Membiasakan Tidak Menyampah

Senin pagi, tak biasanya Dydy minta membawa minuman susu fermentasi di dalam botol plastik dan sedotan ke SALAM. “Aduh ini kan mau workshop jajan dengan bijak”. Tapi alih-alih melarang, saya biarkan ia akan menghadapi reaksi teman-temannya. Saya hanya berpesan, nanti sampahnya dibawa pulang.

Suasana Workshop Jajan Bijak

Suasana sudah ramai sekali saat kami datang. Hadir, mulai usia Kelompok Bermain, Taman Anak, kelas 1 sampai kelas 3 berkumpul di ruang Limbuk Cangik. Plus fasilitator serta beberapa orang tua—suasana semakin riuh saat ibu Issana, ibunda Varo dan pak Bima membawakan lagu tentang pengelolaan sampah, dilanjutkan pak Yos Hamdani dari Rumah Inspirasi Jogja.

Beliau membuka perkenalan dengan cara yang menarik perhatian, bertanya jawab tentang alat-alat kebersihan tapi dengan gerak dan menirukan suara-suara. Sambil tergelak-gelak anak-anak terutama yang kecil-kecil cukup menyimak materi ini.

Materi lanjut mengalir ke bagaimana anak-anak menjaga lingkungan mereka. Tentang membuang sampah di tempatnya bukan di sungai atau malah membakarnya, tentang memilah sampah, tentang membawa kotak bekal dan botol minum dan itu dibawakan secara interaktif. Termasuk tentang fakta-fakta dalam bentuk slide show seperti diutarakan ibu Filiana Dewi, bagaimana sampah yang tidak terurai seperti sedotan plastik dan kemasan-kemasan makanan mencemari lingkungan, terutama lautan. Dan yang perlu diupayakan sekarang adalah terus mengurangi sampah, karena proses recycle yang dulu didengung-dengungkan lebih menyita waktu daripada laju pertambahan jumlah sampah yang dihasilkan.

Foto By. Anang Febe

Saya meyakini, anak-anak SALAM sebenarnya memiliki pemahaman awal bagaimana menjaga lingkungan, saat berkegiatan di sekolah. Bagaimana tidak, mereka tahu perlunya membuang sampah pada tempatnya dan biasa membuang sisa makanan untuk jadi kompos alami. Apalagi salah satu prinsip anak-anak SALAM selain jaga diri, jaga teman, juga menjaga lingkungan. Proses tanya jawab dalam diskusi interaktif dengan anak-anak pun menjadi seru, termasuk saat pembagian doorprize yang hadiahnya sedotan bambu.

Workshop yang meriah dalam pagi yang panas ini, akhirnya ditutup dengan hujan yang tiba-tiba turun dan tentu saja anak-anak bersenang-senang bermain di tanah basah.

Foto By. Anang Febe

Seperti hujan yang turun saat cuaca panas, sebenarnya harapan besar teman-teman panitia adalah kehadiran lebih banyak lagi orang tua. Berandai-andai bila orang tua/keluarga sepenuhnya sadar bahwa sampah adalah masalah besar (termasuk di SALAM) dan lalu mengubah pola pengelolaan dan berupaya mengurangi plastik dan material lain yang tidak terurai; diharapkan akan lebih mudah lagi untuk menjadi pembiasaan di dalam keluarga.

Dengan tujuan  lebih lanjut, sehari-hari penyediaan makanan yang dibawa orang tua untuk kudapan snack maupun potluck, akan semakin minim sampah dan kembali kepada pangan lokal. Semoga!

Saat pulang, Dydy memberitahukan saya, “Tadi aku dimarahi karena minum pakai sedotan plastik.” Saya berusaha mengorek responnya dari workshop tadi. “Lalu sampahnya di bawa pulang?” Dydy mengangguk. “Sudah tahu kan bagaimana nasib sedotan plastik yang dibuang?” Dydy dengan cepat menjawab, “Nanti lautnya kotor, penyu, ikan semua mati” Saya mengiyakan. Obrolan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan, sepanjang proses kami sekeluarga dalam upaya pengurangan sampah. []