SALAM dan Panggung-Panggung Kemerdekaan Berekspresi

Sekolah Tanpa Ini Itu—Selama ini SALAM terlanjur dikenal sebagai sekolah tanpa guru, tanpa seragam, dan tanpa mata pelajaran. Sebuah liputan dari VICE.Com yang muncul di tahun 2018, telah menambah daftar rekam jejak SALAM di ruang digital. Tentu, liputan itu tidak keliru. Liputan tersebut telah membuat nama SALAM makin dikenal sebagai pengusung model pendidikan alternatif.

Banjirnya pujian untuk SALAM tak membuat SALAM otomatis dicintai oleh setiap kalangan. Tak jarang, ada saja segelintir pihak yang mencibir SALAM. Seperti beberapa waktu lalu, misalnya. Saat itu, saya melihat sebuah unggahan berupa meme yang dibuat dari daur ulang foto liputan Vice.Com tentang SALAM. Sang kreator meme menyebutkan bahwa apa yang menjadi headline di Vice.Com tersebut –sekolah tanpa guru, seragam, dan mata pelajaran– bukanlah ciri-ciri sekolah. Lebih tepat disebut main ke rumah tetangga dibanding (ber)sekolah.

Awalnya saya tersinggung. Saya yakin bahwa  orang-orang yang memilih SALAM sebagai tempat belajar adalah orang-orang yang sangat serius dan paham akan pilihannya. Jadi alangkah ngawur rasanya kalau ada yang menyebut bersekolah di SALAM sama dengan numpang main ke rumah tetangga. Tetapi, dua kawan saya, Gernata Titi dan Karunianingtyas Rejeki, melalui WhatsApp kompak berkata pada saya, “Itu cuma konten. Biarkan saja. Santai saja.” Kejengkelan saya juga semakin mereda berkat perkataan suami saya. “Lho, kan kita memang main ke rumah tetangga, cuma beda kecamatan. Kita di Sewon, SALAM di Kasihan. Nggak usah tersinggung.”

Okelah. Baik. Benar juga. Rasanya memang tak perlu bereaksi ngamuk atau misuh-misuh, seolah saya ini buzzer-nya SALAM. Santai saja. SALAM tidak butuh dibela, tidak butuh panggung di luar sana, dan SALAM juga tidak butuh buzzer. Mungkin, Sang kreator konten tersebut belum mengenal SALAM dari dekat. Izinkan saya untuk menganggapnya sedang berusaha membuatkan panggung untuk SALAM. Padahal SALAM tak butuh itu karena warga SALAM terlatih menciptakan panggung-panggungnya sendiri.

Pasar Ekspresi

Salah satu panggung di SALAM adalah Pasar Ekspresi. Saya menyebut demikian karena siapa pun boleh unjuk diri dalam kegiatan tersebut. Sesuai namanya, ia merupakan kegiatan yang mewadahi berbagai ekspresi dari warga SALAM yang beragam. Walau banyak dari warga SALAM yang berasal dari keluarga seniman dan budayawan, namun Pasar Ekspresi tak hanya menjadi wadah bagi mereka yang dalam tubuhnya mengalir darah seni saja.

Hingga tahun 2022 ini, Pasar Ekspresi sudah berlangsung sebanyak 16 kali. Meski biasanya rutin diadakan, panggung kebebasan berekspresi di SALAM ini sempat vakum selama pandemi. Secara garis besar, Pasar Ekspresi mirip dengan acara-acara pensi yang biasa  diadakan di berbagai sekolah tingkat menengah dan kampus-kampus.

Pasar Ekspresi dilengkapi dengan panggung, MC, dan para penampil. Selain itu, selalu ada bazaar yang menjual berbagai hal. Tak ketinggalan pula, doorprize-doorprize yang melimpah untuk menyemarakkan acara. Jika serupa dengan pensi-pensi di luar sana, lalu apa yang membuat Pasar Ekspresi begitu istimewa bagi warga SALAM?

Begini penjelasannya. Kebanyakan pensi di luar sana, digarap dan diinisiasi oleh siswa sepenuhnya dan untuk siswa pula peruntukannya. Di sekolah yang memiliki privilese berupa dana yang melimpah, tak jarang pensi digarap dengan menyerahkan pada pihak Event Organizer. Tak heran jika pensi kadang menjadi ajang persaingan gengsi antar sekolah dan kampus.

Namun, berbeda dengan pensi yang seperti itu, Pasar Ekspresi merupakan kegiatan yang awalnya diusulkan oleh ForSALAM (Forum Orang tua SALAM) sebagai ajang fundraising dan dijalankan oleh panitia yang berasal dari OAS (Organisasi Anak SALAM). Untuk penyelenggaraan kegiatan, panitia menghimpun dana dari penjualan kupon doorprize, penjualan kaus, serta penyewaan lapak. Tentu saja, ada dukungan utama berupa kekuatan komunal dari segenap elemen SALAM, sehingga Pasar Ekspresi selalu berlangsung dengan meriah dari waktu ke waktu.

Panggung Utama yang Dirindukan

Dua tahun tanpa Pasar Ekspresi rupanya telah membuat warga SALAM memendam kerinduan untuk mengekspresikan kebersamaan. Hadirnya Pasar Ekspresi #16 pada tanggal 18 Agustus 2022 sontak menjadi ajang pemuas rindu. Panitia kali ini diketuai oleh Sena Radhitya. Ia baru kelas X, namun sudah piawai memimpin sebuah event. Tentu ia tak berjalan sendirian. Saya pun dengan tulus angkat topi untuk seluruh panitia serta para orang tua yang tak enggan untuk diminta urun rembug.

Hari itu (18 Agustus 2022), saya melihat suasana SALAM sangat ramai wajah-wajah penuh senyum. Penampil pun membludak dan cukup beragam. Bayangkan saja ramainya sebuah panggung dengan pertunjukan berupa jathilan, tari tradisional, alunan suling tradisional, lagu-lagu dolanan anak, puisi, drama musikal, pertunjukan dari drummer cilik, band dari berbagai aliran musik, hingga ragam seni modern berupa tarian dan DJ performance.  Penampil sebanyak itu membuat saya menyadari bahwa energi para warga SALAM dalam berkreasi memang tak terbendung. Hebatnya, semua yang ingin tampil, ya diberi panggung.

Panggung utama dalam Pasar Ekspresi #16 tak hanya panggung pementasan. Ada juga panggung ekonomi dalam lapak peserta bazaar. Panggung ini didominasi oleh perwakilan dari kelas-kelas. Kelompok Bermain dengan koordinator Bu Eva, menjadi salah satu stand penjual palugada dengan penghasilan mencapai lebih dari Rp 500 ribu. Jumlah yang serupa juga didapatkan oleh lapak kelas Taman Anak (TA) seperti dituturkan oleh Olen, salah satu orang tua di kelas TA. Sementara kelas lain mendapat hasil beragam dengan kisaran tak jauh dari nominal tersebut. Dana yang didapat kemudian dikelola untuk mendukung kegiatan-kegiatan  kelas.

Dari aneka lapak yang ada, ada satu lapak yang tampil sedikit berbeda. Lapak istimewa ini, diinisiasi oleh Khalila kelas 5 SD. Ia menggagas penggalangan dana untuk sterilisasi kucing setelah melihat banyaknya kucing tanpa tuan yang dirawat oleh Bapak Yanto, tetangga SALAM. Saya berpikir bahwa, inilah hasil kemerdekaan belajar yang sesungguhnya. Anak diberi ruang untuk mengamati, berpikir, dan mengekspresikan kepeduliannya menjadi sebuah tindakan yang nyata. Tentu hal-hal seperti ini sulit terjadi jika anak tak mendapat panggung utama dalam proses belajarnya.

Panggung Bermain yang Aman

Keragaman yang ada di SALAM tak pernah dipaksakan untuk melebur. Hal ini terlihat dari sikap para fasilitator dan para orang tua yang tak pernah memaksa anak untuk naik pentas. Meski dalam setiap Pasar Ekspresi selalu menampilkan pementasan dari tiap kelas, namun tentu saja tetap ada kebebasan buat mereka yang enggan naik ke pentas.

Ya, nggak pentas juga nggak apa-apa, toh masih ada panggung lain. Dua dari tiga anak saya pun mengalaminya. Mereka lebih memilih tampil di panggung lain, yaitu panggung bermain. Tak semua anak mau pentas, tapi hampir semua anak bergembira di panggung bermain. Dan panggung yang saya maksud adalah sebuah papan luncur pengangkut barang yang berada di atas galengan.

Pemandangan menyenangkan yang selalu terlihat tiap berlangsungnya Pasar Ekspresi adalah anak-anak yang sibuk bermain di papan luncur pengangkut barang. Papan luncur ini, memang hanya hadir jika SALAM punya gawe. Maka kehadirannya menjadi panggung bermain yang tak kalah dirindukan selain panggung utama dan bazaar.

Anak-anak dari berbagai kelas membaur dan saling jaga. Anak yang lebih besar momong anak yang lebih kecil. Anak yang besar berusaha menenangkan ketika  seorang anak kelas Kelompok Bermain menangis, meski anak yang lebih kecil itu bukan adiknya. Perihal momong adik lain ini menjadi gaya hidup anak-anak SALAM yang dapat disaksikan setiap hari.

Pemandangan berupa interaksi sehat antar anak di SALAM, menjadi hal yang selalu menarik bagi saya. Di luar sana, kita mendengar banyak kisah tentang perundungan yang berujung menjadi tindak kriminal akibat enggannya manusia modern terlibat aruh-aruh pada anak liyan. Belum lagi kisah mengerikan soal kejahatan seksual yang menimpa anak-anak. Tapi di sini, saya melihat sebuah ruang aman yang dijaga bersama-sama secara komunal. Rupanya prinsip di SALAM yaitu jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan, tak hanya menjadi jargon semata.

Tentu masih banyak detil lain dari Pasar Ekspresi #16 yang tak mampu saya gambarkan dalam tulisan ini. Anda bisa membacanya pada tulisan Hanie Maria, “Pasar Ekspresi #16: Kemeriahan dan Kerja Keras yang Tak Terekam dalam Kamera”, untuk mendapatkan potret yang lebih utuh tentang Pasar Ekspresi #16. Apa yang saya lihat dalam SALAM dan Pasar Ekspresi, membuat saya menyimpulkan bahwa pantas saja kebanyakan warga SALAM itu kalem-kalem dan nggak kebelet naik pentas saat melihat panggung di luar sana. Jarang warga SALAM bersikap over reaktif terhadap aneka keriuhan. Wong ya memang sudah mahir mencipta panggung-panggungnya sendiri untuk mengekspresikan diri, kok. []