Musik dan kejujuran

Tiga anak menangis sesenggukan, Dua diantaranya saya kenal sebagai anak yang ceria dan cendrung jahil. Mereka menangis bukan karena berkelahi dengan temannya. Tidak pula setelah jatuh dari suatu tempat dan luka. Tidak teman ada yang memukul mereka, tapi nada dan lirik-lah yang memukul hati mereka hingga tangis tak tertahankan.

Vocalis Bandanas Band. SMP SALAM

Siang tadi adalah sesi belajar musik. Setiap hari rabu pada jam kedua pembelajaran, anak-anak kelas 5 dan dan 6 belajar bermain musik bersama Pak Bima dan Dab Nono –setidaknya begitu cara semua orang memanggilnya-, mereka berdua adalah orang tua murid yang melegakan waktu dan kemampuannya untuk mengajarkan musik pada anak-anak SALAM. Sesi belajar musik dimulai dengan menyanyikan lagu laskar pelangi secara bersama-sama. Kemudian Pak Bima mengajak teman-teman kelas 5 dan 6 untuk belajar mengatur tempo.

Untuk mengajak semua warga kelas terlibat, Pak Bima mengajak anak-anak untuk membuat kelompok yang berisikan 5–6 anak. Setiap kelompok memilih satu lagu dan kemudian menyanyikannya di depan kelas, tentu dengan mengikuti tempo dari iringan musik Pak Bima dan Dab Nono. Setelah semua kelompok maju, Pak Bima mengajak semua anak untuk menyanyikan satu lagu sebagai penutup. Anak-anak sepakat untuk menyanyikan lagu ‘Bunda’ gubahan Melly Goeslaw, alasannya cukup jahil sih, karena mereka tahu bahwa Dingga, muridku di kelas 6, lemah terhadap lagu itu. Ia pernah menangis karena mendengar lagu itu. Pak Bima dan Dab Nono selaku fasilitator musik menyetujui usulan itu dan mulai memainkan musiknya, anak-anak mengikutinya dengan bernyanyi bersama :

Kubuka album biru

Penuh debu dan usang

Ku pandangi semua gambar diri

Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

Sampai disini anak-anak masih tampak biasa, namun ketika sampai di bagian reffain lagunya :

Kata mereka diriku slalu dimanja

Kata mereka diriku slalu ditimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu

Kan slalu ada di dalam hatiku

Pecahlah tangis anak-anak itu! Semua anak bernyanyi bersama, kecuali Dingga, ia menutup telinganya dengan jaket temannya. Ia tahu bahwa ia tidak kuat mendengar lagu ini. Lagu Bunda sepertinya mewakili perasaan yang tak mampu mereka ungkapkan dalam keseharian. Oyik, salah satu anak yang menangis itu, ku ketahui bahwa ia tak lagi punya Ayah. Ayahnya meninggal dan Ibunya seorang diri merawatnya. Sikap berontaknya di keseharian barangkali wujud akumulasi dari hausnya ia akan perhatian sosok ayah.

Hanya saja ini bukan dunia orang dewasa yang semuanya berjalan tampak bisa memahami keadaan, tak semua anak bisa mengerti dan memahami situasi ini. Beberapa anak tampak masih tidak menunjukkan sikap empati dengan menunjuk-nunjuk anak yang menangis sambil tertawa. Barangkali disini masalah dimulai, ada yang tersinggung dan mulailah percekcokan. Mereka beruntung karena mereka memiliki fasilitator yang baik, yang tidak menyuruh mereka berhenti menangis seketika atau tiba-tiba saja langsung menghentikan segala aktifitas dan membiarkan masalah itu menguap dan menjadi noda dikemudian hari. Para fasilitator tampak mengajak mereka berdioalog untuk belajar saling memahami. Walaupun cara itu juga tampaknya tidak secara mutlak menghentikan masalah, setidaknya ada pertukaran pengalaman antar kedua belah pihak. Embrio kesalingpahaman.

Sampai titik ini saya mengamini apa yang dituliskan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwasanya Pendidikan kesenian itu dapat dijadikan alat untuk memperhalus budi anak. Music yang dipandang oleh sebagian orang sebagai media berbahaya yang melenakan kita dari Tuhan, ternyata punya efek luar biasa pada halusnya budi sang anak.

Yogyakarta, 08 Agustus 2018