INS Kayutanam

Sekolah merupakan salah satu pranata dasar untuk membebaskan manusia dari kondisi awidya (ketidaktahuan), kebodohan, dan kemiskinan, juga menjadi instrumen pembebasan manusia supaya mampu mengaktualisasi diri. Maka, sekolah memiliki peran strategis untuk meningkatkan martabat dan kualitas kemanusiaan. Pendidikan juga kunci bagi martabat suatu bangsa untuk melahirkan  sumber daya unggul bagi bangsa dan negara.

20161014-kayutanam-01

Sayang, sebagian sekolah di Indonesia kerap keliru menerjemahkannya dalam paradigma yang sangat teknis dan teknokratis, seperti keharusan menggunakan bahasa Inggris, menghafal mati materi demi nilai tinggi, dan sebagainya.

Celakanya, kekeliruannya meluas sehingga menjadi standar yang seragam di banyak sekolah. Akibatnya, sekolah-sekolah gagal menjadi progresif sebagai wahana anak didik membangun diri sesuai dengan potensi.

Padahal, model pendidikan tadi dikecam habis-habisan oleh Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas sebagai banking education alias pendidikan ala bank.

Model ini mau “menabungkan” saldo ilmu pengetahuan ke dalam kepala murid agar dapat didebit saat diperlukan. Anak didik hanya dijejali ilmu secara satu arah dengan tujuan mendapat nilai-nilai tinggi. Jelas, model demikian tak bisa dikatakan membebaskan.

Bangsa ini perlu mencari model pendidikan yang menganut progresivisme dan memiliki fungsi pembebas. Menurut Ellis, Cogan, dan Howey dalam Introduction to Foundations of Education (1991) progresivisme adalah paradigma yang menganggap guru sebagai challenger and inquiry leader (sebagai pengkritik dan pemandu penelitian).

20161014-kayutanam-02

Di sini, guru mendidik murid agar bisa memecahkan masalah yang selalu berubah di zaman yang dinamis. Tujuan lain agar murid mengenal beragam pengalaman sosial konkret.

Guru yang baik memandang murid sebagai pembelajar yang mampu berpikir mandiri dan menelusuri minat atau kebutuhannya sendiri. Guru berperan sebagai pembimbing dalam mencari solusi masalah murid. Dia membantu murid mendefinisikan masalah yang penting, mencari sumber data yang relevan, menafsirkan, menilai keakuratan data, dan merumuskan kesimpulan.

Selain itu, guru wajib memahami saat murid memerlukan petunjuk selama penelitian berlangsung. Selalu Aktif Model demikian sudah pernah dirintis di dalam negeri: Indonesisch Nederlandsche School (INS) Kayutanam di Sumatra Barat. INS Kayutanam adalah sekolah yang didirikan Engku Mohammad Sjafei pada 31 Oktober 1926.

Sekolah mau menjawab pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepala Sjafei, “Bagaimanakah corak pendidikan dan pelajaran yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia untuk mencerdaskan otaknya?” Dengan kata lain, Sjafei ingin mencari model pendidikan yang berpijak pada kebudayaan bangsa, namun juga tak terkucil dari pergaulan dunia luar.

Kemudian lahirlah INS Kayutanam yang berbasiskan pada asumsi filosofis bahwa hakikat alam senantiasa aktif alias bekerja (Mohamad Sjafei dalam Akal Aktif sebagaimana dikutip dari Otobiografi AA Navis, Gramedia, 1995). Maksudnya, anak didik harus dikondisikan supaya selalu aktif otak dan otot.

Aktif otak terwujud dalam pikiran bebas yang tidak patuh buta terhadap otoritas serta tidak mengedepankan otot, sementara aktif otot tercurah dalam keterampilan praktis yang siap guna untuk mencari penghidupan serta memecahkan masalah sehari-hari.

Singkat kata, konsep ini begitu selaras karena memadukan antara ilmu dan praktik; ide dan aksi; cerdas otak dan cerdas otot.

Berbekal filosofi ini, kegiatan olah raga dan berbagai praktik kerajinan, pertukangan, atau kesenian yang diajarkan di INS Kayutanam bukanlah tujuan itu sendiri. Semua sekadar alat untuk mengembangkan akal (intelek), emosi, kemauan, dan daya kreatif.

20161014-kayutanam-03

Sjafei pun mempraktikkan pemikirannya secara konsisten. Contoh, Sjafei pernah membebaskan murid dari hukuman karena dia dapat berargumen sangat masuk akal.

Selanjutnya, Sjafei mengarahkan anak didiknya untuk berdikari dan menjadi pengusaha untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia. Karenanya, Sjafei membolehkan siswa mengambil kelas keterampilan sesuai dengan minat dan bakat masing- masing seperti pertukangan, memahat, teater, dan musik.

Anak didik pun merasa senang karena minatnya demikian dihargai dan bebas menentukan nasib. Saking luasnya kebebasan, para guru INS Kayutanam sampai-sampai tidak memaksakan teori atau minat tertentu. Mereka hanya membimbing dan mengarahkan secara teknis.

Guru berperan layaknya seorang teman, atau bahkan kakak. Hasilnya, murid-murid tumbuh menjadi pribadi yang pintar, terampil, mandiri, dan berdikari secara ekonomi. Mereka percaya diri, prigel bekerja, dan memiliki wawasan kebangsaan yang luas.

Pendeknya, mereka menjadi pribadi yang merdeka. Para alumnus INS Kayutanam antara lain tokoh sastrawan AA Navis, mantan menteri Orde Baru Bustanil Arifin, pemikir militer Hasnan Habib, pelukis Zaini dan Mara Karma. INS Kayutanam memiliki prinsip-prinsip, di antaranya prinsip dialog rasional.

Guru mendidik murid dengan metode dialog berdasarkan rasio atau nalar ketimbang menjejali kepala murid dengan pengetahuan satu arah. Prinsip learning by doing (belajar lewat praktik). Pendidik seyogianya “menceburkan” murid untuk langsung beraktivitas atau praktik di lapangan. Biarkan mereka jatuh-bangun. Yang penting didampingi dan dituntun mencari solusi.

Sekaligus, ini menumbuhkan daya lenting dan sikap profesional dalam bekerja. Kemudian ada prinsip memperhatikan kebutuhan khusus murid. Ini penting karena setiap individu berbeda dan unik. Pendidik harus memperhatikan kebutuhan dan potensi tiap siswa.

20161014-kayutanam-04

Jadi, metode pelajaran guru haruslah inklusif alias merangkul semua murid dengan segala keunikan dan kebutuhan khususnya masing-masing. Tidak ada model yang seragam. Itulah sebabnya para pendidik INS Kayutanam membebaskan murid mengambil mata pelajaran yang mereka sukai.

Prinsip pendidik sebagai teman agar belajar menyenangkan (learning is fun). Belajar di INS Kayutanam begitu menyenangkan, laiknya permainan, sampai-sampai setiap murid tanpa menyadari dapat dengan cepat menyerap pelajaran. Berdasarkan keempat prinsip dasar warisan INS Kayutanam, semoga INS Kayutanam menjadi inspirasi untuk menjalankan model yang membebaskan.

Itulah model pendidikan yang memungkinkan anak didik berkembang menjadi generasi masa depan yang beradab, kreatif, mandiri, unggul, profesional, dan matang secara mental.