Memindah Halaman ke Dapur : Semacam Resensi

A: “Kebalik ya Mbak?”
B: “Apanya?”
A: “Itu judulnya…kan buku mbak Gernatatiti yang minggu lalu diluncurkan, judulnya: MEMINDAH DAPUR KE HALAMAN.”
B: “Nah…itu kan memang buku mbak Gerna. Kalo yang ini…tulisan saya sendiri: Memindah Halaman ke Dapur.”

Memindah Dapur Ke Halaman

Mungkin seperti ini analoginya untuk menggambarkan pikiran anak-anak kita yang masih  murni dan bebas. Orang dewasa sering kali punya ukuran-ukuran, aturan standar, yang seolah lebih bijak daripada pikiran atau pendapat yang paling asli dan alami dari seorang anak.

Saya membayangkan diri sendiri menjadi seumuran Jalu, sang tokoh utama dalam kisah-kisah yang tertulis di buku. Alangkah indahnya masa kecil seperti itu, dengan ayah ibu yang begitu terbuka, dengan para guru yang penuh cinta. Jika berkaca pada pengalaman sendiri dulu, betapa sangat sedikit ruang berekspresi yang jujur bagi anak-anak, karena sudah adanya aturan dan berbagai batasan yang menutup jalan dialog yang penuh penghargaan pada anak-anak.

Buku Mbak Gernatatiti tersebut sejak kemunculan kabar akan terbitnya, sudah membuat pikiran saya berkelana. Buku apakah itu? Apakah semacam picture book, buku bergambar? Apakah novel anak? Apakah kumpulan kisah pengalaman? Apakah ada hubungannya dengan Salam, karena beliau sendiri memang seorang fasilitator SALAM, yang anaknya juga bersekolah di SALAM? Atau buku seni, yang membahas bagaimana cara memindah dapur ke halaman?—Saya menanti dengan aktif, mengintip postingan-postingan di akun medsosnya. Ternyata, kini buku itu sudah dalam genggaman.

Lalu saya mulai membaca buku halaman demi halaman. Inilah yang menjadi kesan bagi saya secara pribadi. Ternyata buku yang bagus itu bukan karena ejaannya yang paling sempurna, atau ditulis oleh seseorang dengan gelar sepanjang rel kereta Jogja-Jakarta. Buku yang bagus itu buku yang berhasil menggerakkan pikiran, hati, imajinasi, motivasi dari dalam diri pembaca, untuk mengambil makna baik dan direfleksikan dalam kehidupannya. Buku Mbak Gerna ini salah satunya.

“Hushh ngomong kaya gitu!”

“hush ga boleh kaya gini!”

Terdengar seperti pengalaman pribadi? Hmm berarti kita lahir di masa yang sama.

Buku ini hadir sebagai semacam buku harian seorang ibu tentang keseharian anaknya, Jalu, bersama teman-teman, yang tak luput dari perhatiannya. Ada yang mengundang tawa, gemes, mungkin jengkel juga, tapi sang ibu bisa melaluinya tanpa kebanyakan HASH…HUSH …ARRRRRRRGH!

Mau membicarakan spiritual, politik sampai menikah, si ibu tetap meladeni pertanyaan anaknya. Hal yang paling menarik dari buku ini adalah pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban Jalu yang apa adanya serta menggelitik. Semacam ini:

“Menikah itu apa?”

“Di sekolahku tidak ada pagar, tidak ada satpam, tapi anak-anaknya tidak keluar-keluar.”

“Mah, jadi kalau sekolah di sekolah Mbak Ata itu anak-anaknya jadi kaya ayam ya, Mah? Lha kan dimasukkan pagar. Kayak di kandang.”

“Hiii Mamah kaya hantu (waktu mamah mencoba lipstik baru)”

“Nah masalahnya, kalau aku sama Nara jadi chef semua, terus anakku yang ngurus siapa?”

“Mamah dulu cita-citanya apa? Kok sekarang nggak jadi apa-apa?”

“Mamah kalau marah kaya ular kobra. Bapak kalau marah kaya kalajengking . Aku kalau marah kaya monyet.”

“Beneran Mah, Nara mau ke sini? Yes, besok Iqbal bisa lihat pacarku. Hooh to, Bal?”

“Atau bisa juga gini, Mah. Roh itu nanti setelah meninggal to, kan jadi roh, trus meninggal lagi. Trus jadi roh lagi, trus meninggal lagi. Sampai rohnya jadi keciiiiil banget.”

Mari kita simak lagi judul buku sekaligus salah satu judul cerita di dalam bukunya, MEMINDAH DAPUR KE HALAMAN. Tak banyak lho orang tua yang rela anak-anak melakukan hal-hal tidak biasa, seperti di dalam cerita. Jalu bersama temannya menemukan telur, lalu ingin memasaknya. Meskipun usianya baru 6 tahun saat itu, sang ibu tetap santai namun percaya bahwa anaknya bisa melakukannya, tentu saja pesan hati-hati tetap disuarakan ya, bukan dibiarkan begitu saja. Ibu juga berperan membantu atau siap sedia apapun yang diperlukan, juga bisa memberikan saran-saran.

Beruntunglah saya, bisa sedikit mengenal sosok sang penulis, ya seorang ibu, ya fasilitator. Mbak Ge, begitu beliau biasa disapa, memang sudah banyak menelurkan tulisan menyentil dan inspiratif yang bisa disimak di website Salam, dan anak kami sama-sama berproses di kelas Taman Anak Salam.

Tulisan-tulisan dalam buku berilustrasi ini, bisa menjadi teman kita, ibu-ibu, yang suka parno (paranoid), atau malah yang superslow menghadapi dinamika hidup. Bukan untuk menjadi ibu persis seperti mbk Ge ini, tapi untuk lebih memandang anak kita masing-masing, apa yg disuka dan tidak, apa yang perlu dilakuan dan tidak terhadapnya, dan lain-lain menyangkut diri sendiri, kepengasuhan dan tentunya buah hati tercinta, sehingga setiap anak mendapat ruang menjadi diri sendiri tanpa banyak penghakiman. Saya perlu banyak belajar mengenai hal ini.

Saya juga membayangkan kalau setiap ibu punya jurnal harian, mungkin toko buku akan punya rak khusus sendiri ya, dengan gantungan di atas bertuliskan: CATATAN SI MAK. Atau minimal, seperti yang pernah saya utarakan pada beberapa teman. Para orang tua yang anaknya di SALAM bisa menuliskan kisah perjalanan memahami anak dan diri sendiri selama berproses di SALAM. Anak-anak SALAM sudah menghasilkan buku. Fasilitator SALAM juga sudah, bahkan bukunya hampir launching yang terbaru. Nah giliran orang tua menulis sepertinya, dan Mbak Ge sudah memulainya.

Akhir kata, proficiat untuk penulis mbak Gernatatiti dan ilustrator mbak Deidra Mesayu, semoga buku mungil ini menjadi pemantik karya-karya berikutnya, dan memberi nilai manfaat bagi para pembacanya.

“Memindah Dapur ke Halaman”, atau
Memindah halaman ke dapur,
Semoga para orang tua menjadi lebih peka terhadap maksud dan keinginan anak-anaknya.

** Saya sarankan buruan pesan ke mas Bram +62 822 3213 7255 atau IG @sedapursalam []

#literasi #baca #iqra #sekolahapaini