Blog

“Robohnya Sekolah Rakyat Kami: 25 Tahun Sanggar Anak Alam”

Ada yang lahir bukan dari rahim ibu, tapi dari rahim keprihatinan. Ada yang tumbuh bukan karena disiram pupuk pemerintah, tapi karena air mata harapan rakyat. Ada yang hidup bukan karena ditopang dana BOS atau DAK, tapi karena ditiupkan nafas cinta dan semangat belajar yang merdeka. Salah satunya adalah Sanggar Anak AlamSALAM.

Bulan Juni ini, SALAM genap 25 tahun. Usia yang, kalau manusia, sedang asyik-asyiknya mempertanyakan makna hidup. Tapi SALAM bukan manusia biasa. Ia lahir dari manusia-manusia luar biasa, dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang ndak kuat menyekolahkan anaknya di sekolah yang terlalu penuh angka, rapor, ranking, tapi kosong ruh, kering makna, dan dangkal cinta.

Maka dari situ lahir satu sekolah, bukan sekolah. Karena SALAM tidak pernah mau disebut sekolah. Ia sanggar. Ia rumah. Ia taman. Ia ladang tempat benih tumbuh sesuai musimnya. Anak-anak tidak dibonsai oleh kurikulum yang sudah kadaluwarsa sebelum sempat dipahami. Mereka tidak dipaksa jadi juara, tapi diajak jadi manusia.

Dan kini, di usia perak ini, SALAM menggelar peringatan bertajuk “Robohnya Sekolah Rakyat Kami”. Judul yang bikin bulu kuduk berdiri. Bukan karena serem, tapi karena sedih. Judul itu diambil dari cerpen legendaris AA Navis, “Robohnya Surau Kami”, yang bercerita tentang rumah ibadah yang megah, tapi kosong. Surau yang sibuk dengan puasa dan zikir, tapi lupa pada lapar dan luka tetangga sebelah.

SALAM hari ini seperti sedang berkaca: apakah sekolah rakyat kita juga sudah seperti surau itu? Apakah semangat nguri-uri anak-anak sudah tergantikan oleh urusan akreditasi? Apakah guru-guru sudah berubah jadi tukang ulangan dan administrasi, bukan lagi penenun makna?

SALAM tidak sedang merayakan sukses. Ia sedang merenung. Karena dalam 25 tahun itu, lebih banyak keraguan daripada tepuk tangan. Lebih sering dicurigai daripada dipahami. SALAM lebih sering ditanya ijazah daripada ditanya tentang kontekstual. Lebih sering diminta laporan, daripada didoakan keselamatan.

Di SALAM, anak-anak bukan murid. Mereka sedulur. Mereka bukan wadah kosong yang harus diisi, tapi mata air yang perlu dijaga alirannya. Mereka bukan target capaian KKM, tapi peladang kecil yang menanam masa depan.

Mereka belajar menumbuhkan tanaman, menakar air mata, mendengarkan semut, dan memahami kenapa daun gugur tanpa gaduh. Mereka belajar dari kehidupan, bukan dari buku paket. Mereka menyusun proyek bukan demi nilai, tapi demi paham: paham diri, paham bumi, dan paham sesama.

Tapi apakah itu cukup? Di tengah dunia yang makin keras kepala dengan logika industri, apakah masih relevan sekolah yang lembut, yang sabar, yang tidak terburu-buru? SALAM bertanya itu pada dirinya sendiri — dan kita semua diajak menjawabnya bersama.

Robohnya sekolah rakyat kami… mungkin bukan karena gedungnya lapuk, tapi karena jiwanya dijebak. Karena rakyat disuruh ikut sistem yang dibuat tanpa partisipasi. Karena guru hanya dijadikan alat ukur prestasi, bukan pejuang karakter.

SALAM berdiri 25 tahun lalu bukan untuk mengganti sekolah, tapi mengingatkan. Seperti Nabi, ia tak datang membawa ajaran baru, tapi menyempurnakan. Mewartakan kabar baik bahwa anak-anak masih bisa jadi anak-anak. Bahwa belajar bisa sambil tertawa, bertani, menari, berpuisi, bahkan menyapu daun.

Maka, mari kita rayakan peringatan ini bukan dengan gegap gempita, tapi dengan sejenak diam: menunduk di hadapan waktu, mendengarkan napas anak-anak, dan menyadari bahwa sekolah rakyat adalah tempat kita mengabdi, bukan berkuasa.

SALAM bukan sekadar sanggar. Ia pengingat. Bahwa sekolah bisa roboh bukan karena gempa bumi, tapi karena kehilangan ruh. Dan selama SALAM masih berdiri, kita semua masih punya harapan — bahwa pendidikan bisa kembali jadi ibadah, bukan industri.

Selamat ulang tahun, SALAM. Tetaplah merunduk, tetaplah bersujud. Karena yang merunduk, justru tak mudah roboh.[]

 

2 Comments

  1. Avatar

    Selamat atas 25 tahun mewarnai ranah pendidikan di Indonesia, SALAM.

  2. Avatar

    Salam katur Pak Toto dan KELUARGA SALAM, PARA PEJUANG KARAKTER, semoga selalu tetap hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *