Merayakan Kemerdekaan Berpikir

“Jo, Bu Yogka mau tanya. Itu tadi kan kamu menjelaskan paruh burung murai batu tipis dan panjang, sedangkan paruh burung love bird dan parkit paruhnya bengkok. Beda paruh itu bikin beda apanya sih Jo?”, begitu tanya salah satu orangtua murid siang itu (Rabu, 10 April 2019) saat Joaquin, 10 tahun, selesai menceritakan proses riset memelihara burung. Jo yang biasanya malu-malu, hari itu berusaha tampil dengan percaya diri dan menjawab, “Emmmm, beda di makanannya. Kalau yang paruhnya tipis panjang, makanannya jangkrik dan ulat. Kalau paruhnya bengkok, makanannya biji-bijian.”

Jo dan empat warga belajar kelas 4 SALAM lainnya siang itu mendapat kesempatan untuk menceritakan seluruh perjalanan belajarnya. Orangtua dan fasilitator hadir untuk mengapresiasi proses yang telah mereka jalani. Proses meriset dengan utuh mulai dari menentukan tema, menentukan narasumber dan pendamping riset, meminta ijin, membuat daftar pertanyaan, melakukan wawancara, mencatat semua hasil wawancara dan pengamatan, melakukan praktik, mengumpulkan data dari hasil praktiknya, menganalisis hingga membuat kesimpulan atau membangun pengetahuan-pengetahuan baru.

Kelima anak ini memilih judul riset yang berbeda-beda sesuai ketertarikannya pada sumber belajar yang tersedia di lingkungan RT 04 Nitiprayan. Memilih sumber belajar yang dekat dengan lingkungan sekolah sebenarnya menjadi laku yang dipilih SALAM untuk tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya tempat belajar. Bahwa proses belajar untuk menjadi orang berilmu dapat dilahirkan di mana saja, termasuk di lingkungan sekitar SALAM. Bahwa sekolah adalah kehidupan interaksi oleh dan dengan siapa saja, termasuk dengan ‘tetangga-tetangga SALAM’. Kalau Jo memilih riset memelihara burung dari seorang peternak di depan SALAM, maka Febe memilih belajar tentang jus buah, Semesta memilih belajar membuat mie ayam Jakarta, Ayoube memilih belajar di warung bakmi Prayan, sementara Leon memilih mengobservasi sebuah tempat yang sering dikunjungi anak dan remaja, tempat sewa PS.

Setiap anak Giliran presentasi

Pilihan belajar melalui metode riset ini dipilih SALAM untuk memberi kemerdekaan berpikir anak-anak. Mereka tidak dicekoki dengan pengetahuan yang langsung jadi, namun mendapatkan kesempatan untuk banyak bertanya, meragui, menggagas, berpikir, dan berpendapat.

Anak-anak bertanya kepada narasumber. Tetapi jawaban dari narasumber bukanlah satu-satunya jawaban sahih, mereka boleh meragui. Febe misalnya, dia memang memegang resep jus dari narasumber, tetapi dia bebas meragui bahwa resep itu satu-satunya formula yang paling pas dan paling enak. Dia boleh saja menggagas resep dengan takaran atau bahan yang berbeda. Jumlah gula, jumlah buah, jumlah air, misalnya. Apa yang terjadi jika takaran airnya ditambah, sementara jumlah buahnya dikurangi. Atau sebaliknya, bagaimana rasanya ketika jumlah buahnya ditambah dan jumlah airnya dikurangi. Bagaimana kalau tanpa gula, atau gulanya diganti gula cair, gula aren, atau madu, apa yang terjadi? Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya yang timbul dari kemerdekaan menggagas. Yang dibahas barusan baru soal ‘rasa’, bagaimana kalau sudah terkait harga? Akan lebih banyak lagi gagasan-gagasan yang layak dicoba, yang kemudian melahirkan banyak sekali data untuk dianalisis hingga mendapatkan kesimpulan-kesimpulan berharga.

Kebanyakan pendidikan menuntut kepatuhan mutlak dari anak, anak tidak diberi kesempatan untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang bermakna baginya. Padahal belajar yang sesungguhnya bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke diri anak, tetapi proses membentuk pengetahuan, mengkonstruksikan pemahaman. Belajar bukan terjadi saat mendapat jawaban dari narasumber, tetapi terjadi saat menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.

Semesta, 10 tahun, yang memilih riset ‘Mie Ayam Jakarta’ mengalami proses belajar berhitung yang bermakna ketika misalnya dalam resep tertulis menggunakan 100 gram mie untuk satu porsi mie ayam, berarti jika dia membeli 1kg mie, dia akan bisa membuat 10 porsi, 2 kg untuk 20 porsi, dan seterusnya. Atau ketika dia mencoba menghitung waktu pembuatan satu porsi mie, kemudian memperkirakan waktu yang dibutuhkan jika misalnya harus membuat 30 porsi. Mungkin saja waktu bisa dipersingkat dengan membuat secara bersamaan, namun seberapa banyak yang bisa dibarengkan, terjawab bukan dari wawancara tetapi dari proses menerapkan, analisis, dan evaluasi berulang-ulang.

Riset, mengalami sendiri, bukan berarti sempurna tanpa kesalahan. Justru perjalanan belajar ini harus memberikan peluang besar kepada tiap anak untuk mencoba pemikirannya dan mengalami salah. Tiap anak berhak salah dan tugas fasilitator serta orangtua adalah menjamin tiap anak bangkit kembali dan berdaya memperbaiki kesalahannya. Pengalaman mengakui kesalahan dan mampu memperbaiki kesalahan berharga bagi kehidupannya kelak. Dengan pendekatan ini, tanggung jawab anak pada proses belajar juga akan secara bertahap bertumbuh.

Jo, gagal sampai dua kali saat mencoba memelihara bayi burung. Bayi burung butuh makan satu jam sekali, sementara Jo tidak bisa selalu ada di rumah untuk merawat bayi burung. Bayi burung pertama diberikan kepada orang yang bisa merawat, sementara bayi burung yang ke dua mati karena kelaparan saat Jo sekolah. Kegagalan ini membuat Jo menganalisis dan membuat kesimpulan bahwa dalam kondisinya sekarang dia tidak mungkin bisa memelihara bayi burung, maka selanjutnya dia memilih burung yang sudah agak besar untuk dipiara.

SALAM adalah sekolah yang mempercayai bahwa anak adalah pembelajar alami dan mandiri. Mereka sebenarnya selalu penuh dengan rasa ingin tahu, mencoba berbagai hal baru, mencoba berbagai cara, hingga mengambil kesimpulan. Pada titik tertentu, ketika mereka dituntut belajar apapun, tidak peduli minatnya, atau dituntut belajar dengan cara-cara yang berlawanan dengan cara kerja otaknya, bisa jadi pola belajar alami dan mandiri ini hilang. SALAM merasa perlu merawat kemampuan belajar alami dan mandiri ini. Untuk itulah fasilitator harus bersedia menanggalkan peran sebagai sumber kebenaran tunggal. Fasilitator juga harus rela membagi kewenangan kepada anak sehingga mereka merasa memiliki terhadap proses belajar. Seiring berjalannya waktu, peran fasilitator harus semakin berkurang, tapi peran anak semakin bertambah.

Ayoube tidak terlalu tertarik dengan model presentasi menggunakan power point, kecenderungannya akan membuat singkat saja dan hanya dibaca, enggan menerangkan lebih panjang. Tetapi ia sangat tertarik dengan video. Dia mengusulkan model presentasi dengan media video.

“Aku mau belajar bikin video sama mbak Patty, dia kan pintar bikin kaya begitu. Besok waktu presentasi aku mau pakai video aja”, katanya kala itu.

Benar saja, ketika minat belajar itu tumbuh dari dirinya, dia sangat bersemangat dan cepat untuk belajar. Hanya sekali Patty – salah satu fasilitator kelas 4 – memberikan contoh cara mengoperasikan software Filmora, berikutnya Ayoube sudah merangkai videonya dan mencoba efek-efek lainnya sendiri. Ia berhasil membuat video berdurasi 6 menit 24 detik yang berisi tentang perjalanan belajarnya di warung bakmi Prayan dan kegiatan praktiknya di rumah. Kami yang menghadiri presentasi siang hari itu cukup dibuat takjub dengan karya yang dihasilkannya.

Kelas IV. SD SALAM

“Yoube, menurutmu berapa persentase kerja membuat video itu antara kamu dengan mbak Patty?”

“Emmmm, menurut saya 50 : 50 mungkin”

Saat hal ini dikonfirmasikan ke Patty, dijawab, “Menurutku, 100 persen itu buatanmu, Yoube!”

Lalu semua orang yang ada di ruang Petruk tengah siang itu bertepuk tangan memberikan apresiasi.

Presentasi hari itu telah berakhir, tetapi perjalanan belajar anak-anak akan terus berkelanjutan. Setiap riset tidak berakhir dengan titik, tetapi koma, bahkan tanda tanya yang lebih besar atau lebih banyak lagi. Bulan depan ada pameran presentasi yang melibatkan semua tingkat kelas di SALAM. Bisa jadi presentasi anak-anak ini lebih berkembang lagi sesuai dengan perjalanan belajar yang mereka alami. Tugas kami sebagai fasilitator adalah tetap merawat lingkungan belajar yang merdeka sehingga tiap anak tak pernah pupus merayakan kemerdekaan berpikirnya.[]