Blog

“Sekolahmu Sekolahku Sekolah Kita: Mbok Ya Diganti Arah”

Pendidikan itu bukan urusan jumlah murid. Arep rong puluh, patang puluh, opo seket, yo sak karepmu!
Pendidikan itu ya… urusan hidup. Bukan sekadar administrasi ruang kelas. Bukan juga barisan kursi yang ditata rapi kayak showroom mobil, terus diisi anak-anak yang dijejali buku seperti tempe dibungkus daun pisang. Masalahnya, kita ini terlalu lama didikte oleh “bisnis jasa pengajaran” yang menyamar jadi sistem pendidikan. Coba tengok, siapa sekarang yang paling getol bicara soal kualitas pendidikan? Guru? Orang tua? Anak-anak? Ora… Tapi justru pengusaha-pengusaha kurikulum, developer e-learning, dan pemborong gedung sekolah. Sekolah jadi mall. Murid jadi pelanggan. Guru? Kadang cuma jadi SPG – staf penjual gelar.

Sing ora sekolah nang Indonesia, malah ngerti kunci pendidikan yang bener.
Dia bilang, “What works, and what cost.” Gedung sekolah mewah? Skor dampaknya cuma segitu-gitu aja. Pengurangan jumlah murid? Biayanya gede, hasilnya minimal. Yang nguntungke sopo? Kontraktor. Yang rugi? Anak-anak sing kangen dolanan, guru-guru sing ketekuk tenggat waktu.

“Mbok yo dijak ngomong, ojo mung didongakke” Anak itu bukan gelas kosong yang harus diisi. Mereka itu gelas yang kadang sudah berisi, cuma kita yang tidak pernah tanya isinya apa. Bukan cuma angka di atas kertas yang membuat orang tua senyum atau uring-uringan. Feedback adalah dialog. Bukan monolog satu arah dari guru. Tapi jalinan rasa antara yang belajar dan yang mengajar.

Dengan feedback yang benar—yang manusiawi, jujur, dan membebaskan—anak tahu ke mana ia akan melangkah, dan kenapa langkahnya kadang meleset.
Bukan dimarahi karena salah, tapi diajak mengerti kenapa salah itu penting untuk belajar. Ini sebenarnya pendekatan yang sederhana tapi langka. Karena kita, para orang dewasa, terlalu sibuk menilai dan lupa mendengar.

“Belajar untuk ngerti caranya ngerti” Ini bukan soal pintar. Tapi soal ngerti kenapa kita bisa jadi pintar. Meta-kognisi itu kayak kaca benggala batin: anak diajak ngaca bukan cuma ke cermin luar, tapi ke cara pikirnya sendiri.

Kalau selama ini kita ngajari anak apa yang harus dipikirkan,
pendekatan ini ngajari anak: bagaimana caranya berpikir.

Jadi anak tahu, “Aku bisa belajar lebih cepat kalau baca sambil coret-coret.” Atau, “Aku lebih paham kalau ngajarin temanku dulu.”

Ini ilmu yang tidak akan diajarkan di soal ujian nasional. Tapi justru bekal utama untuk jadi manusia pembelajar sepanjang hayat.
Kalau bangsa ini gagal membangun kesadaran belajar, ya jangan heran kalau pejabatnya seneng ngejar gelar tapi malas mikir.

“Murid ngajari murid, guru ngaca diri” Kalau murid ngajari murid, bukan berarti guru tidak dibutuhkan. Tapi karena proses pengajaran bukan hak eksklusif guru. Justru saat anak menjelaskan sesuatu ke temannya, itu tanda dia benar-benar paham. Dan jangan salah—teman sebaya sering lebih efektif dalam menjelaskan. Karena mereka ngomong dengan bahasa yang sama, masalah yang sama, logika yang lebih akrab. Di sini anak jadi subjek belajar, bukan objek. Dia bukan cuma disuapi, tapi ikut masak bareng-bareng. Lagi pula, sistem ini jauh lebih murah daripada ngundang tutor mahal dari luar negeri. Tapi ya itu, kadang yang murah justru dianggap murahan oleh sistem yang keblinger.

“Belajar bareng, urip bareng, dadi manungsa bareng” Kolaborasi itu bukan sekadar kerja kelompok. Kalau kerja kelompok cuma ngumpul, terus yang kerja satu orang doang, itu bukan kolaborasi—itu eksploitasi. Collaborative learning itu anak-anak diajak belajar bareng untuk nyelesain masalah bersama. Ada diskusi, ada perdebatan, ada kompromi. Dan yang paling penting: ada kesadaran bahwa ilmu bukan milik satu orang, tapi milik bersama. Ini miniatur kehidupan. Karena nanti mereka tidak akan kerja sendirian. Tidak hidup di gua. Tapi hidup di tengah masyarakat yang plural, penuh konflik, dan penuh kemungkinan. Dengan belajar bareng, mereka belajar jadi manusia bareng-bareng.

Nakal Tapi Sayang: Empat pendekatan ini—feedback to pupils, meta-cognitive, peer tutoring, collaborative learning—itu sebenarnya pendekatan yang memuliakan anak. Memuliakan proses, bukan hanya hasil. Memuliakan dialog, bukan hanya monolog. Memuliakan perjalanan, bukan hanya tujuan. Dan yang paling gila: empat pendekatan ini murah! Enggak butuh gedung mewah, layar sentuh, atau kurikulum setebal kamus. Yang dibutuhkan cuma niat baik, keberanian untuk berubah, dan kemauan untuk mendengarkan anak-anak kita. Karena pada akhirnya: “Pendidikan itu bukan tentang membuat anak bisa menjawab soal. Tapi tentang membuat mereka bertanya terus sepanjang hidup.” Dan untuk itu, kita harus lebih banyak diam, lebih banyak menyimak, dan lebih banyak membuka ruang.

Pendekatan ini, ibarat nasi kucing: murah, tapi ngenyangke. Dan, hebatnya, empat pendekatan ini justru meminimalisir peran guru. Lho kok malah bagus? Ya bagus! Karena guru bukan dewa, guru itu fasilitator. Bukan peluru pengetahuan, tapi pelayan keingintahuan.

Kalau kamu masih ngotot guru itu harus ceramah di depan kelas, berarti kamu belum merdeka dari kolonialisme epistemik. Masih percaya bahwa “pengetahuan itu harus diturunkan dari atas.”
Padahal anak-anak kita sekarang lebih cepet googling jawaban daripada nunggu guru selesai ngejelasin rumus. Makanya, paradigma pendidikan itu kudu hijrah!
Dari yang “teacher centered” ke “learner centered”.
Dari “yang penting lulus UN” ke “yang penting ngerti urip.”
Dari negara yang sok tahu semua hal, ke komunitas yang tahu kebutuhan anaknya sendiri.

Dan khusus untuk anak usia dini… ojo gegabah! Mereka bukan kelinci percobaan.
Bukan target capaian “golden age” yang diburu kayak diskonan akhir tahun. Anak-anak itu seperti kuncup bunga: Butuh sinar, tapi jangan sampai terbakar. Butuh udara, tapi jangan dibiarkan terbang sendirian. Seorang kakek yang menemani cucunya main di halaman rumah, sambil meneduhkan dari panas matahari, itulah pendidikan. Bukan rapor, bukan sertifikat, bukan portofolio belajar.

Kita ini butuh revolusi diam-diam. Revolusi yang tidak dibunyikan genderang, tapi dirasakan oleh anak-anak yang lebih bahagia belajar. Revolusi yang tidak dibangga-banggakan di seminar, tapi dihayati dalam senyuman para guru yang tidak lagi diburu RPP dan silabus kayak tukang ojek diburu argo. Revolusi yang tidak dipesan melalui proyek kementerian, tapi tumbuh di kampung-kampung, di pesantren, di rumah-rumah orang tua yang tidak rela anaknya kehilangan masa kecilnya demi mengejar ranking.

Jadi, pendidikan itu bukan urusan jumlah murid di kelas. Tapi urusan bagaimana anak bisa merdeka berpikir, merdeka bertanya, merdeka salah, dan merdeka belajar. Dan kadang, yang paling mahal dalam pendidikan itu bukan biaya gedung atau jumlah guru. Tapi kesediaan kita untuk mendengarkan dunia anak. Karena kalau sekolah hanya jadi tempat nyalin jawaban dan nurut sama perintah—maka sungguh kita telah mendidik generasi budak di era yang butuh pemimpin.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *