Melalui berbagai percakapan dengan Pak Toto dan Pak Roem, saya mencapai kesimpulan bahwa esensi dari pendekatan pendidikan yang bertujuan untuk melahirkan cara berpikir yang kritis adalah belajar melalui pengalaman dan pengamatan langsung secara panca inderawi yang akhirnya menjadi dasar pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Untuk membuat pendekatan ini lebih mengalir, menyenangkan, dan bermakna untuk anak-anak remaja; sekaligus agar lebih menyenangkan bagi saya yang memfasilitasi, saya menjalankannya secara terselubung. Artinya, prosedur baku yang biasanya dijalankan seperti model perencanaan, presentasi pra-riset, melakukan riset, dan presentasi, saya kesampingkan terlebih dahulu. Saya memegang prinsip bahwa yang penting adalah menggali data berdasarkan pengalaman pribadi, sesuatu yang dipegang baik dalam proses perencanaan maupun ketika bertanya kepada teman-teman. Bukannya proses tersebut dihilangkan, namun secara sadar saya mengubah bentuknya dengan harapan teman-teman remaja dapat lebih mudah untuk berpartisipasi dan pengalamannya lebih bermakna.

Kegiatan yang menjadi konteks belajar kami adalah mendaki Gunung Andong. Ide ini tercetus setelah saya dan 5 anak remaja membahas tentang rencana penghidupan kita, khususnya tentang strategi untuk mencari makan dan juga mencari kesenangan. Kebetulan, semua anak menyatakan ketertarikannya untuk mendaki gunung, namun mereka semua memang belum pernah ada melakukannya sebelumnya. Karena itu, kita perlu melakukan perencanaan dengan serius agar semuanya bisa selamat dan menikmati kegiatan tersebut.
Untungnya, saya kenal dekat dengan salah seorang anak SMA SALAM, Tantra, yang sudah beberapa kali melakukan pendakian, yang kebetulan juga adalah kakak dari salah satu remaja yang ikut terlibat di kelompok ini. Ia baru saja mendaki sebuah gunung yang cukup berat pada beberapa bulan sebelumnya. Saya pun meminta bantuannya untuk menjadi narasumber dan menemani kita mendaki gunung nanti, dengan bayaran bahwa biaya transportasi dan logistik akan ditanggung oleh peserta yang lain. Saya sengaja memilih narasumber yang sangat ‘lokal’ ini. Ia mempunyai ‘bahasa’ yang mirip dengan teman-temannya sesama anak muda dan benar-benar berpengalaman secara ril. Menurut saya, itu akan memudahkan teman-teman yang lain untuk bertanya kepadanya. Di tengah jalan, kami juga sempat ngobrol dengan anak SMP dan SMA SALAM yang lain dan pernah mendaki gunung Andong sehingga kami dapat menanyakan hal-hal yang lebih spesifik tentang medan pendakian yang akan kami hadapi nanti.
Dari proses pencarian data di awal ini, para pendaki yang sudah berpengalaman menekankan dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu soal dinginnya suhu gunung dan tenaga yang diperlukan agar nantinya tidak membahayakan bagi dirinya sendiri maupun merepotkan teman-temannya yang lain. Karena itu, saya meminta Tantra untuk memikirkan tes yang nantinya akan menjadi prasyarat untuk keterlibatan mereka dalam pendakian. Tanpa dua tes ini dilalui, saya tidak akan mengizinkan mereka untuk ikut naik gunung.
Tes pertama, mengecek apakah anak-anak akan kuat melakukan aktivitas fisik di udara dingin. Memang bukan tes yang sempurna, namun saya menjadikan kegiatan bersepeda di malam hari di acara Last Friday Ride sebagai salah satu prasyarat. Tadinya, kegiatan ini hanyalah kegiatan opsional bagi mereka yang ingin bersenang-senang memutari kota. Akhirnya, saya jadikan ini kegiatan wajib. Saya ingin mereka mengalami rasanya beraktivitas di dinginnya malam. Dari acara itu, saya juga bisa melihat sedikit tentang stamina mereka. Sayangnya, saya tidak mempunyai termometer untuk mengukur suhu tubuh teman-teman setelah dan sebelum melakukan aktivitas. Namun saya justru dipinjamkan alat untuk mengukur tensi jantung. Ya sudah, kita gunakan saja, siapa tau bisa jadi data yang penting untuk suatu hari nanti.
Tes kedua, mengecek tenaga untuk mendaki sembari membawa barang-barang bawaan. Karena kami berencana untuk bermalam disana, pasti banyak barang bawaan yang perlu untuk dibawa. Untuk itu, saya mensyaratkan mereka untuk mencoba mendaki di tempat yang ada dekat kita. Saya meminta Jo untuk mencarikan rute di area Gunung Sempu, area yang sudah sering dijadikan tempat tracking bagi anak-anak SALAM. Saya meminta mereka membawa tas yang benar-benar diisi barang-barang yang akan dibawa dan saya pun membawa timbangan untuk mengukur seberapa berat tas tersebut.
Berikut datanya: Tas Neira beratnya 4.3 kg, saya 3.2 kg, Jo 3.2 kg, Bumi 4 kg, dan Kinar 2.7 kg. Jo sudah mencarikan rute yang banyak tanjakan dan turunannya dan kira-kira selama satu jam. Saya akan mencatat juga seberapa sering teman-teman minum dan minta istirahat. Ternyata, teman-teman kuat menyelesaikan rute tersebut tanpa beristirahat sama sekali. Hanya Kinar juga yang sempat minum di perjalanan. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya dan Tantra berdiskusi dan menyatakan bahwa kemampuan fisik teman-teman cukup baik untuk mendaki gunung Andong. Setidaknya, nanti kita bisa berjalan selama 1 jam dan beristirahat di tengah jalan. Kinar juga mendapat tugas dari orang tuanya untuk bertanya tentang hal-hal yang perlu diperhatikan & disiapkan selama mendaki. Ia menanyakannya kepada Tantra dan mendapatkan informasi tentang hipotermia dan cara untuk meredakannya.
Saya merasa tes ini adalah tahapan penting yang sering terlewat dalam proses pendidikan yang ‘merdeka’. Kebebasan itu sesuatu yang bersyarat, karena kita pasti bersinggungan dengan orang lain. Saya tidak ingin kebebasan mereka digunakan untuk melakukan hal yang dianggap menyenangkan ini, tanpa memikirkan kemungkinan dampaknya bagi orang lain yang mungkin harus mengurus mereka jika terjadi sesuatu. Di sisi lain, saya juga tidak mau melakukan larangan hanya dengan prasangka bahwa mereka ‘tidak sanggup’ atau ‘belum waktunya’. Anak-anak tidak akan puas dan mau menerima kesombongan orang dewasa tersebut. Oleh karena itu, saya berusaha membudayakan pengambilan keputusan yang berdasarkan data dan pengalaman langsung. Data itulah yang ingin saya cari dari kegiatan-kegiatan ini yang menjadi dasar izin keterlibatan mereka. Ada satu anak yang bersikeras ingin ikut, namun ia gagal menyelesaikan tes fisik yang diberikan ayahnya (karena ia izin dan lupa saat kita melakukan tes di Gunung Sempu). Alhasil, ia harus berlapang dada menerima bahwa ia belum bisa ikut terlibat dalam pendakian kali ini. Namun, jika ia ingin berusaha agar dapat mengikuti pendakian berikutnya, maka ada jalan yang jelas yang dapat diusahakan olehnya.
Lalu, dimanakah terletak pembelajaran yang menghargai keunikan dan minat anak? Pada situasi ‘kerja bersama’ ini, anak-anak menunjukkan keahlian di lingkupnya yang spesifik, serta kontekstual dengan sumber daya material maupun sosial yang mereka miliki. Misalnya, Jo yang mempunyai kekerabatan yang luas mampu dengan cepat mengumpulkan informasi tentang tempat penyewaan alat-alat kemah serta transportasi yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Bumi yang memang gemar memasak menerima tanggung jawab untuk memikirkan menu lezat yang dapat dengan mudah dimasak di atas gunung. (Nantinya, dia sendiri yang menganalisa bahwa kita perlu lebih spesifik menentukan ukuran bahan yang perlu dibeli karena kita akhirnya membawa kentang yang terlalu banyak sementara wortelnya terlalu sedikit). Tantra yang mempunyai pengalaman sebagai pendaki mampu mengumpulkan informasi dari perjalanannya selama ini dan ‘mempresentasikannya’ kepada teman-temannya dalam bentuk membuat guide tentang bahan-bahan pribadi yang perlu dibawa selama mendaki. Ia juga sudah memprediksi adanya kemungkinan teman yang membawa beban terlalu berat sehingga ia menyisakan ruang untuk dapat mengangkut barang temannya. Model ini juga saya ambil secara sadar sebagai respon dari teman-teman yang sudah frustasi dengan melakukan pembelajaran yang ‘bentuknya’ individual. Artinya bukannya serta-merta melakukan semuanya bersama-sama dengan memaksakan keterlibatan, melainkan kegiatan bersama ini menjadi konteks yang bermakna untuk mereka menunjukkan keahlian individunya. Dampaknya? Teman-teman tidak merasa melakukannya dengan terpaksa sehingga lebih ringan dan menyenangkan.
Sesampainya di basecamp gunung Andong via Pendem, saya mencatat dua hal: berat tas dan jumlah air. Mengapa? Karena dua data ini akan krusial untuk menentukan perjalanan-perjalanan kita berikutnya. Jika teman-teman merasa perjalanan ini terlalu berat, maka kami dapat mencari trek yang lebih ringan untuk outing berikutnya, atau jika mau tantangan lebih, kami punya data awal yang dapat menjadi acuan. Terbukti bahwa berat tas menjadi masalah. Beberapa anak terlihat kewalahan dan mengeluhkan beban yang mereka angkat. Ternyata barang bawaan beberapa teman-teman jauh lebih berat dibanding simulasi. Jo membawa beban 13 kg, Kinar 10 kg, Bumi 8 kg, sementara aku dan Neira tidak terlalu berbeda dibanding simulasi. Jumlah air yang kita bawa juga kita catat. Misalnya Jo membawa satu botol Aqua 1.5l dan 3 botol Aqua 600 ml, Kinar dan Bumi masing-masing membawa 2 botol 1.5l, sementara Tantra 3 botol 1.5l. Saya dan Neira hanya membawa botol minum kita yang biasa. Totalnya, kelompok kami membawa kira-kira 17 liter air. Untungnya ada teman-teman yang sudah lebih berpengalaman dan menyiapkan diri untuk situasi seperti ini sehingga mereka menawarkan diri untuk membawakan air yang ternyata menjadi sumber beban utama. Berikutnya, saya juga mencatat waktu pendakian kita, termasuk interval istirahat kita. Saya berdiskusi dengan Tantra tentang cara kita membandingkan trek pendakian ini dengan gunung lain, sayangnya kita belum menemukan cara untuk mengukur curam atau landainya medan yang baru kita jalani.
Pagi-pagi sebelum turun, saya juga kembali mendata berat tas dan jumlah air. Ternyata, berat tas yang kita bawa juga turun drastis, misalnya Kinar yang dari 10 kg menjadi 6 kg. Ia pun terheran-heran dengan apa yang sebelum ia bawa sehingga tasnya bisa seberat itu. Di sisi lain, ternyata air yang kita bawa untuk jaga-jaga ternyata masih tersisa sangat banyak, kira-kira 8 liter, hampir setengah dari jumlah yang kita bawa di awal. Mengingat saya juga masih membawa galon air yang disimpan di mobil, jumlah air yang kita bawa jelas jauh lebih banyak dari kebutuhan. Waktu durasi kita turun juga saya catat. Saya berkali2 bertanya kepada Bumi & Bramasta yang membawa jam tangan. Teman-teman juga penasaran tentang durasi tersebut. Ternyata, perjalanan naik dan turun bedanya sangat jauh. Kita menghabiskan 3 jam untuk naik ke puncak, sementara turunnya hanya menghabiskan 1.5 jam.
Selama kita berkemah juga banyak obrolan dan kejadian menarik. Misalnya pagi-pagi setelah membereskan tenda, saya dan Tantra melihat sisa sampah plastik yang kami kumpulkan menjadi satu dan cukup gelisah karena kami yang notabene punya kepedulian terhadap sampah plastik-pun ternyata masih memproduksi volume yang cukup besar. Kami mencoba berpikir tentang apakah mungkin untuk melakukan pendakian yang tanpa menyisakan sampah plastik sama sekali.
Ada juga kejadian seperti terpeleset yang dialami teman-teman ketika turun. Ada juga yang merasa lebih lelah ketika turun dibanding naik. Lalu makanan yang kita letakkan di luar tenda dengan harapan lebih awet karena dingin ternyata diacak-acak oleh rakun sehingga tidak dapat disantap lagi pagi harinya. Untungnya, kami masih bisa membuat kentang rebus dari jumlah kentang yang terlalu banyak dibawa. Air rebusan kentang juga bukanya mubazir, namun bisa digunakan untuk mencuci wadah dan peralatan makan. Itu adalah salah satu ‘penemuan’ cara berperilaku yang lebih mudah didapatkan ketika kita sudah mempunyai pengalaman langsung.
Imajinasi kami tentang mendaki gunung lain juga semakin muncul setelah melihat puncak-puncak gunung lain yang terlihat dari puncak Andong. Kita dapat melihat gunung Merbabu, Merapi, dan beberapa gunung lainnya. Saran pun mulai berdatangan. Seliar apapun idenya kita tampung saat itu.
Imajinasi liar tersebut bahkan muncul dari berbagai macam sudut. Anak-anak maupun orang tua melontarkan berbagai nama gunung dan kota, terutama daerah kampung halaman masing-masing. Namun, yang menurut saya perlu dilakukan selanjutnya adalah menarik mereka kembali ke kenyataan. Dari pengalaman pertama ini, seharusnya semuanya sudah lebih paham tentang apa yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan yang jauh ini. Waktu dan biaya perlu untuk dipertimbangkan. Tenaga dan barang bawaan pun perlu disesuaikan agar perjalanan yang kita lakukan akan menyenangkan. Sekarang kita sudah memegang data yang penting untuk mengambil langkah selanjutnya. Jangan sampai pengalaman tersebut menguap hanya menjadi memori indah, namun juga menjadi alat untuk kita mencari cara hidup (berlaku) yang lebih baik.[]
Relawan SALAM
Leave a Reply