Sudah 8 tahun aku di Sanggar Anak Alam (SALAM) dan akhirnya aku lulus dari SALAM. Aku udah main di sini dari kelas 5 SD. Lama, ya? Bisa dibilang SALAM ini bukan cuma sekolah, tapi tempat aku jatuh, bangun, nangis, ketawa, dan cari akal biar nggak pulang terlalu cepat. Buatku, lulus itu bukan berarti dadah terus hilang, tapi lebih seperti membawa Salam kemana-mana, biar dia juga tumbuh bareng langkahku.

Menurutku Salam kurang cocok ku anggap sebagai sekolah, tapi tempatku bermain. Di sini aku sudah menjajal bermain apa saja, hingga akhirnya aku menemukan minatku setelah bermain banyak hal. Minatku jatuh pada dunia film, videografi, media, dan penulisan naskah. Dan karena bersekolah di Salam, aku bisa mencoba bermain dengan sedikit serius di minatku. Aku pernah mencoba membuat podcast di Salam, menjadi ketua tim publikasi & dokumentasi, dan bahkan aku juga sudah lama membantu memegang akun Salam_Jogja. Salah satu momen paling kuanggap keren adalah aku menyutradarai Pak Dena, orang tua murid SALAM yang berprofesi sebagai aktor, untuk kebutuhan teaser Wiwitan. Di sini aku juga sering kali gagal, tapi kegagalan itu bisa aku pelajari agar kelak bisa lebih baik dari sebelumnya. Dan mungkin jika ruang bermainku tidak seluas ini, aku tidak menemukan apa tujuanku ke depannya, jadi nyoba main apa aja sampai akhirnya nemu apa yang disukain.
Karena cara belajar di Salam itu belajar lewat riset, jadi aku bisa belajar bertanggung jawab sama pilihan risetku, dan jika ternyata aku tidak nyaman menjalankan risetnya, maka aku perlu tahu apa yang sebenarnya membuatku tidak nyaman. Contohnya saat aku kelas 11, aku riset editing video, tetapi aku tidak mempunyai apa pun untuk diedit. Alhasil terjadilah kolaborasi. Aku berkolaborasi dengan Masayu,teman sekelasku, untuk membuat video dokumenter. Dalam kolaborasi itu, Masayu mengambil peran Story Researcher & Penulis Naskah. Sementara aku, Cameraman dan Editor. Intinya Masayu akan menyiapkan ceritanya, dan aku menyiapkan visualnya, begitu. Di SALAM aku juga tidak tumbuh sendiri, banyak sekali teman-teman di sini yang bisa aku minta untuk membantuku. Tidak hanya antar anak, aku juga bisa akrab dengan orang tua dan fasilitator. Jadinya aku tidak pernah kekurangan teman bermain di Salam. Karena itu aku jadi bisa belajar banyak hal dari mereka. Belajar bukan artinya mereka menggurui, tetapi hanya saling mengobrol aja bisa juga belajar. Main di Salam itu macam-macam, iseng aja bisa tiba-tiba jadi wakil ketua Organisasi Anak SALAM (OAS.) Jadi divisi acara buat kemah seluruh warga Salam juga seru. Main tapi tetap ingat kalau punya tanggung jawab. Jadi, kalau punya kesempatan mengambil peran serius di Salam sebaiknya dipakai sebaik mungkin. Terutama kalau suka kegiatan kolektif, karena dari situ aku jadi bisa belajar banyak hal.
Jadi kalau ditanya aku udah belajar apa saja di Salam, aku bisa bilang, “Aku mencari tahu apa yang aku pertanyakan.” Aku juga nggak sabar jika suatu hari di tempat yang baru aku dapat pertanyaan: “Salam? Sekolah apa itu?” Aku akan menjelaskan dengan penuh semangat. Makasih Salam, sudah menemaniku selama 8 tahun berproses dan tumbuh di sini.

Siswa SMA Eksperimental SALAM
Leave a Reply