MENYEKOLAHKAN KEMBALI MASYARAKAT

Anda melatih binatang; Anda mendidik manusia!” Begitulah bunyinya sebuah pepatah lama. Tentu saja, binatang tidak bisa mengikuti seminar, lokakarya atau mengikuti penataran, sementara kita tenggelam di dalam segala macam latihan, workshop, training Bagi orang awam, arti kata latihan erat kaitannya dengan persiapan seperti seorang atlit akan menghadapi pertandingan, atau persiapan kegiatan-kegiatan yang sifatnya fisik/jasmaniah.

Foto: Totok Anwarsito

Bagi kaum terdidik, terutama yang berkecimpung dalam kegiatan masyarakat, meyakini bahwa kegiatan latihan merupakan cara ampuh untuk pengembangan sumber daya manusia. Hingga ada kelompok tersesat, tak bisa membedakan antara latihan dan pendidikan—malah cenderung dikaburkan, dengan pongahnya malah digabungkan  menjadi DIKLAT (Pendidikan dan Latihan).

Padahal, pada umumnya latihan lebih menyangkut peranan penunjang berbagai fungsi dan peranan tertentu dalam masyarakat, seperti para perwira yang memperoleh latihan militer, atau para pegawai yang disuruh mengikuti latihan ‘dalam tugas’. Latihan: Di mana-mana Latihan Setiap orang dalam hidupnya akan melatih dan dilatih. Bayi orang Barat dilatih ‘ber-WC’ (Toilet Training), biarawan melakukan latihan spiritual, pejabat memberi dan menerima latihan kepemimpinan, petugas lapangan pemerintah menjalani latihan penyuluhan, dan seterusnya.

Latihan merupakan suatu upaya yang besar dan luas, karena itu perlu mendapat perhatian kita. Sementara di Indonesia dewasa ini terdapat lebih dari sejuta pelajar beramai-ramai untuk memperoleh berbagai macam pendidikan tinggi, lebih banyak lagi orang dewasa akan mengikuti berbagai jenis latihan. Di pabrik dan perusahaan, latihan “pratugas”, “manajemen”, “refresher”, dan “dalam tugas” berjalan terus. Pada lembaga-lembaga pembangunan dan pemerintahan komponen latihan masuk dalam setiap proyek yang diselenggarakan. Lembaga swasta menawarkan latihan khusus, sementara kantor dan birokrasi melakukan lahitan “upgrading” dan media massa mengadakan latihan jarak jauh.

Kita semua tersentuh oleh latihan : para “drop-out” SD memperoleh latihan ketrampilan; para calon trasmigrasi mendapatkan latihan pertanian; para ibu rumahtangga memperoleh latihan jahit dan merawat anak; para tani terlantar memperoleh latihan peningkatan ketrampilan; para pengrajin menerima latihan pemasaran; para pemuka masyarakat menerima latihan kepemimpinan; para bekas narapidana dilatih untuk kembali ke masyarakat; para kader desa diberikan latihan pengembangan masyarakat; akhirnya para pemandu/pelatih sekalipun masih memperoleh latihan”untuk pelatih” demikian seterusnya.

Mengubah untuk mengatasi perubahan Kita akan terus menghadapi perubahan. Lagi pula perubahan inilah akan menuntut pula perubahan pada diri kita. Sudah menjadi kenyataan bahwa perubahan masa kini dan masa mendatang akan menjadikan kita peserta latihan seumur hidup. Kita harus mengubah untuk mengatasi perubahan. Maka dengan demikian perubahan (change) merupakan alasan sekaligus tujuan kegiatan latihan. Zaman dahulu generasi muda dididik dan dilatih oleh orang tua mereka atau masyarakat tempat lain. Dengan cara ini mereka dibekali pengetahuan dan ketrampilan agar mereka dapat mengisi peran tertentu dalam masyarakat yang biasanya merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Sampai sekarang banyak nama orang keturunan Inggris, masih mencerminkan warisan peranan/pekerjaan misalnya Taylor (penjahit), Smith (pandai besi), Cooper (pembuat drum), Weaver (penenun), Cook (tukang masak), Baker (tukang kue), dan sebagainya. Jika tak ada guncangan besar seperti perang atau atau bencana alam proses penurunan peranan dari generasi ke generasi dapat berjalan terus pada jaman itu.

Tibalah masa revolusi industri di mana petani, pengrajin dipaksa menghadapi perubahan pola hidup yang mendasar. Dahulu kala petani bekerja menurut musim dan tuntutan alam, sekarang ia harus diubah menjadi buruh industri dengan pola hidup yang sangat bertolak belakang dari perintah mandor dan tuntutan produksi untuk pasar bebas. Bukan merupakan kebetulan bahwa munculnya pendidikan massal dimulai berdekatan dengan lokasi pabrik-pabrik yang membutuhkan tenaga kerja yang dengan pasif dapat duduk selama sekian jam sehari untuk mendapatkan upah (nafkah). Sistem lembaga pendidikan formal (sekolah) tidak berdaya untuk mengikuti irama arus gerak perubahan tersebut; dan pada gilirannya penyelenggaraan pendidikan massal yang lebih terspesialisasikan tumbuh menjamur yakni latihan, kursus. Manfaat, keluasan serta kehadiran latihan sebagai sebuah mekanisme sosial menuntut sekurang-kurangnya upaya kita untuk menguji dalam rangka membuat semacam gambaran penyelenggaraan latihan pada saat ini. Latihan Tidak Terlepas dari Proses Perubahan Ketika masyarakat Indonesia tengah melakukan perubahan, penyesuaian, pembekalan dan ‘penyekolahan kembali’ secara besar-besaran dan menyeluruh, tidak mengherankan jika tidak sedikit ada kesan kesemrawutan.

Konsep tentang pelatihan sendiri mengalami perubahan cukup pesat pada akhir-akhir ini, sejalan dengan oleh pengaruh evolusi ilmu-ilmu sosial, terutama dengan munculnya teori psikologi moderen. Bahkan beberapa puluh tahun yang lalu metode yang sesungguhnya merupakan teori belajar sangat terbatas jumlahnya dengan ditandai secara mengakar diantaranya oleh tradisi lisan Socrates. Andai kata seorang pendidik, fasilitator dimasa puluhan tahun yang lalu dapat menghadiri diskusi antar fasilitator masa kini mereka pasti akan cukup bingung mendengar segala macam istilah. Tidak bisa dikatakan bahwa seluruh perkembangan di bidang ini merupakan indikator lajunya pembangunan. Salah satu efek negatif yang telah terbukti dari revolusi informasi adalah polusi informasi dan bahasa: kekacauan dan pencemaran intelektual terasa seperti menaruh anggur lama dalam botol yang baru; misalnya berdiskusi mengenai sejumlah gambar diistilahkan dengan the Graphic-based Conscientizing Aperceptio-Inter ction Method (Metode Penyadaran ApersepsiInteraksi berdasarkan Gambar). Mendengarkan seseorang dengan tenang diberi istilah Radical Non-Intervention, dan menemukan kesenangan dan ketidaksenanang disebut Neuro-linguistic Programming.

Akar-akar Kesemrawutan Adaptasi dan transformasi merupakan dua proses penting di dalam pembangungan dan pembaruan. Fasilitator/Pemandu (trainer) secara alamiah adalah tukang-tukang pragmatis yang senantiasa berupaya agar sesuatu dapat berjalan dengan baik dan lancar. Celakanya karena ada target yang mengarah pada hasil yang cepat ia juga menggiring kita ke arah kerancuan konseptual. Adaptasi berarti penerjemahan dan pembenahan secara cepat. Transformasi menjadi semacam pencurian. Ada sebuah ungkapan mengenai trainer (pemandu) sebagai berikut : “Mula-mula seorang pemandu menggunakan latihan dengan mengutipkan sumber-sumbernya secara keseluruhan. Kemudian, ia menggunakan sumber-sumber latihan dan mengemukakan bahwa itu diadaptasi dari sumber sana-sini. Ketiga, pemandu menggunakan, dan memperkanalkannya sebagai miliknya. Program-program latihan menjadi pembauran antara berbagai tehnik, metode dan pendekatan filosofis di bawah satu”bendera” participatory Training. Sementara training ini sering kali membengkak terlalu luas, pada gilirannya menjadi tidak jelas akar, asal-usul dan tujuan semula metode-metode training. Dan ketika sumber aslinya telah terkubur, refleksi atas praktek dan upaya peningkatannya menjadi semakin sulit. Tujuan Latihan ketlingsut, sering hilang atau terlupakan di dalam latihan—adalah tujuan semula dari latihan itu sendiri. Ketika tujuan digambarkan dengan jelas, maka sumber yang pas dapat didefinisikan dan metode yang relevan dapat dikembangkan. Cuma, kenyataannya kini kita tengah menghadapi pencemaran yang diakibatkan oleh latihan [Russ Dilt]