TENTANG BUKU MANUSIA BERSANDIWARA

Homo Sapien yang lebih akrab dipanggil manusia memiliki sejarah panjang yang tidak lepas dari peran dan lakonnya di muka bumi. Kitab suci menceritakan bagaimana proses dan tujuan dari penciptaan manusia. Tak sedikit pemikir yang melahirkan banyak teori tentang manusia dan berusaha mendefinisikan manusia mulai dari aspek biologis sampai psikologis, nilai materi sampai nilai kemanusiaan. Semua membedah segala sisi tentang manusia untuk mencari jati diri manusia dan alasan besar manusia diciptakan.

Begitu besar peran manusia di muka bumi sebagai satu-satunya makhluk yang diberikan amanah oleh Allah untuk menjaga dan merawat bumi beserta isinya. Dengan akal yang dikaruniai oleh sang pencipta, manusia menjadi begitu istimewa di antara makhluk lain yang tidak berakal. Keberadaan manusia sangat diandalkan bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang hidup bersama di muka bumi.  Sejak manusia pertama menginjakkan kaki di muka bumi, manusia telah banyak berpikir dan berbuat, mencari dan menemukan banyak pengetahuan sehingga melahirkan apa yang kita kenal dengan peradaban.

Kemajuan zaman tidak lepas kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sejak awal kemunculannya banyak berkontribusi. Kisah ilmu pengetahuan kemudian melewati banyak fase dan aral rintangan yang tidak mudah. Kelahirannya menjadi cahaya terang yang akan membawa manusia ke masa depan yang cerah. Ia dipuji dan dipuja, namun tak jarang diolok dan didiskriminasi. Keberadaan ilmu pengetahuan adalah karunia terbesar bagi sekelompok orang dan malapetaka bagi kelompok yang lain. Kisah ilmu pengetahuan tidak lepas dari cerita perjuangan melawan penindasan oleh sekelompok orang, oleh otoritas lembaga agama yang melanggengkan status quo di balik simbol Tuhan. Ilmu pengetahuan adalah kekuatan besar untuk melawan penindasan, kezaliman, kungkungan, kejahatan, keangkuhan, dan kerakusan. Namun pada akhirnya setelah ilmu pengetahuan berhasil meruntuhkan kezaliman yang lama berkuasa, nasibnya tidak begitu baik. Sebab ia (ilmu pengetahuan) akan mewujud sebagaimana kehendak tangan yang memegangnya.

Manusia boleh berbangga dengan ilmu pengetahuan yang lahir, tumbuh, dan berkembang hingga saat ini. Namun patut dipertanyakan, apakah ilmu pengetahuan yang manusia gunakan selama ini sudah ditempatkan sesuai pada tempatnya? Pestisida, senjata, nuklir, hingga rekayasa genetika apakah merupakan jawaban dari tumpukan problema manusia dan alamnya? Seberapa banyak lagi penemuan yang sangat tidak faedah bagi kelangsungan hidup manusia dan alam? Ilmu pengetahuan tidak bisa memberikan jawaban. Sekali lagi, ilmu pengetahuan akan mewujud sebagaimana kehendak tangan yang memegangnya.

Perkembangan zaman yang kian cepat berkat ilmu pengetahuan kini dianggap sebagai sebuah kemajuan. Berkat ilmu pengetahuan manusia hidup dengan ‘lebih baik’, dari kehidupan tradisional nan primitif menjadi modern dan maju. Manusia yang hidup di daerah pedalaman, wilayah selatan, negara dunia ketiga, haruslah mengikuti cara hidup modern sebagaimana orang Barat hidup. Kehidupan yang maju nan mudah, dan itulah hidup yang semestinya (kata mereka). Inilah yang bisa kita sebut sebagai kacamata kolonial, yang menganggap kehidupan tradisional adalah kehidupan yang primitif, tertinggal, miskin, dan perlu diubah agar kehidupannya lebih baik. Ilmu pengetahuan juga yang berkontribusi bagi orang-orang Barat yang menginjakkan kaki di tanah-tanah perawan untuk mendakwahkan apa yang mereka yakini tentang kehidupan.

Nasi sudah terlanjur jadi bubur. Ratusan tahun hidup di bawah kuasa kolonial membuat Indonesia kehilangan jati dirinya walaupun para pendiri bangsa berdiri di jalur sosialisme. Kemerdekaan yang diraih tidak serta merta menghilangkan jejak dan bekas kolonialisme. Ditambah pasca perang dunia kedua yang mengawali mimpi buruk Indonesia dan tidak lupa negara-negara bekas jajahan lainnya. Hingga kini, bayang-bayang kolonialisme berbentuk modernisasi tidak bisa hilang dari kehidupan kita. Apa yang disebut kemajuan oleh Barat telah banyak mengganggu, merusak, dan menghancurkan kita. Pendidikan, ekonomi, politik, sosial, budaya, semuanya sama sekali tidak memerdekakan. Ilmu pengetahuan bahkan tidak memberikan solusi bagi kondisi yang kita alami saat ini.

Orang-orang kecil akan semakin kecil dan rentan dikuasai manusia-manusia serakah, rakus, irasional. Pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi utama pembebasan malah kontraproduktif. Pendidikan bukanlah rahim bagi pembelajar, melainkan pabrik pencetak mesin yang siap dipekerjakan industri. Kita tidak dinilai sebagai manusia, melainkan angka statistik yang akan memenuhi kebutuhan pos-pos industri di seluruh belahan dunia. Stereotype yang dibentuk modernisasi tentang perbedaan desa dan kota menjadi bara yang terus menyala, membakar semangat warga desa untuk pergi ke kota mencari penghidupan. Arus perpindahan manusia dari desa ke kota mungkin sekilas terlihat sebagai angin segar, sebab warga desa dianggap dapat hidup lebih layak. Kenyataannya, desa kehilangan anak-anaknya. Tak banyak yang akhirnya putus asa hidup di desa, tergiur oleh kemilau modernitas di kota. Ketimpangan gender juga jadi problema. Akhirnya perempuanlah yang merasakan dampak tak enak itu.

Padahal di kota, kita hanyalah mesin pencetak uang bagi kaum borjuasi yang obsesi melakukan produksi tanpa henti 24 jam setiap hari. Tak peduli bagaimana alam menanggung beban karena efek samping industri yang merusak semua bagian bumi. Air, udara, tanah, yang merupakan sumber-sumber kehidupan dan penghidupan manusia dan semua makhluk.

Teknologi informasi juga semakin menguasai kehidupan manusia. Jagat maya sudah menjadi bumi kedua tempat manusia menjalani aktifitasnya. Lagi-lagi, ini berkat ilmu pengetahuan. Kita bisa bertegur sapa dengan orang yang berada jauh dengan mudah dan cepat. Kelahiran internet patut disyukuri, sebab siapa sangka pandemi yang menimbulkan banyak masalah dapat diatasi dengan internet. Walaupun begitu, tetap saja internet juga ada mudaratnya. Sebagai salah satu alat bagi kesuksesan globalisasi, internet tidak hanya memudahkan, namun juga mengancam. Mengancam perpecahan (Ya, banyak konflik terjadi di jagat maya. Termasuk konflik SARA dan pertarungan politik), mengancam pengikisan budaya, dan ancaman-ancaman lainnya.

Keadaan ini semakin didukung dengan sistem ekonomi-politik yang kian menghimpit rakyat kecil juga menyiksa alam semesta. Nilai-nilai luhur yang diwariskan pendiri bangsa tidak lagi diperlakukan sakral, hanya sebatas seremonial.

Pada akhirnya kondisi semrawut ini sudah semakin sulit untuk dipecahkan. Kita terlanjur tenggelam di kolam besar bernama modernisme, globalisme, kapitalisme, liberalisme. Jangankan untuk keluar kolam, sekadar naik ke permukaan untuk mengambil napas saja kesulitan.

Ilmu pengetahuan yang diagung-agungkan dahulu hingga kini, ternyata tidak membawa kita ke masa depan cerah. Kelihatannya malah makin suram. Ilmu pengetahuan yang berada di tangan penguasa justru memberikan warisan pada kita berupa bencana alam, bencana kemanusiaan, bencana sosial. Ancaman yang kita hadapi bersama saat ini bukanlah ancaman ecek-ecek, perubahan iklim. Bagaimana kira-kira akhir cerita manusia setelah selama ini bermain lakon di panggung sandiwara?