Surat untuk Sri Wahyaningsih, sosok Kartini senyata-nyatanya dalam hidup kami.

Yogyakarta, 10 Mei 2022

Kepada Yth.

Ibu Sri Wahyaningsih,

Pendiri Sanggar Anak Alam Yogyakarta

Di

tempat

Salam Hormat,

Teruntuk Bu Wahya, sosok ‘Kartini’ masa kini yang saya kagumi dan menjadi inspirasi tentang semangat inklusi dalam dunia pendidikan.

Kemarin sulung saya, Arsa yang autistik berulang tahun ke-19. Tak percaya bahwa dia sudah masuk fase usia dewasa muda dan ternyata sekian lama saya dan suami mampu juga membesarkannya.

Memiliki anak autis dalam masyarakat dan sistem pendidikan yang belum paham makna inklusif sungguh merupakan perjalanan roller coaster bagi kami. Namun untuk Ibu ketahui, dalam kurun enam tahun terakhir peran Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta yang Ibu ampu telah banyak membuka mata saya dan mungkin lembaga pendidikan lain tentang makna inklusi yang sesungguhnya.

Terbukti dengan makin meningkatnya jumlah anak berkebutuhan khusus dalam arti sudah bisa mengurus dirinya sendiri tanpa pendampingan khusus, mendaftar masuk menjadi siswa di Salam.

Pertemuan keluarga kami dengan Ibu pertama kali di tahun 2009 beserta pesan-pesan Ibu melalui SMS untuk kami tak patah semangat membersamai Arsa dalam proses tumbuh kembang dan belajarnya, sesungguhnya memberi dukungan yang luar biasa melintasi dimensi ruang dan waktu.

Masih lekat di ingatan, bagaimana suasana keceriaan anak-anak bermain dan belajar di bangunan di tengah sawah pinggir kota Yogyakarta, membuat kami merasa aman dan nyaman.

Bangunan yang sejatinya rumah Ibu daripada bangunan sekolah itu disediakan untuk memfasilitasi anak-anak dengan segala keunikan dan perbedaannya dalam proses belajar.

Bagaimana penerimaan Ibu dan fasilitator yang lain terhadap kunjungan keluarga kami ketika itu, mampu menghangatkan hati yang baru terluka dengan insiden sulung saya yang diminta keluar dari PAUD, yang sebenarnya sedang dalam proses belajar tentang konsep inklusi.

Saya menemukan penerimaan terhadap keberadaan anak yang berbeda, unik atau berkebutuhan khusus, ternyata menjadi semangat inklusi yang Ibu perkenalkan dulu berbulan-bulan sebelum Arsa diterima melanjutkan pendidikan setara SMP di Salam.

Seorang wali murid pernah memberitahu saya bahwa Ibu mempersiapkan betul dan memandu fasilitator (sebutan lain untuk guru) dan siswa yang akan membersamai Arsa, dengan pesan bahwa nanti akan ada siswa baru yang belajar dengan cara berbeda.

Jadi, sungguh saya terkesan dengan pendekatan Ibu. Bahwa sebuah pendidikan baru layak dikatakan inklusi, tidak hanya seperti yang diomongkan para ahli dengan menyiapkan kurikulum, metode dan media belajar saja. Atau menyiapkan seseorang, dengan latar pendidikan khusus untuk memberi kesan bahwa sekolah tersebut sudah bisa diberi predikat sekolah inklusi.

Hal terpenting dan mendasar yang Ibu siapkan adalah bagaimana membuat ekosistem belajar yang inklusif. Di mana orang-orang yang akan berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus tersebut memahami keberagaman, mengerti bahwa kebutuhan khusus bukan halangan untuk menjalin kerjasama, yang pada akhirnya membuat kolaborasi untuk hal yang lebih baik.

Saya berasumsi pemahaman Ibu akan inklusivitas ini banyak dipengaruhi pengalaman ketika menjadi aktivis dulu, seperti yang pernah suatu kali Ibu tuturkan.

Sebagai pegiat isu kemanusiaan yang berguru kepada YB Mangunwidjaja atau dikenal Romo Mangun, kebesaran jiwa dan semangat Ibu yang dulu menjadi aktivis dan demonstran membela petani dan kaum terpinggirkan, sejatinya telah menjadi bekal yang sangat berharga. Terutama tentang bagaimana memanusiakan manusia, melihat setiap pribadi bagaimana pun kondisinya tetap punya potensi yang bisa dikembangkan asal dengan pendekatan yang tepat.

Bertahun-tahun Ibu bersama suami, Pak Toto Rahardjo berupaya mengejawantahkan dan memaknai hal ini, berdasar kepada filosofi Ki Hadjar Dewantara untuk sebuah konsep pendidikan dengan atmosfer dan suasana belajar yang berpusat kepada anak, memaknai proses dan peristiwa ketika anak bermain dan belajar.

Sebuah konsep pembelajaran yang mungkin terasa tidak lazim bagi para pegiat dan praktisi pendidikan, yang saya perhatikan telah menanamkan dalam benak mereka bahwa pendidikan harus benar-benar terstruktur baru bisa menghasilkan output dengan standar kompetensi tertentu.

Kenyataannya di Salam Yogyakarta, tidak ada mata pelajaran terstruktur, materi belajar dilebur dan diproses dalam kegiatan sehari-hari, tanpa guru khusus mata pelajar, tanpa kewajiban memberi PR kepada siswa, tanpa keharusan membeli buku paket, akan tetapi sejak dini anak-anak justru diajak berani mencari tahu dan eksplorasi. Bahkan aplikasi proses calistung dilebur secara alami dalam proses menuntaskan keingintahuan mereka.

Bila jargon Merdeka Belajar baru diperkenalkan kepada sekolah-sekolah semasa pandemi dua tahun ini oleh Nadiem Makarim, Salam Yogyakarta yang Ibu ampu justru sudah menjalani dan menghayati dalam konsep pembelajaran sehari-hari.

Bagaimana konsep pembelajaran yang berpusat pada riset dari rasa keingintahuan anak, mampu mendorong anak belajar mengamati, mencari tahu kepada sumber yang tepat, menguji coba, memaknai proses termasuk keberhasilan dan kegagalannya, untuk kemudian dituliskan sebagai hasil proses pembelajarannya.

Tanpa Ibu sadari, hal ini ternyata ini sejalan dengan apa yang menjadi pemikiran Kartini tentang pendidikan seperti dituangkan dalam suratnya. “Tetapi apalah artinya pandai dalam ilmu yang hendak diajarkan itu, apabila ia tidak dapat menerangkan secara jelas kepada murid-murid.”

Memahami sebenar-benarnya dengan cara masing-masing siswa ini menjadi panduan Ibu di Salam Yogya sehingga mampu mengakomodir anak-anak dengan segala keunikan dan kebutuhannya.

Hal lain yang saya juga perhatikan, kerjasama dan saling bahu membahu antara Ibu dan Bapak juga membuka pemikiran banyak orang tentang perempuan. Kapan waktu yang tepat untuk maju ke depan, kapan sebaiknya memberi dukungan dari belakang saja.

Bahkan, pada masa anak-anak usia PAUD, Ibu banyak mendorong saya dan suami seperti halnya orang tua lain untuk berupaya ikut dalam setiap proses pembelajaran anak. Konsep ini sungguh memutuskan anggapan bahwa ketika anak sudah bersekolah, tanggung jawab dalam hal pendidikan diserahkan kepada sekolah saja.

Justru orang tua diminta terlibat sepenuhnya, bukan hanya tahu anaknya sedang proses belajar apa, tetapi ikut sebagai ‘fasilitator’ di rumah. Ikut belajar, mengamati, sekaligus membuat catatan mengenai perkembangan mereka.

Dari Ibu, saya belajar banyak tentang bagaimana peran perempuan sekaligus peran sebagai Ibu. Bukan sekadar emansipasi dalam arti kesetaraan dengan lelaki, tetapi Ibu mencontohkan bagaimana perempuan bisa seimbang melakukan peran-perannya. Salah satunya tentang asuh didik dalam keluarga seperti yang diungkapkan Kartini.

“Karena manusia pertama-tama menerima pendidikan dari seorang perempuan. Dari tangan seorang perempuanlah, anak-anak mulai belajar merasa, berpikir dan berbicara. Didikan pertama kali itu bukan tanpa arti bagi seluruh penghidupan.” (Surat Kartini kepada Nyonya M.C.E. Ovink – Sore, awal tahun 1900)

Terima kasih Ibu Wahya atas semua bimbingan, panduan dan contoh, tentang inklusi, pendidikan serta peran perempuan sebagai Ibu.

Saya, suami dan tentu saja orang tua lain tentu sungguh bersyukur bahwa Ibu telah menjadi Kartini senyata-nyatanya dalam hidup ini.

Salam Hormat,

Ivy Sudjana

***

karya ini pernah masuk dalam 10 besar Pemenang Hiburan pada Lomba Menulis Surat Kartini tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju.