Blog

Tumbuh dari Mengalami yang Gugur: Refleksi atas Pertunjukan Cerita Interaktif “To The Fallen Trees”

Minggu, 15 Februari 2026. Matahari seperti baru saja menunaikan kewajibannya. Menua bersama hari. Di area Sanggar Anak Alam Yogyakarta penonton mulai berdatangan. Mereka tidak menemukan panggung yang lazim. Tidak ada rigging lampu yang menjulang, tidak ada kursi tersusun rapi menghadap satu titik pusat, tidak ada batas tegas antara ruang main dan ruang tonton. Maka pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan: Di mana nanti pentasnya? Kapan pentasnya dimulai?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa wajar. Kita terbiasa dengan tanda-tanda yang pasti: panggung sebagai pusat, lampu sebagai penunjuk arah, waktu mulai sebagai komando. Namun malam itu, justru ketidakjelasan itulah yang menjadi pintu masuk pengalaman. Seakan-akan pertunjukan ini ingin berkata sejak awal bahwa seluruh area adalah panggung dan setiap sudut berpotensi menjadi peristiwa. Tidak ada garis tegas antara yang gugur dan yang tumbuh, karena yang gugur pun bisa menjadi benih bagi sesuatu yang lain.

Tidak ada yang tahu persis kapan pertunjukan dimulai. Penonton masih bercakap, anak-anak berlarian kecil, para pemain tampak menyatu dalam kerumunan. Azan Maghrib berkumandang, lalu senyap turun perlahan. Beberapa saat kemudian, ilustrasi musik yang lirih—gubahan Aliazca—menyusup ke sela reriuhan. Tidak mengagetkan, tidak memerintah, hanya merambat pelan seperti akar yang mencari air.

Di tengah lapangan, Lisa Koo Gautama berjalan bersama Puan dan saya, menyisir kerumunan. Kami menyapa penonton satu demi satu. Tidak ada prolog formal. Tidak ada pengumuman megah. Hanya sapaan dan jarak yang diperkecil. Sementara itu, di tengah lapangan, roh—diperankan Pinka Oktavia—duduk bersimpuh. Diam. Seperti sisa sesuatu yang belum selesai.

Malam itu, penonton tidak sekadar diajak menonton To The Fallen Trees. Mereka diajak mengalaminya. Pertanyaan pembuka menggema di ruang yang mulai menggelap: “Apa rasanya rumah bagimu? Terdengar dan terlihat seperti apa?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi dalam konteks ruang yang cair, ia berubah menjadi cermin. Kita tidak lagi bertanya kepada tokoh dalam cerita. Kita bertanya kepada diri sendiri.

Ketika narasi tentang masa sebelum manusia dilafalkan. Tentang bumi yang kosong, tentang belum adanya ibu, nenek, bahkan jari kelingking yang mungil. Tepuk tangan ritmis anak-anak terdengar dari lantai dua ruang kelas. Bunyi itu datang tanpa aba-aba visual. Penonton menoleh, mencari sumber. Lalu Sinta Nuraini dan Kokoh Davin turun, diikuti anak-anak yang kemudian membaur di lapangan. Perlahan, mereka menjelma pohon.

Gerak mereka mula-mula sederhana. Berdiri, terhuyung, mengangkat tangan seperti dahan. Namun semakin lama, tubuh-tubuh kecil itu membentuk lanskap. Ada yang menjadi tunas, ada yang merentangkan cabang, ada yang seolah tertimpa hujan, ada yang terhempas badai. Di situ, saya merasakan sesuatu yang jarang terjadi dalam pertunjukan bertema ekologis: tidak ada ceramah, tidak ada slogan. Hanya tubuh-tubuh yang mencoba mengingat bagaimana rasanya menjadi pohon.

Sorot cahaya senter—dioperasikan Cholsverde dan Mailani Sumelang—bergerak di antara mereka, menjelma kunang-kunang. Cahaya kecil yang tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk menandai keberadaan. Dalam gelap yang tidak total, cahaya-cahaya itu menyapa wajah penonton satu per satu. Seakan berkata: kau pun bagian dari lanskap pertunjukan ini.

Roh bangkit dari simpuhnya. Ia berjalan mengitari penonton. Mencari sesuatu yang telah lama hilang. Anak-anak yang semula pohon kini berbaris di belakangnya, membentuk semacam ular naga. Mereka bergerak memutar, mendekati sosok yang berdiri di bawah pohon—Sekar Tri Kusuma. Permainan kejar-kejaran pun terjadi, ringan tetapi menyimpan ketegangan yang samar. Lalu rombongan itu bergerak masuk ke ruang kelas.

Di sinilah pertunjukan memasuki lapisan lain. Ruang kelas yang biasanya menjadi tempat belajar berubah menjadi ruang ingatan. Narasi dibacakan. Proyeksi visual memantul di dinding. Nyanyian terdengar, kadang lirih, kadang menghentak pelan. Tubuh Sekar perlahan menjelma pohon. Cabang-cabang imajiner tumbuh. Kata-kata mulai terputus.

“Aku, aku sendirian. Aku takut…” Kalimat itu terulang. Terbata. Seperti ada yang macet di tenggorokan sejarah.

Latar waktu 1960-an yang disebut dalam teks bukanlah angka yang netral. Ia membawa gema masa lalu yang rumit. Namun pertunjukan ini tidak menunjuk secara gamblang. Ia tidak memamerkan arsip, tidak menyebut nama peristiwa. Ia memilih jalan yang lebih halus dengan menghadirkan lelaki yang kehilangan bahasa. Lelaki yang rumahnya dibangun dari kata-kata, tetapi justru kehilangan kata ketika harus berbicara tentang apa yang ia dengar dari roh pohon-pohon yang tumbang.

Di titik ini, To The Fallen Trees melampaui narasi ekologis. Pohon yang tumbang tidak hanya dibaca sebagai kerusakan alam. Ia menjadi metafora bagi sesuatu yang lebih luas. Kehilangan rumah, kehilangan bahasa, kehilangan keberanian untuk bersaksi.

Tubuh yang perlahan berubah menjadi pohon yang tinggi, sunyi, dan tanpa daun seakan menjadi penanda keheningan yang diwariskan. Kisah tentangnya diturunkan dari generasi ke generasi. Sebuah era di mana ingatan dan lupa bertumpang tindih. Namun pertunjukan tidak berhenti pada keheningan itu.

Kami semua diajak keluar lagi. Nyanyian mengiringi langkah menuju area sawah. Senter-senter dinyalakan. Penonton menjadi kunang-kunang. Anak-anak mengikuti dari belakang. Tawa terdengar. Cahaya kecil menari di udara malam.

Di momen itu, saya merasakan ambiguitas yang indah antara duka dan harapan. Pohon yang gugur menyisakan luka, tetapi juga ruang bagi cahaya kecil untuk hadir. Tidak besar. Tidak heroik. Hanya cukup untuk menerangi wajah satu sama lain.

Interaktivitas dalam pertunjukan ini bukan gimik. Penonton tidak diperlakukan sebagai pengamat pasif. Mereka diajak berjalan, berpindah ruang, menyalakan cahaya, merasakan jarak yang berubah-ubah. Batas antara pemain dan penonton mengabur. Kita tidak lagi yakin siapa yang sedang menyaksikan dan siapa yang sedang disaksikan.

Di situlah, bagi saya, kekuatan pertunjukan ini berada. Ia tidak menawarkan resolusi yang rapi. Tidak ada deklarasi moral di akhir. Pertanyaan pembuka kembali menggema di kepala: Apa rasanya rumah bagimu?

Pertanyaan itu kini terasa lebih berat. Setelah menyaksikan pohon tumbuh dan gugur, roh kehilangan rumah, lelaki kehilangan bahasa, dan anak-anak menubuhkan ingatan, kita menyadari bahwa rumah bukan sekadar bangunan atau hutan. Rumah adalah relasi. Rumah adalah keberanian untuk mendengar kisah yang tidak pernah selesai.

Pertunjukan berakhir ketika nyanyian usai dan tepuk tangan merekah di antara cahaya senter. Tidak ada tirai yang ditutup. Tidak ada lampu yang tiba-tiba menyala terang. Hanya malam yang kembali menjadi malam.

Saya pulang dengan perasaan yang sulit diringkas. Ada kesedihan yang mengendap, tetapi juga kelegaan karena pernah berada di ruang yang memungkinkan kita mengalami bersama. Mengalami yang gugur tanpa tergesa-gesa menguburnya, lalu membiarkan kemungkinan tumbuh dari sana.

Di tengah dunia yang kerap menuntut kecepatan dan kepastian, To The Fallen Trees memilih untuk pelan, cair, dan tidak sepenuhnya pasti. Ia mengajak kita berdiri sebentar, seperti pohon. Mendengar jangkrik. Merasakan angin. Mengakui bahwa ada yang telah tumbang. Dan mungkin, justru dari pengakuan itulah, sesuatu yang baru bisa tumbuh bersama.[]

 

 Khuluqul Karim

Fasilitator Kelas Minat Teater di SALAM Yogyakarta, ko-inisiator Ruang Makmal dan redaktur-editor zine Seberang Kali di Teater Eska.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *