Pasar Ekspresi #16: Kemeriahan dan Kerja Keras yang Tak Terekam dalam Kamera

Saya tiba di SALAM 30 menit lebih lambat dari jadwal dimulainya acara yang tertera di rundown. Saya berjalan dengan santai. Namun, suara pembawa acara melalui pelantang membuat saya penasaran, lantas mempercepat langkah. Di luar dugaan, ternyata acara sudah dimulai. Dua tahun tertahan karena pandemi, tampaknya panitia Pasar Ekspresi #16 hendak mengawali acara dengan mengganti kebiasaan lama dengan yang baru: mulai dengan tepat waktu. Permulaan yang menunjukkan keseriusan para panitia penyelenggara PASAR EKSPRESI #16 yang pertama kali diselenggarakan setelah pandemi covid 19.

Diadakan pada 18 Agustus 2022, Pasar Ekspresi #16 dibuka tepat waktu meski para pelapak masih sementara menata dagangan dan pengunjung belum semuanya berdatangan. Pembawa acara yang merupakan kolaborasi duo fasilitator dan siswanya ini, sejak awal terlihat memandu acara dengan penuh energi, dan nantinya terbukti mampu menjaganya sampai akhir.

Pasar Ekspresi merupakan acara yang menggabungkan antara pentas seni siswa dan lapak jualan kelas, siswa maupun orang tua. Kepanitiaan Pasar Ekspresi digawangi oleh Organisasi Anak SALAM (OAS), dan merupakan gabungan dari siswa SMP dan SMA. Agar tetap selaras dengan nilai-nilai SALAM, Pasar Ekspresi menerapkan beberapa aturan bagi para pengunjung dan pelapak.

Bagi pelapak, aturannya adalah menyediakan wadah pakai ulang dan tidak mengemas barang jualan dengan wadah atau plastik sekali pakai. Bagi pengunjung, aturannya adalah diminta membawa wadah makan dan tas belanja sendiri. Disediakan bak cuci piring agar wadah-wadah yang dibawa bisa dipakai untuk berbelanja lagi.

Selain itu, pengunjung diharapkan membawa minimal 3 buah jajan sehat tanpa kemasan sekali pakai sebagai tiket masuk. Jajan-jajan yang dibawa para pengunjung nantinya akan dikumpulkan jadi satu di dalam area potluck, dan dimakan bersama-sama.

Mengamati Kerja Yang Tak Terlihat

Banyaknya partisipan membuat acara yang di tahun-tahun sebelumnya biasa berakhir sekitar jam 14.00, kali ini berakhir hampir 3 jam setelahnya, dengan keriuhan yang masih terjaga. Melihat antusiasme yang hidup di antara pembawa acara, pelapak dan pengunjung, serta sound yang apik dan susunan acara yang tampak diatur dengan memperhatikan demografi pengunjung, menunjukkan bahwa kerja-kerja kepanitiaan dibaliknya pasti dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kerjasama para individu yang terkadang luput dari perhatian para pengunjung yang datang.

Sebagai pengunjung, yang kita lihat adalah panggung yang tertata. Sedangkan yang dilihat oleh panitia barangkali adalah kesesuaian panggung, alat dan perlengkapan dengan setiap penampil. Sebagai pengunjung, yang kita dengar adalah sorak sorai penonton. Sedangkan yang didengar oleh panitia barangkali adalah suara-suara penampil dan pelapak yang meminta bantuan.

Setiap kelas berpartisipasi sebagai penampil, dan beberapa di antaranya berpartisipasi pula sebagai pelapak. Siswa kelas kecil mendapat giliran tampil di nomor-nomor awal, sedangkan siswa kelas besar dan menengah mendapat giliran menjelang siang dan sore. Para fasilitator dan orang tua menjadi penampil penutup. Tidak ada kriteria khusus untuk materi pentas, maka penampilan yang tersaji di panggung pun begitu beragam. Ada pentas menari grup, menari solo, menyanyi grup dengan iringan keyboard, drama hingga solo keyboard, dan solo drum. Yang terakhir ini merupakan penampil favorit saya, karena ditampilkan oleh siswi kelas 2, dengan gebukan drum yang intens dan powerful.

Materi pentas yang berbeda-beda diantara penampil, membutuhkan alat dan perlengkapan yang berbeda-beda pula. Itu sebabnya, panitia selalu bersiap di sisi panggung, untuk membereskan alat dan perlengkapan yang telah dipakai dan menyiapkan alat-alat yang akan dipakai penampil berikutnya.

Di sela-sela persiapan dari satu penampil ke penampil berikutnya, kedua pembawa acara berulang kali mengingatkan pengunjung untuk bertanggung jawab pada sampahnya sendiri. Bertanggungjawab di sini berarti, jika menghasilkan sampah anorganik, pengunjung harus membawanya kembali dan tidak meninggalkannya di area SALAM. Sedangkan untuk sampah organik, SALAM telah menyediakan tempat untuk mengumpulkannya.

Meski dalam kegiatan sehari-hari SALAM sudah menerapkan kebijakan tersebut, namun peringatan seperti ini tetap diperlukan. Selain untuk mengantisipasi pengunjung yang baru mengenal SALAM, warga SALAM sendiri pun terkadang masih perlu diingatkan. Panitia menyadari hal ini dan melalui pembawa acara, berusaha agar baik pengunjung maupun pelapak tetap mampu menaati jargon SALAM berupa ‘jaga lingkungan’.

Tugas-tugas tersebut merupakan tugas yang sewajarnya dilakukan dalam memenuhi peran yang mereka pilih sebagai panitia. Yang menjadi istimewa adalah, tugas itu dilakukan dengan baik oleh anak-anak yang sedang menjalani masa remaja. Sebuah masa yang diwarnai dengan gejolak emosi serta perubahan-perubahan fisik yang mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku. Saya membayangkan, betapa kaya sumber pengalaman mereka dari kegiatan Pasar Ekspresi ini. Dengan pendampingan orang dewasa yang hanya secukupnya saja, anak-anak ini telah belajar kerjasama, pengambilan keputusan dan barangkali, kemampuan memilah, memilih dan memprioritaskan hal satu diantara hal lain.

Mengingat usia para panitia yang masih remaja, mengorganisir sebuah kegiatan dengan sasaran pengunjung usia sebaya, di atas sekaligus di bawahnya barangkali bukan hal yang mudah. Namun keriuhan yang tetap terjaga hingga akhir acara menunjukkan bahwa anak-anak ini berhasil melakukannya dengan baik.

Bahkan setelah semua kelas telah seluruhnya tampil, para orang tua (dan anak-anak) masih banyak yang bertahan di tempat. Penampil-penampil setelahnya juga masih mendapat tepuk tangan yang meriah. Sampai pukul 16.00, ketika saya harus pulang dan tersisa satu lagi acara yang tersisa, saya masih melihat banyak orang tua yang duduk melingkar mendekati panggung serta anak-anak yang masih asyik bermain di pematang sawah.

Meski begitu, kerja-kerja panitia tentunya tidak hanya dilakukan pada saat acara berlangsung. Ada kerja-kerja lain yang lebih tak terlihat lagi, berminggu-minggu sebelumnya. Selain berkali-kali mengadakan rapat, panitia juga melakukan pengumpulan dana untuk keperluan acara seperti penyewaan tenda, alat dan perlengkapan musik serta sound system.

Pengumpulan dana salah satunya dilakukan dengan membuka produksi kaos PE #16, meliputi terima pesanan hingga memesan ke rumah produksi. Sedangkan pada saat acara berlangsung, karena tidak menjual tiket masuk, pengumpulan dana dilakukan dengan menjual kupon doorprize. Doorprize-nya sendiri didapat dari donasi para orang tua dan kerabat SALAM.

Ekspresi

Pasar Ekspresi merupakan ruang untuk mengekspresikan kebutuhan dan kemampuan diri, baik bagi pelapak maupun bagi para panitia. Pelapak biasanya berekspresi dengan menyiapkan makanan produksi rumahan, berbahan pangan lokal atau barang dengan produksi dan material yang menonjolkan kearifan lokal. Pengunjung berekspresi dengan menyiapkan wadah pakai ulang dan mematuhi aturan sampah organik dan anorganik. Orang tua yang tidak bisa hadir, berekspresi dengan memberikan donasi doorprize atau memesan kaos.

Sedangkan panitia, mereka berekspresi dengan menguji potensi diri dan kemampuan bekerjasama dengan orang lain melalui lingkup sosial terdekat. Ekspresi inilah yang sering luput dari pandangan kita. Ekspresi ini pula yang acap luput dari kamera. Tulisan ini ditujukan untuk merekam jejak ekspresi mereka sekaligus sebagai bentuk apresiasi atas kerja-kerja mereka yang dikerjakan dalam sunyi dan diam. Terima kasih, teman-teman! []