Kaum Erudite, Terpelajar

Kaum terpelajar, menurut almarhum penyair W.S. Rendra, adalah mereka yang “berumah di angin”. Kaum terpelajar mengambil jarak agar senantiasa dapat mengamati dan mempelajari perkembangan di masyarakat dengan objektif dan saksama. Mereka tidak terjun dalam rutinitas persoalan keseharian agar ide-ide yang mereka sumbangkan dapat mewakili kepentingan semua golongan, dengan kesegaran dan ketajaman yang genuin.

Memang, dari waktu ke waktu, manakala kondisi masyarakat membutuhkan, kaum terpelajar akan terpanggil untuk turun gunung, meninggalkan kesunyian dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Bahkan, oleh sejarah mereka diharuskan untuk memimpin masyarakat; berjuang dan berkorban demi mencapai tujuan-tujuan yang mendesak. Dalam sejarah, tokoh-tokoh terpelajar yang memainkan peran semacam itu tercatat dengan tinta emas.

Penyair (Alm) W.S Rendra memang benar, rumah kaum terpelajar berada di angin. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa jika kaum terpelajar memutuskan untuk melangkah dari balik awan dan turun menginjak bumi, maka perubahan-perubahan bisa terwujud. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia sebenarnya layak bersyukur dan sudah semestinya bersyukur. Sebab, para pendiri dan pelopor gerakan kemerdekaan kita pada umumnya adalah kaum terpelajar, kaum penulis, dan pembaca buku. Banyak di antara mereka adalah penggemar karya-karya besar kesusastraan.

Melalui puisi, roman, dan esai, para pendiri negeri kita memahami dan mengagumi kehidupan, serta menyerap semangat zaman yang mempertautkan perasaan individu-individu yang dipisahkan oleh gunung, samudra, benua, hingga oleh garis demarkasi dan batas politik. Melalui karya-karya pemikiran pula, kaum terpelajar mendefinisikan diri dan peran mereka serta tujuan besar yang harus mereka capai, yaitu lepasnya belenggu penjajahan di gugusan Zamrud Khatulistiwa ini. Oleh karena itu, riwayat perjalanan gerakan kemerdekaan kita sesungguhnya membuktikan kebenaran sebuah adagium klasik : sejarah digerakkan oleh impian, harapan, dan gagasan (cita-cita).

Berawal dari ide dan cita-cita, generasi Bung Karno dan Bung Hatta “menggerakkan” gunung, mewujudkan sebuah negeri dengan beragam suku dan bahasa, beribu pulau, dan sejarah-sejarah lokal yang terkadang sering bersilangan. Terpukau oleh pemikiran yang bersinar di zamannya, mereka membangun harapan. Dengan harapan, mereka mencari dan menemukan ide-ide cemerlang, yang menjadi landasan konsepsional berdirinya Indonesia sebagai suatu negara modern.

Kita ingin agar kaum tepelajar tidak hanya mengenang sejarah yang sudah lewat, atau gagasan-gagasan besar yang sudah lama mati. Kita justru ingin agar kaum pemikir dan penulis semakin muncul menghiasi panggung publik di tanah air dengan ide-ide dan gagasan segar serta dapat membangkitkan harapan. Peran kaum pemikir, ilmuwan, dan sastrawan juga amat diperkukan untuk melengkapi dan memperkaya kehidupan itu sendiri. Setelah proses politik yang panjang, hidup masyarakat harus kembali ke zaman “normal”. Bahkan, dalam proses politik yang intens sekalipun, sesungguhnya hidup dan kehidupan sehari-hari harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Hidup tidak boleh bertumpu hanya pada pengelolaan kekuasaan serta pencarian kesejahteraan semata. Proses perubahan politik dan pergerakan roda ekonomi memang layak untuk diperhatikan secara saksama. Namun, semua itu tidak perlu menghilangkan kepekaan kita pada keindahan, bahkan terhadap hal-hal sederhana seperti mekarnya kuncup bunga. Kepekaan pada kehidupan dan rasa yang tajam pada keindahan adalah salah satu dimensi kehidupan yang hakiki : it is what makes life worth living.

Oleh karena itu, kita berharap bahwa dorongan-dorongan untuk mencipta dan berkarya pada kaum terpelajar kita menjadi lebih besar lagi. Ini agar kita semua, terutama generasi muda bisa memperoleh inspirasi tentang kehidupan serta mengerti dimensi-dimensi yang paling substansial, paling halus, dari kehidupan itu sendiri. Selain bertumpu pada sesuatu yang indah, hidup dan kehidupan yang utuh juga harus bertumpu pada sesuatu yang benar. Dalam hal inilah peran kaum terpelajar dalam segala bidang ilmu menjadi penting. Pada dasarnya, ilmu adalah sebuah metode pencarian kebenaran, baik kebenaran yang bersifat natural maupun kebenaran yang bersifat sosial dan etis.

Pencarian kebenaran melalui metode keilmuan memang tidak pernah akan berakhir. Tidak ada jawaban besar yang bisa memuaskan segala pertanyaan di setiap zaman. Namun, dengan metode keilmuan, manusia dapat memuaskan dahaganya untuk tahu, untuk mengerti lingkungan sekitarnya, serta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan paling substantif dalam hidupnya secara lebih sistematis dan bertanggung jawab.

Manusia modern tidak boleh terkungkung dalam penjara tradisi; dalam warisan-warisan budaya masa lalu; atau dalam bentuk apapun. Ia tidak boleh puas berada dalam gelap, bersembunyi di balik tabir dan bayang-bayangnya sendiri, tanpa pernah melihat matahari. Sebab, seseorang yang membiarkan dirinya sendiri dalam kegelapan akan tertinggal oleh zaman, bahkan akan ditinggal oleh bayangannya sendiri. Manusia ingin mendapat pemahaman, dan dalam proses pemahaman itu ia mengubah lingkungan sekitarnya menjadi lebih baik, tentu setelah mengubah dirinya sendiri. Dalam hal inilah, proses pencarian kebenaran berhimpitan dengan proses perkembangan masyarakat. Hanya masyarakat yang berilmu dan terpelajar yang dapat melangkah maju.

Ada film berjudul Divergent yang menarik untuk bahan refleksi terkait dengan penggolongan manusia, terutama kaum terpelajar yang belum tentu berperan seperti yang diungkapkan almarhum WS. Rendra—justru malah sebaliknya *****

Kisah ini berlangsung di kota Chicago dimasa sehabis perang nuklir. Ada upaya dan keyakinan bahwa di masa depan, kehidupan manusia tidak sama lagi seperti saat ini. Manusia akan dibagi menjadi lima kategori menurut kepribadian mereka masing-masing. Kelima kategori itu yakni: Abnegation untuk orang-orang yang suka menolong, tidak mementingkan diri sendiri dan tanpa pamrih, Amity untuk orang-orang yang cinta perdamaian, Candor untuk orang-orang jujur, Dauntless untuk orang-orang pemberani; dan  Erudite untuk orang-orang cerdas terpelajar.

Setiap anak yang menginjak usia remaja, mereka akan diberi kesempatan untuk memilih apakah ingin tetap di ketegori mereka atau pindah ke kategori lain. Namun, ada juga pengecualian bagi seseorang yang tidak masuk dalam lima kategori tersebut yang disebut “Divergent”. Biasanya mereka yang masuk kategori ini adalah mereka yang memiliki beragam kepribadian unggul dalam dirinya.

Menurut pihak yang berkuasa, kategori divergent ini dianggap bisa membahayakan eksistensi manusia yang sudah ada. Perintah pun disebar untuk menyingkirkan para divergent yang ada di muka bumi ini.

Seorang gadis enam belas tahun bernama Beatrice Prior terlahir dari keluarga Abnegation. Harus mengikuti tes penentuan kategori dan gabung dalam faksi. Dia harus memilih meninggalkan faksi ini yang berarti meninggalkan orang tuanya, membuang namanya untuk hidup bersama faksi yang baru atau tetap tinggal menjadi faksi ini ,

Saat menjalani tes, betapa terkejutnya Beatrick ternyata termasuk golongan divergent. Sang pengetes memberi peringatan ke Beatrick jika ia harus merahasiakan hasil tes ini atau dia akan celaka.

Beatrice memutuskan untuk pindah ke faksi Dauntless. Namun, Tris harus lulus tes inisiasi terlebih dulu agar bisa diterima ke Dauntless. Tak ada jalan kembali. Tak lulus inisiasi berarti Tris akan bergabung dengan orang-orang yang terbuang dan hidup menggelandang. Para calon Dauntless harus saling bertarung dan akhirnya, hanya sepuluh orang saja yang akan diterima sebagai anggota.

Beatrice mengganti nama dirinya Tris dan berteman dengan beberapa anak transfer lainnya. Tris berusaha keras untuk mempertahankan diri di Dauntless, tetapi ia selalu menjadi peringkat terbawah tetapi akan usahanya ia berhasil masuk sepuluh besar meski itu sangat sulit ia lalui hingga hampir dibunuh oleh temannya sendiri.

Malam berikutnya, ketika akhirnya diputuskan sebagai anggota Dauntless. Seluruh anggota Dauntless disuruh berkumpul dan berbaris dan di leher mereka disuntikkan sebuah serum—serum itu dibuat untuk mempengaruhi otak agar menuruti semua perintah dari bos mereka yakni berani menghancurkan abnegation di mana itu semua adalah faksi orang tua Tris. Ternyata hanya seorang divergent yang tidak terpengaruh oleh suntikan serum itu.


Serum tidak bekerja pada Tris maupun Four karena keduanya divergen. Setelah tiba di kompleks penyangkalan, Tris dan Four mencoba untuk melepaskan diri dengan cara melarikan diri. Saat usaha itu dia dibantu oleh kedua orang tuanya dan kakaknya.

Mereka berusaha untuk menghentikan kinerja serum yang sedang mempengaruhi seluruh anggota Dauntless yang digunakan bos mereka untuk membunuh para Abnegation. Tapi betapa naasnya, orang tua Tris terbunuh dan Four orang yang dicintai Tris tengah terpengaruh oleh serum itu. Tetapi akhirnya didetik terakhir Four tersadar dan mereka dapat menghentikan kinerja serum itu dan dapat melarikan diri dengan selamat.

Divergent Sebangun dengan The Hunger Games?

Sejauh mata memandang padang rumput di tanah kerontang, sungai yang mengering, didekat batas sebuah bangkai kapal terdampar di daratan yang kerontang. Demikian pemandangan di luar Kota Chicago masa depan yang dikelilingi tembok.Di dalam kota sebagian gedung-gedung runtuh dan rusak berat, sebagian lagi masih utuh dan ada yang megah berdiri.Demikian opening scene yang menarik dari film Divirgent bahwa peperangan menghancurkan sebagian besar dunia –tentunya tanpa dijelaskan oleh narasi.Saya hanya bisa menduga disebabkan senjata pemusnah massal.

Alkisah untuk menjaga perdamaian manusia yang tersisa di Chigago terbagi oleh lima faksi yang sesuai kharakternya. Faksi pertama Erudite masyarakat yang memiliki pengetahuan digambarkan bekerja di laboratorium atau perpustakaan. Faksi kedua Amity atau penganut kedamaian, masyarakatnya bekerja di lahan pertanian. Faksi ketiga Candormenganut kejujuran dipercaya untuk mengawasi hukum dan keadilan. Faksi keempat adalah Dauntless atau keberanian digambarkan segerombolan orang yang meloncat kereta api berjalan,memanjat tiang tanpa pengaman dipercaya sebagai tentara yang menjaga kota termasukdi perbatasan.Sementara faksi kelima adalah Abnegation mempunyai sifat tidak egois, pengasih, selalu membantu orang lain.Termasukmereka yang digolongkan non faksi.

Apakah pembagian faksi ini terinspirasi pada pembagian kasta? Sepanjang film yang diangkat dari novel karya Veronica Roth ini tidak merincinya. Yang saya tangkap kelima faksi ini sederajat hanya punya fungsi sosial berbeda.Tetapi jelas orang-orang yang digambarkan non faksi begitu papa mirip kaum paria.Kaum Paria yang dilayani oleh Abnegation yang selalu memakai pakaian abu-abu agar tidak menarik perhatian dan hanya mengabdi pada kemanusiaan.Karena sifatnya yang tidak egois dan selalu meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi,faksi ini dipercaya memegang pemerintahan.Pemimpinnya adalah Marcus (Ray Stevenson) orang berpenampilan sederhanadan rendah hati. Hanya dia kerap dilanda gosip pribadi menyangkut anaknya.

Saya kembali terhenyak.Apakah mungkin erudite adalah simbol dari kaum teknokrat, corporate? Apakah abnegation adalah kaum sosialis? Amity jelas kaum petani, peternak, candor penegak hukum, mungkin juga kaum intelektual. Dauntless jelas militer. Namun etiknya di awal fillm hingga pertengahan tunduk pada pemerintahan sipil bukan kaum pretorian (militer yang melaksanaan kekuasaan politik) . Gagasan-gagasan di awal film ini menarik kalau memakai sudut pandang politik. Pemerintahannya pun tampaknya di awal demokratis. Ideologi Amerika sekali.

Cerita bergulir memperkenalkan perempuan bernama Beatrice Prior (Shaylene Woodley) berusia 16 tahun dari keluargadari Faksi Abnegation bersiap mengikuti tradisi “Choosing Ceremony” untuk menentukan apakah mereka akan melanjutkan hidup di faksi yang sama atau pindah ke faksi lain alias meninggalkan keluarganya. Mulanya Beatrice mengira bakal kembali ke keluarganya dan begitu juga kakaknya.

Pada waktu tes yang digambarkan menarik seorang diberi obat untuk berhalusinasi Beatrice menghadapi anjing ganas berukuran besar dan tiba-tiba menjadi anjing kecil jinak. Hasil tes menunjukkan bahwa Beatrice memiliki tiga sifat sekaligus Abnegation, Dauntless dan Erudite. Itu artinya dia orang yang tidak dikehendaki atau divergent (kelainan).Namun oleh Tori (Maggie Q) yang mengetesnya dianjurkan untuk diam dan tidak menceritakan hasil tesnya. Scene acara “choosing ceremony” mengingatkan semacam kuis di televisi para peserta terbagi lima kelompok di panggung mirip studio disusun bagian belakang di atas dan bawah di depan.

Cerita bergulir Beatrice akhrinya memutuskan untuk masuk kekelompok Dauntless dan lulus iniasiasi yang dilakukan kelompok itu. Dia mengganti namanya menjadi Tris. Di sana dia bertemu Christina (Zoe Kravitz), kadet Dauntless dari faksi lain, Four (Theo James)salah seorang mentornya. Masa inisiasi di Dauntless begitu panjang dan Tris harus bisa mengerem dirinya agar hanya ditebak sebagai Dauntless bukan punya sifat faksi lain, terutama dari oligarki penguasa, seperti Jeanine (Kate Wintslet) semacam senator (dari Erudite) yang begitu anti divergent. Sampai saat Tris menghadapi kenyataan dia bukan satu-satunya divergent. Sementara Erudite ingin melakukan kudeta terhadap Kaum Abgenigation dengan memperalat kaum Dauntless. Bukan saja Tris terancam tetapi juga keluarganya.

Saya kembali terhenyak apakah Erudite ini sindiran terhadap koorporate yang memperalat militer dengan dalih demi ketertiban umum? Ucapan Jeannie dalam sebuah adegan cukup menggambarkan dia adalah totaliter : Sifat dasar manusia pengasih membuat lemah adalah ancaman bagi tatanan masyarakat. Simak juga kata-kata faksi di atas keluarga mirip doktrin.

Gagasan dasar Divergent sebetulnya menarik. Gagasan ini menurut saya serupa dengan gagasan dalam The Hunger Games. Film yang diangkatdari novel karya Suzanne Collins berjudul sama berkisah tentang dunia masa depan juga pasca perang negara Palem,yang punya 12 distrik dengan sebuah tradisi yang kejam atas nama untuk perdamaian. Penguasanya juga anti kemanusiaan walau dia Presiden. Katniss tokoh utamanya (Jeniffer Lawrence) juga digambarkan berusia belasan tahun akhirnya menentang sistem itu karena sebetulnya dehumanisasi.

The Hunger Games dan Divergent sama-sama menyuarakan anti totaliter (hanya saja yang satu terselubung), tokoh jagoannya sama-sama perempuan belasan tahun.Tris dan Katniss sama-sama punya cinta dengan seorang cowok lazimnya gadis remaja. Seperti halnya The Hunger Games,Divergent sejak awal bisa saya tebak ada lanjutan ceritanya.Cukup mencengankan apa yang disuarakan dua penulis novel ini apakah mereka memprediksi Amerika kelak menjadi totaliter bentuk baru, ketakutan akan keruntuhan demokrasi di Amerika atau anti kekerasan?

NamunShaylene Woodleysama berhasilnya dengan Jeniffer Lawrence menjadi jagoan perempuan. Hanya saja Divergent kurang berhasil menjelaskan secara kongkrit seperti apa ancaman kelompok Divergent ini kalau mereka dibiarkan? Kalau dalam The Hunger Games jelas Katniss ancaman karena dia bisa menjadi mocking jay atau pemicu pemberontakan terhadap sistem. Boleh dibilang Katniss berpotensi semacam Ratu Adil melawan pemerintahan yang zholim. Apakah Divergent juga bisa ditafsirkan oleh oligarki penguasa menjadi semacam itu? Memang sekuelnya bisa menjawab.

Baik The Hunger Games (sampai sekuel keduanyaThe Catching Fire) maupun Divergent juga menyisakan lubang seperti apa dunia di luar lingkaran mereka? Kalau dalam The Hunger Games duania di luar 12 distrik (sekalipun disebutkan ada distrik ke 13) dan dalam Divergent dunia di luar tembok. Apakah kehancuran yang begitu hebatnya hingga tak tersisa di luar? Atau penguasa menyembunyikan informasi untuk rakyatnya?

Baik The Hunger Games dan Divergent terasa feminis. Perempuan bukan saja mandiri, berani menagmbil keputusan bahkan lebih bijak dari kaum laki-lakinya. Hanya saja dalam The Hunger Games tokoh antagonisnya laki-laki sementara dalam Divergent adalah perempuan yang berhati besi. Kate Winslet bagi saya cukup dingin dan lalim sebagai pemeran Jeanine dalam Divergent. Aktingnya dalam Titanic, The Reader, Ethernal Sunshineof The Spotless Mind menunjukkan kemampuannya menyelami beraneka macam kharakter. []