SALAM Dikira Sekolah ALAM

Orang sering menduga-duga dan berakhir salah paham terhadap SALAM, yang selalu disimpulkan serta dikategorikan sebagai jenis sekolah alam. Walaupun SALAM lahir jauh sebelum ramai, marak, booming sekolah alam di mana-mana, padahal SALAM itu sekolah biasa-biasa saja, sekolah apa adanya, tidak sebagaimana sekolah alam yang dikenal orang.

Anak Bermain
Anak Bermain

Sanggar Anak Alam (SALAM), tekanannya justru lebih pada ‘anak alam’, bukan sekolah alam itu sendiri. Artinya ‘anak alam’ itu dimaksudkan bahwa setiap anak adalah memiliki orisinal dan otentik yang dilahirkan oleh alam, sehingga sekolah justru  tidak boleh merusak orisinalitas dan otentisitas setiap anak, bahkan sebaliknya, sekolah wajib, harus membantu setiap anak untuk menumbuhkembangkan orisinalitas dan otentisitas masing-masing anak.

Sementara yang kita tangkap dari common sense mengenai sekolah alam adalah sekolah yang berorientasi terutama pada metode belajar yang selama ini lebih banyak diselenggarakan di dalam ruangan, lalu diganti dengan digelar di ruang terbuka. Artinya sekolah alam belum berangkat dari paradigma atau ideologi yang menyadari akan anak sebagai ‘anugerah alam’, tetapi lebih karena alasan metodologi dan teknik belajar saja.

Pada posisi ini SALAM sangat berbeda dengan sekolah alam pada umumnya yang sekarang kini banyak menjamur dimana-mana.

Ada hal yang dilupakan dalam membangun sekolah berbasis komunitas ini, yakni adanya kecenderungan untuk mereporoduski model sekolah alam yang diadopsi oleh semua sekolah alam di manapun. Padahal seharusnya sekolah alam merancang model pembelajarannya disesuaikan dengan kecenderungan unik anak-anak peserta didiknya serta disesuaikan dengan komunitas-omunitas masing yang tentunya berbeda satu sama lain.

Tak ayal di banyak tempat terjadi kontradiksi. Banyak pengelola sekolah alam yang sekadar mencaplok mentah-mentah model yang sudah ada. Ada kebun, bahkan sawah, di tengah sekolahnya. Tanpa alasan yang jelas kenapa harus seperti itu.

Lebih mengenaskan lagi karena model ini justru ditangkap sebagai peluang pasar, sebagai komoditas.