Duvrart Angelo & “Blood Flower”

Duvrart Angelo, perupa yang orangtua murid SALAM—pernah menempuh pendidikan S1 Seni Rupa Murni ISI Yogyakarta, di Perhelatan Seni Rupa yang diselenggarakan FORSALAM CA-RA-KA akan menampilkan karya tiga dimensi “Blood Flower”, Resin Polyester 52 x 62 x 62 cm.

Duvrart Angelo, “Blood Flower”, Resin Polyester 52 x 62 x 62 cm.

Karya ini berwujud Bunga Merah dengan dollar dibagian depan mahkota dan batang bunga seolah meneteskan cairan. Pada karya tersebut bapak dari tiga anak laki-laki ini ingin mengungkapkan kesedihan yang dirasakan bangsa kita ini akibat dari penjajahan ekonomi terhadap Indonesia terkait hutang negara yang semakin tak masuk akal, sehingga bangsa kita belum sempat fokus membangun perekonomian yang fundamental.

Menurutnya, hal itu berdampak pada situasi meningkatnya kemiskinan dan semakin menganga jurang tingkat ketimpangan sosial masyarakat. Ini salah satu akibat bagi negara yang sangat tergantung dari institusi keuangan Internasional.

Pria yang pernah membuat karya ‘Pollutant Reactor’ yakni alat pembakar sampah daun. Menurut Angelo, dengan membakarnya akan dihasilkan energi panas yang bisa dikelola lagi menjadi berbagai macam hasil seperti pemanas air, pemutar turbin atau sekadar penghangat ruangan. Namun ternyata alat ini juga menghasilkan polutan yang berkontribusi dalam kerusakan alam. Karya tersebut merupakan metafora Angelo atas kenyataan sosial yang dilihatnya, isu yang diolah oleh organisasi massa tertentu sehingga bisa mengumpulkan massa, yang berujung keuntungan finansal.

Duvrart Angelo

Angelo juga terlibat dalam perancangan dan pelaksanaan di beberapa wahana hiburan di Taman Pintar Yogyakarta dan TMII Jakarta ini mempunyai pendapat tentang kaitannya pendidikan dengan seni. Menurutnya Didalam proses pendidikan yang ideal menurut saya seni sangat diperlukan secara teknis karena proses menentukan hasil, dalam konteks ini proses belajar dan mendidik seseorang akan lebih menyenangkan dan lebih mudah di implementasikan jika dengan seni karena esesnsi dari seni adalah mengolah rasa sehingga tercipta suasana senang dan nyaman jika sebuah proses pendidikan sudah didasari rasa senang maka belajar apapun akan mudah dan selalu berkembang” []