Menulis untuk Keabadian

Menulis itu kaya-nya mudah ya. Tapi ternyata menumbuhkan minat untuk menulis itu susah-susah gampang. Terutama untuk mengajak anak ikut menulis. Itu pula yang saya alami.

Anak saya, yang saat ini duduk di Kelas 5 Sanggar Anak Alam (SALAM) susah juga diajak untuk menulis. Berbagai modus pun saya lakukan, pertama jelas merayu fasilitator di sekolah untuk memberikan tugas menulis cerita sehari-hari. Kedua, di rumah, saya belikan anak saya buku diary dengan gambar-gambar lucu agar mau menuliskan cerita yang dia alami sehari-hari atau menulis apa saja yang dia mau. Kadang dia menulis cerita fiksi, kadang dia juga semi-semi curhat. Ketiga, saya edit tulisannya kemudian saya layout dengan kemampuan seadanya agar terlihat seperti cergam.

Tiga modus itu pun saya rasa cukup berhasil. Lumayan batin saya. Meski terkadang dia masih aras-arasen untuk memulai menulis. Jangankan anak saya, lha wong saya sendiri saja kadang juga males-malesan untuk menulis. Motivasi menulis saya biasanya kembali muncul jika sudah ada pesan Whatsapp dari Pak Toto yang singkat, padat, dan jelas ”nulis maneh”. Hehehe.

Kadang, saya pun meminta anak saya untuk menggambar. Terserah menggambar apa saja yang dia mau. Sebab, menulis itu memiliki arti yang luas. Menulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan “melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menulis juga diartikan “menggambar, melukis” bahkan membatik pun dikategorikan sebagai menulis dalam kamus tersebut. Artinya menulis tidak melulu berwujud sebuah tulisan, bisa dalam bentuk gambar.

CERPEN-RACHEL-HAP-HAP-BYURR

Kenapa saya begitu ingin anak saya sering-sering menulis? Karena menurut saya menulis itu ibarat healing. Dengan menulis, utamanya mengungkapkan pikiran dan isi hati, membuat kita merasa lebih lega. Menulis pun memudahkan kita mengungkapkan hal-hal yang sulit kita ucapkan secara verbal atau lisan.

Menulis juga memperbanyak kosa kata, sama halnya dengan membaca. Kosa kata kita akan lebih kaya. Menulis juga dapat membuat kita berlatih memecahkan persoalan. Misalnya saat membuat sebuah cerita akan berakhir dimana. Selain itu, tulisan-tulisan ini kelak yang akan membuat kita senyum-senyum sendiri saat membaca ulang.

Tulisan ini pun nantinya akan jadi bukti otentik keberadaan kita. Sama seperti yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer ”orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (*)