Foto: Yanuar Surya.

Siswa, Pelajar Penghuni Sekolah

Pelajar tidak bisa dipisahkan dengan lingkungan dan sistem pendidikan, karena sejatinya pelajar itu adalah seseorang yang sedang menuntut ilmu baik itu secara formal maupun non-formal. Adapun pelajar terbagi menjadi 2 berdasarkan jenjang pendidikannya, yaitu siswa dan mahasiswa. Siswa istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan menengah pertama dan menengah atas dan mahasiswa merupakan istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi ataupun sekolah tinggi.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Wahai orang tua, orang dewasa ketahuilah bahwa kesalahan yang tak bisa dimaafkan yakni ketika kita mulai pura-pura tak melihat, tidak mendengar, hingga tidak peduli terhadap kenyataan bahwa para siswa, pelajar penghuni sekolah hari ini, dengan segala pengalaman, wawasan, kesejahteraan, kesenjangan, penderitaan, pembodohan, dan kebahagiaan yang mereka lalui, kelak akan menentukan arah kehidupan berikutnya.

Sampai hari ini para siswa, pelajar penghuni sekolah masih menjadi kelompok bisu, bahkan dibeberapa kesempatan terkadang pelajar dirasa merupakan gerombolan yang sangat meresahkan orang tua, orang dewasa. Pelajar belum memiliki posisi tawar yang cukup memadai untuk menggambar kehidupan mereka sendiri. Mereka masih sangat terpinggirkan secara sosial, ekonomi, maupun politik. Mereka dieksploitasi, dijual karena keserakahan para pemangku kebijakan, mereka terabaikan karena keluguan dan ketakberdayaan mereka. Mereka menjadi generasi yang frustasi dan bermasalah karena adanya konstribusi signifikan dari lingkungan, sistem dan kultur yang ada ini.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Pada dasarnya siswa, pelajar penghuni sekolah tidak bisa terlepas dan bahkan erat kaitannya dengan pendidikan, yang seharusnya berposisi, bersifat mendampingi para siswa, pelajar memahami potensi dan kecenderungan, menumbuhkan kreatifitas serta memberi ruang agar para pelajar, siswa penghuni sekolah mampu mengekspresikan dirinya secara positif sehingga betul-betul menemukan passion dalam kehidupannya serta memahami posisi dirinya sebagai sang penerus generasi. Namun pendidikan yang ada justru malah bertindak sebaliknya, proses belajar yang dirasakan oleh siswa, pelajar penghuni sekolah laksana sebuah penjara yang tidak menumbuhkan kemerdekaan berekspresi, bahkan sekolah diam-diam berperan menghambat para siswa, pelajar penghuni sekolah melakukan proses belajar untuk menemukan pengetahuannya sendiri.

Keliaran imajinasi, kreatifitas siswa, pelajar penghuni sekolah tidak akan ditemukan, yang ada justru sebaliknya karena berbagai pengekangan dan tekanan yan sama sekali tak diimbangi pembangunan relasi yang baik malah cenderung berbuah menjadi sebuah “kenakalan” dimata orang dewasa, orang tua yang biasa kita sebut dengan “kenakalan remaja”.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Ketika mendengar Ujian Nasional (UN) kita langsung membayangkan masa-masa sulit bagi para siswa, pelajar penghuni sekolah. Mereka menyibukkan dirinya dengan belajar ekstra, les tambahan, bahkan membeli dan mempelajari setumpuk buku sampai-sampai kesehatan dan kewajibannya sebagai anak dan pelajar ditinggalkannya hanya untuk menghadapi sebuah momen yang penuh takhayul dan sangat menakutkan bagi mereka.

Permasalahannya pun tidak sampai disitu, selain para pelajar mengalami kondisi gangguan psikologis orang tua pun turut merasa khawatir akan apa yang dihadapi dan diderita oleh anak-anaknya. Apalagi jika pada saat pengumuman terdapat banyak siswa, pelajar penghuni sekolah  yang nilainya dianggap buruk, bahkan gagal dalam menghadapi UN dalam hal ini tidak lulus, maka banyak pelajar yang merasa putus asa bahkan sampai nekat untuk bunuh diri. Terlebih lagi dampak urusan takhayul (ijazah,ujian, nilai, rangking) bagi para orang tua menimbulkan rasa malu atas penderitaan yang dihadapi oleh anaknya dan para pihak sekolah pun reputasinya akan menurun atas peristiwa tersebut karena telah dianggap gagal untuk mendidik siswa-siswanya.

Foto: Yanuar Surya.
Foto: Yanuar Surya.

Karena pandangan saya ujian jenis semacam itu bukanlah solusi yang baik untuk menentukan tingkat mutu siswa, pelajar—melainkan “kepentingan” yang ada di dalamnya. UN, atau jenis ujian semacam itu apapun istilahnya sangat rumit untuk dilaksanakan, mengapa ? bisa kita lihat sendiri sebelum mengerjakan soal-soal Ujian kita di haruskan mengisi identitas dengan cara menghitamkan lingkaran dengan rapi, tidak boleh kurang ataupun lewat dari garis lingkaran, itu memakan waktu yang cukup lama. Ujian ini untuk apa ? untuk mengulang pelajaran yang telah di pelajari atau untuk mengisi identitas?

Mau sampai kapan takhayul itu dipiara?