INISIASI ORANG TUA SALAM

Beberapa bulan lalu, SALAM mengadakan acara inisiasi untuk para orang tua calon warga belajar tahun ajaran 2022. Acara yang diadakan pada Senin, 28 Maret 2022 itu berlangsung mulai jam 15.00 hingga 18.00. Acara inisiasi orang tua, bukanlah hal baru di SALAM. Pembekalan untuk para orang tua calon warga belajar SALAM merupakan agenda setiap tahun ajaran baru.

Saya berangkat menuju SALAM bersama dengan suami dan kedua anak kami. Sore itu angin bertiup kencang disusul dengan gerimis. Tak ada keinginan untuk absen dari acara yang sudah kami ikuti setidaknya empat kali. Inisiasi pertama kami, tahun 2016 saat anak pertama masuk kelas Kelompok Bermain SALAM. Tahun ini, kami kembali ikut inisiasi karena anak kedua mendaftar SD SALAM dan anak ketiga mendaftar Kelompok Bermain SALAM.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, parkiran terlihat penuh. Artinya, para peserta inisiasi sudah hadir meski langit Jogja diselimuti mendung dan gemuruh petir terdengar berkali-kali. Benar saja, saat kami memasuki ruang Limbuk-Cangik, terlihat para orang tua sudah duduk manis. Sebagian dari mereka terlihat sebagai wajah baru bagi saya. Sebagian lagi, wajah-wajah lama yang anaknya memilih untuk masih terus melanjutkan dunia bermain sambil belajarnya di SALAM.

Dua tahun dengan kegiatan luring yang amat sangat minimalis akibat pandemi membuat saya merasa bersemangat untuk hadir. Potluck berupa buah jeruk yang dibawa oleh suami saya telah diserahkan ke petugas di meja penerima potluck. Bu Eni dan Bu Pantja, dua fasilitator yang Kelompok Bermain yang bertugas di meja potluck terlihat sedang menata kumpulan kudapan yang dibawa oleh para orang tua. Ada beberapa fasilitator lain juga yang ada di dekat Bu Eni dan Bu Pantja. Mereka menyapa para orang tua, menerima potluck, dan menata di meja untuk nantinya  diambil secara prasmanan.

Bagi para orang tua yang sudah pernah bergabung sebagai warga belajar SALAM, mengikuti inisiasi bermanfaat sebagai ajang silaturahmi dengan bonus penyegaran ingatan akan landasan SALAM. Terlihat beberapa orang tua lama yang asik berbincang dan saling sapa dengan kawan lama, termasuk saya. Sementara beberapa orang tua lain terlihat  duduk, diam, menyimak, dan mencatat hal-hal yang disampaikan oleh Ibu Sri Wahyaningsih, Pak Gemak, dan para fasilitator.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, Ibu Sri Wahyaningsih membuka dengan pengenalan tentang SALAM secara umum. Dalam paparan awal beliau, ada satu hal penting yang menurut saya menarik dan selalu menjadi dasar yang harus diperhatikan sebelum menelaah dan mempraktikkan berbagai konsep ke-SALAM-an. Ibu Sri Wahyaningsih menegaskan bahwa SALAM tidak menggantikan peran orang tua sebagai pemilik hak asuh atas anak. Dengan kata lain, SALAM membuat batas yang tegas perihal perannya sebagai fasilitator belajar tanpa menjadi tempat penitipan anak.

Saya tersenyum mendengarnya. Selama menjadi bagian dari keluarga SALAM, saya sadar bahwa SALAM bukan sekadar tempat belajar untuk anak. Lebih dari itu, SALAM malah menjadi sanggar belajar untuk para orang tua. Tentu saja pelajaran bagi para orang tua tidak ada kelasnya dan tidak ada pula  raportnya. Apa yang disampaikan Ibu Sri Wahyaningsih adalah “mata pelajaran” pertama. Menurut saya, SALAM dengan tegas telah menolak menjadi lembaga penitipan anak berlabel sekolah.

Memilih SALAM sebagai lingkungan belajar artinya secara sadar memilih untuk mengambil porsi besar dalam mendidik dan mengasuh anak. Hal ini seharusnya merupakan hal yang lumrah dan natural. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan manusia modern untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik, kadang orang tua melupakan hal yang mendasar itu. Alih-alih mengambil peran utama sebagai pendamping belajar anak, orang tua modern seringkali memilih menitipkan anak pada “ahlinya” untuk dicetak menjadi manusia-manusia dengan berbagai keahlian sesuai kualifikasi industri.

Walau faktanya demikian, namun orang tua modern seringkali mengelak jika disebut menitipkan anak pada sekolah. Dalam hal ini orang tua punya berbagai alasan yang dianggap rasional. Memang benar bahwa dalam kenyataannya, orang tua juga harus bekerja untuk mendapat penghidupan yang baik. Hasil kerja orang tua tersebut dipakai untuk membiayai pendidikan anak. Lalu, karena sudah bayar, muncullah normalisasi tentang siapa yang punya beban tanggung jawab atas pendidikan anak. Tentu saja, yang dianggap bertanggung jawab terhadap pendidikan anak adalah sekolah.

Normalisasi penitipan anak dengan dalih pendidikan memang sudah berjalan lama dan nyaris tak ada yang keberatan dengan itu.

Kritik terhadap orang tua modern yang menggantungkan pendidikan hingga pengasuhan anak pada sekolah seringkali dipandang sebagai kritik yang tak realistis. Pada umumnya, sekolah pun juga menunjukkan kebanggaan diri terhadap kemampuannya dalam mencetak “generasi unggul”. Tengok saja ruang pamer piala yang biasanya menghias pintu masuk utama di berbagai sekolah.

Hari-hari menjelang tahun ajaran baru sudah terlihat hilalnya. Sehabis libur Lebaran ini, para orang tua akan disibukkan dengan kegiatan memilih sekolah bahkan mungkin sebagian sudah mulai membayar uang pendaftaran masuk sekolah. Di SALAM, selain inisiasi, aneka workshop pendukung untuk para orang tua yang ingin terlibat lebih dalam pada proses belajar anak sudah diberikan. Salah satunya, workshop untuk membuat jurnal anak yang dilanjutkan dengan workshop tentang daur belajar.

Setelah mengikuti kedua workshop tersebut, saya berpikir bahwa setiap orang tua memang punya hak untuk memutuskan sejauh mana ia ingin mengambil peran sebagai pendamping. SALAM telah memberikan fasilitas yang sangat serius untuk mereka yang ingin terlibat lebih mendalam. Namun, SALAM juga tak lantas mendikte para orang tua tentang apa saja yang harus orang tua lakukan sebagai pendidik pertama di rumah.

Sayangnya tak semua instansi pendidikan dapat memberikan fasilitas yang mengundang keterlibatan orang tua secara aktif seperti SALAM. Seringnya orang tua baru punya jalur komunikasi khusus saat anaknya “bermasalah”. Konflik di sekolah umum memang biasanya baru terasa ketika sekolah dan orang tua bertemu dengan fakta bahwa tak semua anak punya karakter patuh dan mudah dituturi.

Anak-anak dengan label nakal, mbeling, dan ngeyel sesungguhnya adalah kritik yang nyata bagi lembaga pendidikan konvensional. Anak-anak yang oleh lingkungannya diberi label demikian seringkali tersisih dan pada akhirnya dikembalikan kepada orang tua. Kata dikembalikan saja sudah merupakan bentuk kesalahan besar. Memangnya sekolah meminjam anak tersebut? Kok, dikembalikan segala?

Harus diakui bahwa pendidikan dan pengasuhan anak memang tak bisa terlepas dari tatanan sosial terkini. Mau tidak mau, orang tua akan berkompromi dengan situasi masing-masing. Bagaimana pun, keputusan pertama tetap ada di tangan orang tua. Maka sebagai bahan refleksi, kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing. Masih bisakah orang tua tetap konsisten untuk menjadi pihak yang bertanggungjawab penuh akan perkembangan dan pendidikan anak-anak?