Pungki Purbowo dan Drawing

Pungki Purbowo merupakan mantan mahasiswa Jurusan Seni Lukis Akademi Seni Rupa (ASRI), yang kemudian menjadi Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) Institut Seni Indonsia (ISI) Yogyakarta, 1981-1986. Pungki begitulah panggilan akrabnya, lahir di Jakarta, 29 September 1959 ikut aktif berproses di SanggarBambu setelah 22 tahun sanggar ini berdiri. Dia terlibat dalam teater, selain seni rupa atau lebih spesifik seni lukis. Purbowo mengenyam pendidikan SMA YPK Biak, Irian Jaya, 1979. SMPN 1 Purbalingga, Jawa Tengah, 1975, SDN Serengseng Sawah 1, Jakarta Selatan, 1972.

Sejak lulus dari ISI, ia bekerja sebagai disain grafis dibeberapa perusahaan di Jakarta dan pada 1998 kembali melukis, mematung, sebagai artworker dan sejak 2013 menekuni Drawing Art.

Pungki Purbowo (53), mengabadikan beberapa potrait yang dianggapnya tokoh di negeri ini dan juga ditokohkan oleh banyak orang, ke dalam karyanya melalui teknik drawing dengan menggunakan pena (bolpoint). Drawing Purbowo menjadi sangat menarik untuk diapresiasi sehubungan akan dibawa kemana negeri ini oleh para tokoh yang masih aktif tersebut, dengan konsep kenegaraan Indonesia terkini. Sementara bagi Purbowo, gambar-gambar tokoh tersebut sebagai pendalaman dan pengenalannya berdasarkan pengalaman batinnya.

Drawing menjadi bahasa ungkap terhadap kenangan, laku sejarah, gerakan sosial dan perjuangan yang dilalui para tokoh yang menjadi objeknya. Seperti terungkap pada karya-karya yang dipamerkan di Cafe Anglo Yogyakarta, satu di antaranya adalah drawing presiden yang berkuasa 32 tahun setara dengan 7 repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan wajah seorang perempuan yang memperjuangkan nasib buruh dari Jawa Timur yang diculik kemudian ditemukan terbunuh.

Di sini kita seperti disadarkan oleh seorang Purbowo mengenai tokoh-tokoh yang selama ini dikenal luas. Bagaimana Purbowo menunjukkan kekuatannya atau keahliannya dalam menggambar sosok. Ketajaman menangkap karakter tokoh melalui garis dan setiap arsirannya dari pena yang memunculkan karakter tokoh, menjadi karakter Purbowo dalam pencitraan karya drawingnya. Dia terlebih dulu menguasai karakter pena yang memerlukan ketepatan perhitungan, karena hasil goresan dan arsirannya tidak memungkinkan baginya untuk dihapus apabila terjadi kesalahan.

Sebanyak 20 karya drawing Purbowo berukuran 80cm x 40cm di atas kertas yang dibuat antara 2013-2014 ini, mempertemukan tokoh-tokoh dalam satu ruang pamer, seakan mereka sedang melakukan rapat koordinasi atau konferensi restruktur konsep kenegaraan, bagaimana Nusantara mengulang kejayaannya. Di antara yang ditokohkan Purbowo termasuk sebagai objek drawingnya adalah dua kandidat Calon Presiden (Capres). Apakah Tokoh yang menjadi karya drawing Purbowo merupakan tokoh Nusantara, atau bukan tokoh Nusantara, menjadi bagian pemikiran yang diserahkan kepada semua pihak yang menilainya. Sebab alasannya tokoh atau bukan tokoh itu bisa bermula dari keputusan setiap personal. []

Pada perhelatan Seni Rupa CA-RA-KA yang diselenggarakan FORSALAM 2-15 Mei 2018 di Warung Dst, Kasihan, Taman Tirto Bantul, Pungki Purbowo menyajikan “Alam”  Tinta di atas kertas 100×100 cm