Hari cerah membuat gunung-gunung Bali membingkai halaman kosku yang terhampar sawah. Aku bergegas membuat bekal dan bersiap berangkat ke Get Plastic. Karena cerah dan sejuk aku bersemangat untuk berangkat dengan berjalan kaki, kira-kira perlu menempuh waktu satu jam untuk sampai. Aku menikmati perjalanan pagi itu, hangat dan berkeringat. Karena terlambat 10 menit sampai di Get Plastic, aku segera duduk dan bergabung bersama teman-teman. Pagi ini sedikit berbeda, kegiatan dimulai dengan diskusi. Diskusi pagi yang dipantik Lulu emosional sekali buatku. Kurang lebih begini pertanyaannya :

“Apakah sudah tertanam kesadaran untuk memilah atau bertanggungjawab pada sampah yang dihasilkan oleh teman-teman?” Aku yakin sekali diskusi ini terpantik karena Lulu gemas melihat sampah di Get Plastic yang sering salah masuk tong sampah terpilah. Pertanyaan sederhana tapi membuat satu persatu dari tiap orang mengungkapkan cerita dan pengalamannya. Tentang cerita Reza yang disepakati beberapa teman, kalau kegiatan memilah sampah tidak bisa dilakukan di semua tempat, salah satunya di rumah, karena tidak ada fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Lain lagi pengalaman personal Ayu tentang kegiatan membakar sampah di desanya. Bahwa sempat ada arahan pada desanya untuk memilah sampah, saat sampah sudah terpilah warga dibuat kecewa karena sampah berakhir tercampur lagi.
Yang enggan untuk mengungkapkan pengalamannya adalah Latifa dan Aku. Aku bergidik saja waktu dengar cerita dari setiap teman. Dikepalaku malah kilas balik soal apa yang terjadi di Bantargebang. Masa kecilku banyak dihabiskan di Bantargebang, gunung sampah di Bekasi. Bantargebang jadi tempat pertamaku belajar berkomunitas. Dulu orangtua-orangtua kami membuat komunitas pendidikan disana, taglinenya “Tukar Sampah Dengan Pendidikan”. Komunitas ini dibentuk karena akses pendidikan yang benar-benar gratis nyatanya sulit sekali didapat, sementara kondisi sosial dan lingkungan buruk di Bantargebang. Aku banyak belajar di Bantargebang karena keluarga selalu melibatkanku dalam setiap kegiatan.
Dari Bantargebang aku belajar, kalau permasalahan sampah bukan hanya berdampak pada aspek lingkungan saja. Permasalahan sampah akhirnya akan berdampak luas karena sampah menjadi isu lintas sektor yang menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia. Tumpukan sampah di Gunung Bantargebang misalnya, jadi pemicu konflik antar warga dan pemerintahan, jadi stigma negatif sebagai pemulung dan tanpa jaminan kesehatan, jadi terganggu belajarnya karena tekanan ekonomi membuat anak merasa lebih berguna kalau ikut memulung, jadi miskin karena terjebak dalam siklus sosial, ekonomi, dan lingkungan yang sulit diatasi, jadi dan jadi lainnya.
Dari Bantargebang aku belajar, bahwa gaya hidup berkelanjutan seringkali hanya dapat diakses oleh kaum borjuis dan enggak menyelesaikan masalah. Ini bukan sekadar opini, tapi sebuah realitas kehidupan yang aku amati selama hidup berdampingan dengan teman-teman yang konsern terhadap isu lingkungan. Misalnya, satu totebag dari brand ramah lingkungan harganya bisa ratusan ribu, sementara kantong plastik gratis didapat dari warung. Misalnya, harga pembalut kain atau menstrual cup yang … 500rebu itu. Misalnya, sampo bar ramah lingkungan dengan harga premium, sementara sampo kemasan saset di warung harganya lebih terjangkau. Misal dan misal lainnya.

Banyak hal yang sering disebut sebagai “gaya hidup berkelanjutan” menjadi mahal karena dikomodikasi. Bukan karena enggak ada alternatif, tapi karena yang murah sering kali dianggap tidak “trendy” atau tidak dipromosikan. Contohnya, orang miskin yang beli baju bekas karena keperluan. Contohnya, makanan lokal, sehat dan segar yang bisa diproduksi sendiri. Contohnya, memperbaiki barang rusak dan menggunakannya dengan maksimal. Contoh dan contoh lainnya. Aku sih beruntung karena bisa merasakan kedua sisi, jadi borjuis dan si miskin hahha.
Jadi borjuis yang miskin juga sempat membuatku frustasi karena menghadapi kenyataan bahwa kemasan plastik sekali pakai enggak bisa dihindari si miskin, sementara berita mikroplastik bertebaran di media sosial. Beranjak remaja, aku belajar tentang pengelolaan sampah di Sekolah non-formal. Aku bisa eksplorasi banyak hal, mulai dari mendaur ulang hingga belajar tata kelola sampah secara otodidak. Sampai aku bertemu dengan Mas Manik, yang berbicara soal pembakaran sempurna untuk solusi pengelolaan sampah dari hulu. Mungkin saat itu mataku berbinar bahagia, seperti dapat solusi. Aku semangat mengobrol lebih intens dengan Mas Manik. Mas Manik ini banyak membuat penemuan tentang mesin atau teknologi untuk mengolah limbah atau sampah, tapi enggak ada satu pun dari ceritanya yang kudengar, kalau teknologinya tetap digunakan alias teknologinya mangkrak. “Mas, ngapain sih pinter-pinter bikin mesin tapi akhirnya gak dipake semua?” kemudian dia bengong. Aku kembali frustasi.
Keluarga di Bekasi akhirnya berpencar untuk merantau. Aku loncat-loncat dari Jogja, Karimunjawa, dan sekarang di Bali bekerja di Get Plastic. Kakak pertamaku dan Bunda di Klaten, ikut suaminya berkegiatan di komunitas tani Delanggu. Kakak keduaku bersama suaminya tetap di Bekasi. Bertemu Get Plastic seperti lega dari menjawab banyak keresahanku soal sampah plastik. Get Plastic menjawab pertanyaan itu dengan mengembangkan mesin pirolisis, pengolah sampah plastik menjadi BBM. Mesin pirolisis Get Plastic banyak digunakan untuk pengolahan sampah plastik di hulu dan jadi solusi energi alternatif untuk kapal nelayan atau traktor petani.
Suatu hari, kakak pertamaku mengirimkan pesan dan bertanya tentang mesin pirolisis Get Plastic. Obrolan berakhir begitu saja. Lebaran tahun ini aku berkesempatan untuk pulang ke Klaten. Aku iseng bertanya ke kakakku tentang pengangkutan sampah di kampung dan kenapa waktu itu tiba-tiba bertanya soal mesin pirolisis Get Plastic.

“Di kampung ini…” jawabnya. “… Untuk pengangkutan sampah perlu membayar retribusi sekian rupiah. Tetapi tahun ini TPA penuh dan berakhir pada kesulitan untuk membuang sampah. Salah satu tokoh desa usul untuk menumpuk sampah di kampung, tepatnya dibelakang rumah kami”
“Pergi dari Bantargebang, eh ketemu Bantargebang lain”
Kadang aku bertanya, apakah kita benar-benar bisa pergi dari kutukan itu? Atau kita hanya sedang menutup mata, sambil membiarkan gunung-gunung sampah tumbuh diam-diam di belakang rumah orang lain? Yang kupercaya sekarang, solusi bukan hanya soal teknologi. Tapi juga soal keberanian mengubah cara pandang, cara hidup, dan cara kita memperlakukan bumi dan satu sama lain. Mungkin, kutukan Bantargebang itu tidak akan hilang dalam semalam. Tapi bisa diatasi, sedikit demi sedikit, bukan hanya oleh orang-orang pintar, tapi juga oleh yang peduli. Bahkan oleh yang masih belajar. []
Siswi SMA Ekperimental SALAM
say
12 April 2025 at 22:59kewreeeennnn