Ilusi Kompetisi di Sekolah

Setiap sekolah yang ada di Kota saya, sebagian besar anggarannya ditujukan sebagai usaha untuk mempersiapkan dan mendanai kegiatan-kegiatan lomba alias kompetisi. Upaya ini dilakukan untuk mengangkat citra sekolah, sekaligus mendorong para peserta didiknya agar selalu berprestasi,

Anak SALAM berkunjung ke tempat-tempat ibadah. Foto Yanuar Surya

katanya. Kejuaraan-kejuaraan yang digelarpun selalu mendapatkan restu dari Dinas Pendidikan setempat, karena tujuannya selalu mulia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, para juara dari bebagai lomba atau kompetisi itupun bisa diatur oleh para elit panitia, secara bergiliran, dari sekolah satu ke sekolah lainnya.

Dunia pendidikan kita masih mengajarkan ilusi kemenangan. Akibatnya, anak-anak kita terjebak dalam ilusi, dan lupa untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Dunia pendidikan kita mengajarkan ilusi menang-kalah. Padahal, justru kita perlu lebih banyak menumbuhkan semangat kerja-sama, daripada saling berlomba atau berkompetisi untuk kemenangan semu yang tak bermakna.

Inilah bagian dari dunia pendidikan kita, dimana kita dan anak-anak kita seakan telah mengalami kesalahan pada pola asuh. Sejak kecil, anak-anak kita diajar untuk menjadi manusia yang berprestasi dan sukses. Berprestasi dan sukses disini berarti, anak-anak kita mendapatkan hal-hal yang ada di luar dirinya, yang coba kita tambahan ke dalam diri mereka. Sejak kecil, juga anak-anak kita diajarkan untuk mencari pengakuan, kebahagiaan dan kepenuhan diri dari luar dirinya, yakni dari orang lain. Dengan berprestasi dan sukses inilah, anak-anak kita merasa bangga dan merasa perlu untuk terus dikejar, karena dengan berprestasi dan sukses, mereka akan diakui oleh orang lain. Padahal, pihak sekolah pun memiliki tujuan lain pula, yakni agar sekolahnya juga diakui oleh masyarakat luas, bahwa pihaknya atau sekolahnya mampu mendidik anak manusia menjadi orang sukses dan berprestasi.

Namun, ketika anak-anak kita gagal mendapatkan prestasi dan tidak sukses untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Anak-anak kita lalu bersedih dan menderita. Pada saat anak-anak kita gagal mendapatkan tujuan di luar dirinya, ia lalu merasa rendah dan bodoh. Dalam keadaan sedih dan menderita tersebut, anak-anak kita diajarkan untuk terus mencari di luar dirinya untuk menghilangkan penderitaannya. Biasanya, kita memberikannya hiburan, makan-makan di Mall, refreshing ke suatu tempat atau membelikan barang-barang baru yang bisa membuatnya lupa akan kesedihan dan penderitaannya. Namun hasilnya, anak-anak kita tak pernah bisa lepas dari kesedihan dan penderitaannya, dan ia akan semakin menderita ?!.

Kembali ke dunia pendidikan kita, bahwa setiap sekolah mau-tidak-mau atau suka-tidak-suka harus menyiapkan banyak anggaran untuk mengikuti setiap lomba yang digelar oleh pihak Dinas Pendidikan maupun sekolah-sekolah lain yang ingin sekolahnya diakui masyarakat. Situasi ini jelas akan memberikan kesibukan tersendiri bagi peserta didik dan sekolah untuk menyelenggarakan lomba-lomba, mulai dari lomba mendapatkan hibah, sampai kompetisi-kompetisi kecil yang menyita waktu dan tenaga. Akibatnya, anak-anak kita lupa apa yang sungguh penting. Anak-anak kita lupa akan tujuan pendidikan yang mestinya ia dapatkan dari sekolahnya.

Foto Yanuar Surya

Sibuk berlomba membuat kita lupa dan mengabaikan apa yang sungguh penting. Sibuk berlomba memecah perhatian kita untuk apa yang sungguh berharga. Itulah yang mesti kita pikirkan bersama. Dengan berlomba orang tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Sebaliknya dengan berlomba orang diajarkan untuk terkurung dalam pandangannya masing-masing.

Dalam suatu lomba yang terjadi bukanlah dialog, melainkan dua-log. Ibarat ada dua pesawat TV yang dihadapkan bersma, orang saling berlomba, tanpa berusaha mencari titik temu untuk bekerja sama. Berlomba membunuh keterlibatan, anak-anak didik kita. Inilah yang terjadi di Indonesia. Anak-anak kita dibelah oleh berbagai lomba. Akibatnya, anak-anak yang gagal atau kalah dalam lomba merasa tidak perlu lagi terlibat.

Oleh karena itu, banyak masalah-masalah kemasyarakatan kita tidak selesai, karena kita sibuk berlomba, dan energi kita habis, tanpa pernah kita terlibat menghadapi masalah-masalah bersama. Kita sendiri juga sibuk berlomba satu sama lain, kita jadi lupa akan cita-cita bersama itu. Visi dan misi terabaikan, sebab kita sibuk mengikuti dan mengadakan lomba, serta terbuai dalam kemenangan semu semata. Mungkin, inilah akibat dari setiap kompetisi yang kita selenggarakan. Pada akhirnya, sebagai bangsa kita pun terpecah, akibat terlalu banyak berlomba.

Perlu kita sadari bersama, bahwa anak-anak kita membawa misi dalam hidupnya. Mereka satu sama lain unik dan memiliki kecerdasannya masing-masing. Begitu pula organisasi. Setiap organisasi mengemban visi dan misi tertentu, guna diwujudkan ke dalam masyarakatnya. Visi dan misi itu diwujudkan di dalam tindakan keseharian. Tujuannya tetap sama yakni menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bermakna.

Foto Yanuar Surya

Sementara, berkompetisi akan menciptakan ilusi, bahwa setelah kita menang, kita menjadi yang ‘nomor satu’. Seolah tujuan lomba atawa berkompetisi itu adalah kemenangan. Memang nasihat luhur bahwa kompetisi adalah sarana untuk belajar, yang mudah sekali diucapkan. Namun itu tidak cukup, karena ilusi kemenangan dan pengakuan dari orang lain bahwa ia adalah ‘nomor satu’ sangat begitu dalam tertanam.

Dunia pendidikan kita masih mengajarkan ilusi kemenangan. Akibatnya, anak-anak kita terjebak dalam ilusi, dan lupa untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Dunia pendidikan kita mengajarkan ilusi menang-kalah. Padahal, justru kita perlu lebih banyak menumbuhkan semangat kerja-sama, daripada saling berlomba atau berkompetisi untuk kemenangan semu yang tak bermakna.

Perlu juga kita sadari, bahwa ketika negara-negara tetangga kita mulai terlibat untuk membangun sebuah kerja-sama dan kolaborasi, dan menghindari kompetisi yang menajamkan ketegangan, sementara di negeri kita disibukkan oleh berbagai macam lomba atau kompetisi. Sudah saatnya, paradigma pendidikan kita pun harus berubah dari paradigma kompetisi atau lomba menjadi paradigma kolaborasi atau kerja-sama.

Sejatinya hidup kita tidak memerlukan pengakuan dari siapapun. Kepenuhan diri sudah ada di dalam diri kita, dan tidak perlu mencarinya di luar. Kebahagiaan sudah selalu ada di dalam diri kita. Kita hanya perlu melihat ke dalam hati, dan tidak lagi sibuk mencari di luar diri kita. Prestasi dan sukses dalam setiap lomba atau kompetisi apapun, hanya untuk memenuhi kebutuhan akan pengakuan dari pihak luar diri kita dan meningkatkan citra lembaga kita saja, yang justru mengaburkan tujuan pendidikan itu sendiri.  (Dharmodumadi.)