Blog

Salam Adalah Kami

Pada tanggal 20 Juni 2025, tepat di hari perayaan seperempat abad Sanggar Anak Alam (SALAM), sebuah tulisan mengalir dari lereng pegunungan Banjarnegara. Bukan sekadar catatan, tetapi sebuah kesaksian hidup yang ditulis dengan hati oleh Din Setyawan, salah satu alumni SALAM Lawen yang kini menetap dan berkarya di Lawen, sebuah desa kecil di Banjarnegara.

Din bukan sekadar menyapa, ia membawa serta suara waktu. Dalam tulisannya, ia mengenang hari-hari di SALAM sebagai semacam musim belajar yang tak akan pernah habis dipetik buahnya. Ia mengenang bagaimana di usia belianya dulu, SALAM bukan hanya tempat belajar membaca dan menulis, tapi tempat belajar menjadi manusia. Belajar mendengarkan, merasakan, bahkan bertanya — kepada semesta, kepada orang lain, dan kepada dirinya sendiri.

Bagi Din, SALAM adalah mata air yang tidak pernah kering, bahkan saat ia jauh secara geografis. Di Lawen, ia memilih hidup lebih dekat dengan tanah, dengan anak-anak, dan dengan cara hidup yang lebih menyatu dengan alam. Ia menyebut bahwa semua keputusan itu tidak mungkin hadir jika ia tidak pernah diasuh oleh nilai-nilai hidup yang ia pelajari di SALAM: kesadaran, kejujuran, kemandirian, serta keberanian untuk memilih jalan yang tidak umum — jalan yang mungkin sepi, tapi jernih dan utuh.

Dalam tulisannya, Din tidak sedang bernostalgia, tetapi menyampaikan bukti bahwa benih yang dulu ditanam di SALAM telah tumbuh dan berbuah di banyak penjuru. Ia mewakili satu cerita kecil dari sekian banyak cerita besar yang tak sempat dihitung satu per satu. Cerita yang menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar soal kurikulum, tetapi tentang tumbuh bersama, dalam cinta dan kesabaran.

Din mengakhiri tulisannya dengan satu kalimat yang seolah mewakili seluruh alumni SALAM yang sedang menatap dunia dengan langkahnya masing-masing:
“Kami boleh jauh, tapi sungai nilai-nilai dari SALAM terus mengalir di dada kami. Di mana pun kami berada, kami tetap belajar menjadi manusia.”

Tulisan Din Setyawan bukan hanya menjadi ucapan selamat ulang tahun, tapi juga semacam cermin bagi SALAM untuk menatap ke belakang dan ke depan — bahwa jalan yang sudah ditempuh selama 25 tahun ini bukanlah jalan yang sia-sia. Bahwa dari sebuah sanggar kecil di pinggir kota, lahirlah manusia-manusia yang punya keberanian merawat hidup, satu demi satu, dengan tenang dan tekun.

Sebuah salam dari Banjarnegara, untuk ulang tahun ke-25 SALAM.(Redaksi)

Hidup ini bukan kurikulum. Ia bukan sekadar rangkaian bab dan semester, bukan pula soal naik kelas atau lulus ujian. Hidup itu proses — dan proses itu butuh ruang. Butuh tanah untuk tumbuh, butuh air yang mengalir sabar, dan butuh matahari yang tidak membakar. Nah, sejak kecil, kami diberi ruang itu. Di tempat bernama Salam, kami belajar bukan untuk bisa, tapi supaya kami manusia.

Bukan sekadar belajar membaca atau berhitung, tapi belajar mengerti diri. Mengerti alam. Mengerti bahwa setiap kegagalan adalah guru, dan setiap keberhasilan adalah kesempatan untuk bersyukur — bukan untuk sombong. Di Salam, kami tidak dijejali pelajaran. Kami diajak berdialog. Bukan hanya dengan guru, tapi juga dengan ayam, dengan air sungai, dengan kesunyian pagi, bahkan dengan bau kompos yang tak semua orang bisa tahan.

Kami lahir bukan dari ruang ber-AC dan barisan bangku. Tapi dari sawah dan kebun, dari lumpur dan tawa, dari peluh dan cinta. Maka kami kuat. Maka kami waras. Kami bisa berdiri hari ini, di tengah dunia yang makin terburu-buru, makin bising, makin suka menghakimi, karena dulu kami ditempa di tempat yang sabar. Di oase, yang mengajarkan bahwa setiap manusia punya irama sendiri. Bahwa tidak semua burung harus terbang tinggi — ada yang memilih menyanyi di ranting rendah, dan itu tetap berarti.

Salam — atau lengkapnya, Sanggar Anak Alam — bukan sekadar sekolah. Ia bukan institusi. Ia rumah. Rumah yang tidak membesarkan kami sebagai produk, tapi sebagai ciptaan Tuhan yang unik. Kami bebas memilih, tapi juga diajak bertanggung jawab. Kami tidak diceramahi, tapi didengarkan. Kami tidak dipaksa hapal, tapi dibimbing mengerti.

Kini usia Salam Yogyakarta genap 25 tahun. Tapi sebelum itu, ada yang lebih dulu: Salam Lawen. Di situlah benih itu ditanam. Di sana, kami para alumni belajar menggembalakan diri sendiri, sebelum kelak menggembalakan hidup. Salam Lawen bukan sekadar tempat awal — ia akar. Dan akar yang baik, akan tumbuhkan pohon yang kuat, meskipun daunnya nanti beda-beda bentuk.

Kini, di usia yang tak lagi anak-anak, kami menengok ke belakang. Menyadari bahwa hidup kami hari ini tak bisa dilepaskan dari pengalaman itu. Dari proses panjang yang tidak pernah instan, dari luka-luka kecil yang dulu kami rawat dengan tertawa bersama teman-teman. Dari cinta yang tidak diucapkan dengan kata-kata, tapi dengan kehadiran, dengan kepercayaan, dengan pelukan diam saat kami bingung.

Salam adalah kami. Bukan hanya kenangan, tapi nadi. Bukan hanya masa lalu, tapi fondasi yang menopang masa depan. Ia terus hidup di dalam cara kami berpikir, bekerja, bermasyarakat. Kami tidak tahu jadi apa kami sekarang kalau dulu tidak disapa oleh keajaiban bernama Salam. Mungkin kami tetap hidup. Tapi tidak sehidup ini.

Jadi kalau ada yang bertanya: “Apa yang membuat kalian bisa bertahan di dunia yang keras ini?”

Jawab kami sederhana: karena dulu kami pernah berteduh di Salam. Dan dari mata air itu, kami minum makna.

Salamualaikum. Salam Kasih. Salam adalah Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *