Membiasakan Hidup Jujur

Ternyata hidup dalam orientasi material sudah tertanam sejak anak-anak—bahkan untuk mengukur prestasi anak juga sangat material. Apakah anaknya yang masih di PAUD sudah bisa baca tulis hitung? Anaknya bisa masuk sekolah favorit apa tidak?, ranking berapa?. Nanti setelah dewasa ganti pertanyaan tapi ukurannya sama; kerja di mana?, Kaya apa tidak?, punya mobil apa tidak? Jadi orang terkenal apa tidak? Nyaris tidak ada perhatian, penghargaan untuk anak-anak yang jujur, anak-anak yang solider, anak-anak yang selalu menyayangi temannya, anak yang sebelumnya kasar menjadi lembut—nilai-nilai yang bersifat rohaniah tersebut memang terabaikan.

Bercermin

Tentu saja kita tak kaget bila mendengar kelak dikemudian hari; banyak orang tidak jujur, menipu, korupsi, karena ekosistem kehidupan kita terbangun serba ukuran materi keduniaan seperti itu—simak berita CNN Indonesia di bawah ini

***

Fenomena ketidakjujuran di Indonesia dapat kita jumpai dengan mudah sejak dini. Misalnya saat ujian berlangsung di sekolah, sering kita lihat aksi mencontek yang dilakukan oleh para siswa. Bahkan tak tanggung-tanggung aksi tersebut sampai dilakukan secara berjamaah.

Dalam penelitiannya tentang perilaku plagiat pada salah satu SMA di Kota Surabaya Noorbelaa Kustiwi menyatakan bahwa 49,4% siswa responden melakukan tindakan copy paste saat mengerjakan tugas dengan alasan untuk menghindari kegagalan dan meraih nilai yang memuaskan.

Namun ironinya, tak ada yang panik terhadap kondisi seperti ini. Padahal ketidakjujuran ibarat tumor ganas bagi bangsa Indonesia.

Apabila moral ini terus dipelihara maka bukan tidak mungkin ketidakjujuran akan menjadi kepribadian para siswanya, lebih-lebih menjadi budaya yang amat sulit dihilangkan. Para siswa akan menganggap ketidakjujuran adalah hal yang biasa, bahkan kalau ada siswa yang melawan arus dengan berperilaku jujur dalam ujian akan di-bully, dianggap sok alim, sok suci. [Kamis, 30/03/2017]

Dampaknya siswa yang sejak dini sudah tidak jujur, maka saat dewasa dan memiliki pekerjaan, sering menggunakan ketidakjujuran untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Seperti seorang pedagang, demi mendapat keuntungan yang besar rela memanipulasi barang dagangannya kepada para pelanggannya. Para karyawan demi mendapat promosi jabatan, berlaku pura-pura baik bahkan terkadang memberikan laporan kerja palsu kepada atasannya. Demikian pula para pejabat publik demi mendapat harta yang melimpah ia melakukan korupsi.

Dibandingkan dengan Negara Jepang, justru moral ketidak jujuran sangat dijunjung tinggi dan diimplementasikan mayoritas masyarakatnya. Jepang terkenal dengan falsafah ‘Makoto’ yang artinya bekerja keras, semangat jujur dan ketulusan. Saat ada pejabat yang tersandung kasus korupsi di jepang, maka para pejabat tersebut bisa mundur bahkan melakukan harakiri (bunuh diri). Sementara di Indonesia kadang kita melihat pejabat yang sudah menjadi tertangkap basah melakukan korupsi, masih saja tidak mengaku agar terhindar dari jeratan hukum.

Membiasakan Berperilaku Jujur
Mulai dari sekarang, kita harus membiasakan pola hidup jujur, ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk membiasakan pola hidup jujur:

(1) Tanamkan bahwa kejujuran akan memberikan faedah bagi diri sendiri dan lingkungan. May Kay Ash seorang pengusaha sukses pendiri kosmetik Mary Kay, mengatakan bahwa kejujuran adalah batu penjuru segala kesuksesan. Saat kita jujur orang akan menjadi percaya dan mudah bekerja sama, sehingga di saat seperti itu kehadiran kita sangat bermanfaat sekali.

(2) Tanamkan bahwa ketidakjujuran akan membuat celaka diri kita dan lingkungan. Seperti pejabat publik yang tertangkap tangan melakukan korupsi, ia akan mendapat sangsi hukum yang menjebloskan nya ke penjara. Selain dirinya yang rugi, tentu nama baik keluarganya akan tercemar. Dan masyarakat yang dipimpin pun akan mengalami kesengsaraan, karena tidak mendapat pelayanan yang baik.

(3) Saling mengingatkan satu sama lain. Orang tua, guru, teman bisa sama-sama saling mengingatkan untuk berperilaku jujur. Bahkan bila ada orang yang berlaku tidak jujur dapat diberikan sangsi yang tegas supaya menimbulkan efek jera. Serta bagi orang yang berperilaku jujur diberi penghargaan dan apresiasi.

Ketidakjujuran adalah simbol keterbelakangan negara, dan kejujuran adalah simbol kemajuan negara. Maka untuk menjadikan bangsa Indonesia yang maju, kita harus biasakan perilaku jujur. Jujur itu Hebat!