The Philosophers

Menjadi peserta seminar online atau yang saat ini dikenal dengan istilah webinar, memerlukan kesabaran yang cukup tinggi. Bukan hanya perlu menyiapkan gadget, tapi juga memastikan jaringan internet aman terkendali. Belum lagi banyak disrupsi selama webinar berlangsung, pintu diketuk, panggilan telpon, panggilan abang tukang bakso, juga panggilan bantal, guling dan kasur yang merayu badan untuk rebahan. Cobaan di masa pandemi memang begini.

Jalu, Kali. Imung, Izzah & Sandhi

Namun suasana berbeda saya rasakan ketika saya mencoba ikut menyimak celotehan Kali, Sandhi, Jalu, dan Izza melalui kanal youtube Salam Yogyakarta dalam kegiatan Bedah Buku “Friska dan Sekolah Barunya”. Jujur, ini tidak sama sekali membuat saya sebagai audience susulan menguap dan bosan. Justru celotehan mereka sering mengundang bibir saya untuk mesem-mesem, tak jarang tertawa, dan berdecak kagum mendengar kata demi kata dari keempat anak ini. Sebagai orang yang sudah bukan anak kecil lagi, saya mengapresiasi betul anak-anak emas ini dalam partisipasinya membedah buku yang biasanya diisi oleh orang dewasa. Menarik sekali ketika mereka satu per satu mengungkapkan perasaan dan pertanyaan mereka tentang buku yang mereka baca apalagi ditambah rasa antusias yang semakin membuat saya geregetan.

Saya sempat membayangkan, bagaimana jika bedah buku ini diisi oleh orang dewasa? Jelas vibes-nya akan berbeda jauh sekali. Orang dewasa mungkin akan menggunakan berbagai macam teori untuk mengupas tuntas isi buku. Sedangkan anak-anak ini tidak perlu banyak teori, sebab mereka memililki pisau analisis alami yang akan bekerja otomatis. Ketika mereka membaca halaman demi halaman buku, mereka seakan terjun dan tenggelam dalam alur cerita buku. Satu hal yang perlu diingat bahwa pisau analisis alami yang mereka miliki menghasilkan banyak pertanyaan dan menggugah rasa mereka. Mereka memiliki sudut pandang yang sama sekali tidak dimiliki oleh orang dewasa.

Dunia anak-anak adalah dunia emas yang menjadikan setiap anak kreatif, cerdas dan unik. Kalau boleh saya ekspresikan dengan kata-kata, mungkin ‘gemas’ akan jadi pilihan yang tepat. Bedah buku ini menggemaskan sekali bagi saya, bukan hanya karena ada anak-anak, tapi juga ungkapan rasa yang mereka utarakan dengan lugas, lantang, apa adanya, jujur, tanpa settingan seperti yang sering dilakukan orang-orang dewasa yang haus atensi. Celoteh anak-anak yang khas inilah yang otentik. Lewat celotehannya kita bisa mengintip apa isi dunia mereka.

Dari keempat anak yang menjadi pembedah buku, tidak satupun yang memiliki kesamaan sudut pandang. Bukti bahwa anak punya banyak cara untuk melihat sesuatu dengan tetap apa adanya. Mereka santai menjawab pertanyaan dan menceritakan bagaimana buku Friska dan Sekolah Barunya menjadi bacaan yang menyenangkan dan relate dengan dunianya.

Rasa-rasanya walaupun orang dewasa berlaku apa adanya, tidak bisa se-apa adanya selayaknya anak-anak, padahal sebelum dewasa pernah jadi anak-anak. Kenapa? Jawabannya, karena sudah dewasa. Anak-anak akan bertanya kenapa ada hewan namanya burung bisa terbang? Kenapa kucing tidak bisa terbang? Dari mana asal hujan? Apa arti geluduk? Dan banyak pertanyaan khas mereka yang sederhana dan itulah bagaimana mereka mengekspresikan rasa penasarannya.

Sama halnya ketika bedah buku, anak-anak bertanya hal-hal sederhana misalnya pertanyaan Jalu pada Mbak Imung, “Kenapa gak suka tahu?” Pertanyaan ini mungkin bagi orang dewasa adalah pertanyaan yang sangat biasa tapi penasaran mendorong Jalu untuk bertanya. Rasa penasaran yang dimiliki anak-anak menjadi pisau analisis yang bisa membantu mereka untuk membuka pintu pengetahuan. Pertanyaan sederhana nan berkelas macam itu hanya bisa dimiliki anak-anak. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengantarkan mereka pada jawaban-jawaban ilmiah. Kita bisa sebut anak-anak sebagai the philosophers. Nabi Ibrahim mengawali pencariannya akan Tuhan dimulai dari rasa penasaran dan ingin tahu. Begitu juga Socrates, Aristoteles, Plato, dan para filsof lainnya juga mengawali pencarian mereka dengan rasa penasaran sama seperti yang dilakukan oleh Kali, Jalu, Sandhi, dan Izza, dan anak-anak lainnya.

Selama menyimak bedah buku, saya senang karena anak tidak dianggap sebagai makhluk yang minim, nyaris nihil soal pengetahuan. Saya senang karena anak-anak tidak dianggap sebagai kanvas bagi orang dewasa. Saya senang bahwa anak-anak tidak hanya menjadi subjek belajar yang gigih ditempa oleh guru agar menjadi sesuatu yang diinginkan orang dewasa. Saya senang bahwa anak-anak menjadi pencari, pemikir, dan penemu, yang tidak mengandalkan guru sebagai satu-satunya sumber belajar dan ilmu pengetahuan. Saya merasa sangat senang karena bisa menjadi salah satu telinga yang mendengar suara anak yang otentik. Bedah buku ini menjadi wadah dan ruang bagi para philosopher belia untuk mengeksplore segala hal. Inilah yang harus terus kita giatkan. Menjadi pemantik yang baik bagi anak-anak agar bisa mendorong mereka bersuara dan berkarya.

Anak-anak adalah insan yang unik. Dunianya adalah sekolahnya. Dirinya, temannya, lingkungannya, adalah sekolahnya. Kita perlu menurunkan ego kita yang sering menganggap anak-anak tidak tahu apa-apa. Anak kecil tahu apa? Seringnya kita melontarkan pertanyaan itu seakan kita mengetahui dan memahami banyak hal dibanding anak-anak. Padahal ketidaktahuan mereka adalah pisau dan rasa penasarannya adalah batu asahan yang akan mempertajam pisaunya untuk membedah dunia dan seisinya yang tidak dimiliki oleh orang dewasa. Andai anak-anak bisa membalikkan pertanyaan pada orang dewasa. “Orang dewasa tahu apa sih?”

Jadi menurut saya, melibatkan anak-anak sebagai pembedah buku adalah ide berani dan luar biasa yang bisa dilakukan orang dewasa agar bisa terus memberikan ruang dan telinga bagi anak-anak mengekspresikan dunianya. Saatnya para philosopher belia keluar kandang dan mengguncang dunia.