Sanggar Anak Alam (SALAM)

Sanggar Anak Alam atau sering disingkat SALAM adalah sekolah yang dirintis Sri Wahyaningsih dan Toto Rahardjo di tempat tinggalnya di daerah Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Wahya, begitu panggilan akrabnya, merintis sekolah ini di tahun 2000. Namun rintisan ini bukan yang pertama.

Pendidikan tidak bisa lagi tergantung pada negara
Pendidikan tidak bisa lagi tergantung pada negara

1988 silam, Wahya menginisiasi kegiatan belajar bersama masyarakat dengan nama yang sama, SALAM, di Lawen, Banjarnegara. Ketika harus kembali tinggal di Jogja karena mengikuti hijrah pak Toto (suami), , Wahya tak mengulur waktu untuk kembali membangun SALAM. Tentu saja kali ini perspektif mbangun deso seperti yang diusungnya di desa Lawen harus banyak disesuaikan. Terutama karena faktor demografis yang sangat berbeda antara Lawen dan Jogja.

Perspektifnya kali ini lebih ke arah menciptakan ruang riang untuk belajar. Kegiatan awal yang diinisiasi Wahya adalah pendampingan remaja. Bersama beberapa kawan, sebuah komunitas dan beberapa relawan mahasiswa, Wahya menggawangi mulai dari kegiatan jurnalistik hingga pertanian organik untuk 140-an remaja.

Berawal dari kerjasama dengan LSPPA dan kelompok PKK Nitiprayan, SALAM menginisiasi playgroup yang di SALAM kerap disebut Kelompok Bermain (KB) di tahun 2004. Program kerjasama itu berawal dari kursus singkat untuk para ibu tentang pendidikan anak usia dini. Lantas ibu-ibu dengan anak-anak balita berinisiatif unuk menyelenggarakan kelas di pendopo rumah Wahya.

Dorongan untuk membuka kelas di atasnya datang dari orangtua para siswa yang lulus. Maka, bak arus yang mendorong dari bawah, kelas-kelas di atas KB dibuka secara berkelanjutan, hingga dibukalah kelas Taman Anak (TA) di tahun 2006, SD di tahun 2008 dan SMP di tahun 2013.

Hingga saat ini status legal yang disandang SALAM adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Hal ini bukannya tanpa sengaja dipilih begitu saja oleh para pendiri. Menurut Toto, yang juga aktif menjadi partner Wahya dalam gagas, format PKBM dianggap format yang memberi ruang paling luas bagi SALAM. Selain menyusun kurikulumnya sendiri, SALAM kerap dianggap sebagai pembaharu karena cara pandangnya yang mendasar tentang pendidikan.

Seiring waktu, SALAM menjadi pelabuhan bagi banyak orang yang peduli pada pendidikan. Mulai dari mahasiswa, praktisi, hingga orangtua murid bergabung menjadi fasilitator. Sedikit dari mereka mantap menetap, selebihnya silih berganti, datang dan pergi.

Fasilitator adalah istilah yang umum dipakai di SALAM untuk mengganti sebutan ‘guru’. ‘Fasilitator’ dianggap sebagai bahasa yang tepat karena peran utama mereka di kelas adalah memfasilitasi tiap anak untuk belajar. Perannya bukan lagi sebagai ‘pemberi ilmu’ namun lebih sebagai ‘perantara ilmu’. Di SALAM tiap anak diajak untuk menemukan sendiri ilmu yang ingin mereka pelajari. (Gerna)