Membaca sebuah buku kadang bukan sekadar menyerap isi, melainkan turut mengendap di dalamnya, seperti tanah basah yang membiarkan hujan pertama meresap hingga ke lapisan yang paling dalam. Buku tentang pendidikan yang dibaca ini barangkali bukan disusun untuk menjadi “kanon besar” dalam filsafat pedagogi, namun justru karena itulah ia mencuri perhatian: sederhana, jujur, dan nyaris intim.

Ada kalimat yang membuat saya berhenti sejenak: bahwa menjadi pendidik adalah “jalan ninja” yang super duper penting. Frasa ini, walau terdengar kekanak-kanakan, justru membongkar kesadaran kita yang dewasa bahwa profesi guru telah lama kehilangan aura petualangannya. Dunia pendidikan kita begitu lelah dengan jargon “transformasi digital,” “kurikulum merdeka,” dan akreditasi yang membuat guru lebih sering mengisi formulir ketimbang membakar semangat murid-muridnya. Maka ketika seorang penulis menyebut profesi ini sebagai “jalan ninja,” saya justru teringat pada para Ronin — para samurai tanpa tuan — yang dengan setia memegang pedang batinnya untuk melindungi nilai-nilai luhur yang perlahan ditinggalkan.
Dalam lembar-lembar awal, penulis menyodorkan WS Rendra, bukan sebagai penyair untuk dibaca, tapi sebagai suara yang menggugah. “Seonggok jagung di kamar,” puisi yang tidak dimaksudkan untuk guru, namun malah terasa sangat relevan: pendidikan yang seharusnya membebaskan, kini justru menciptakan sekian banyak penjara baru — kurikulum, nilai ujian, dan ranking. Pendidikan lalu menjadi sebuah pabrik, bukan ladang subur.
Nama penulisnya, terasa asing. Tapi bukankah dunia pendidikan kita memang penuh dengan tokoh-tokoh penting yang tidak pernah menuntut panggung? Justru karena mereka tidak tampil di televisi atau menjadi bintang seminar, kita bisa mempercayai kesungguhan mereka. Buku ini adalah yang kedua bagi penulis tentang SALAM, komunitas belajar yang mungkin kecil secara geografis, tapi besar dalam gagasan. Di Nitiprayan, sebuah desa yang tak tercatat dalam peta wacana nasional, pendidikan dijalankan seperti ibadah yang inklusif: tidak hanya anak-anak yang belajar, tapi juga orang tua, tetangga, dan mungkin juga pedagang gorengan di ujung jalan.
Membaca uraian tentang Pasar Senin Legi dan Angkringan Pak Wongso, saya merasakan sesuatu yang langka dalam tulisan-tulisan tentang pendidikan: latar. Biasanya, pendidikan dibahas dalam ruang steril, seperti ruang sidang universitas. Tapi di sini, pasar dan angkringan menjadi bagian dari kurikulum. Pendidikan yang tidak tercerabut dari denyut kehidupan sehari-hari. Ini mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis Paulo Freire: pendidikan sejatinya bukan soal transfer pengetahuan, tapi soal dialog — dan dialog tak pernah terjadi di ruang kedap.
Membaca buku ini seperti memasuki ruang konseling yang pelan-pelan membebaskan. Kita yang guru, pengajar, dosen, atau bahkan orang tua, tak harus terus-menerus memosisikan diri sebagai yang tahu. Kita diperbolehkan untuk sesekali meraba tanah, menyeka keringat, dan membiarkan diri belajar kembali — dari anak-anak, dari pasar, dari hujan yang turun di Nitiprayan—dari seorang guru yang tak terkenal, tapi tak henti mengajak kita “nurturing curiosity” — sebuah khitah pendidikan yang terlupa karena kita terlalu sibuk ingin terlihat pandai.
Dari situlah letak harapan yang tersisa bagi dunia pendidikan kita—bukan pada kementerian, bukan pada kurikulum, bukan pula pada para pemilik gelar panjang di belakang namanya—melainkan pada orang-orang seperti penulis buku ini, yang diam-diam menanam, menyiram, dan membiarkan pohon tumbuh tanpa gegap gempita.
Sebab pendidikan, pada akhirnya, bukan soal membuat anak-anak pintar menjawab soal, tapi membuat mereka tak pernah lelah bertanya. Dan di antara kegaduhan negeri yang sibuk dengan akreditasi dan ranking, buku ini mengingatkan kita bahwa membumi bukan berarti kalah, justru barangkali di sanalah kemenangan sejati seorang pendidik ditemukan: saat ia tak merasa perlu jadi siapa-siapa, kecuali menjadi teman seperjalanan dalam belajar menjadi manusia.[]
Pakem, 16 Juli 2025

pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply