of Life”. Namun terlalu banyak kutipan bagus di film itu, dan terlalu sedikit yang saya ingat. Yang terbaik dalam ingatan saya yakni bahwa ketika seorang bayi melempar sendok ke lantai berulang kali, bukan karena ia sedang ingin membuat jengkel ibunya. Ia hanya sedang bereksperimen tentang bunyi. Begitu juga dengan segala hal yang tampak menjengkelkan dimata orang dewasa, adalah sesungguhnya sebuah eksperimen di mata kanak-kanak. Karena seorang anak manusia, sejak lahir bahkan jauh sebelum hari kelahirannya, adalah seorang periset sejati.

Maka sembari mendampingi anak-anak kita meriset kehidupan, mari kita meneruskan ‘penelitian’. Kali ini tentang bagaimana menjadi ibu, ayah dan orangtua yang baik untuk anak-anak kita, tak perlu pula sesempurna seperti dalam film film The Beginning of Life, karena ketidaksempurnaan juga akan menghasilkan sesuatu yang mungkin berupa ketangguhan pada anak-anak kita.