Foto: Dian Martiningrum.

Belajar Berorganisasi

“Kamu sudah punya pilihan untuk Pemilu Pengurus Pasar Senin Legi besok?”

“Sudah”

“Oya? Sudah mantep? Emang kamu milih siapa sih?”

“Ahhhhh Mbak Tyas ini! Pemilu kan raaaaaaa haaaaaa siiiiiii aaaaaaaa”

“Oh iya, mbak Tyas lupa kalau rahasia, maaf ya…”

Foto: Dian Martiningrum.
Foto: Dian Martiningrum.

Itulah sepenggal obrolan menarik dari banyak obrolan yang muncul beberapa hari menjelang Pemilu Pengurus Pasar Senin Legi, 11 September 2017 lalu. Pemilu untuk kebutuhan pengurus pasar senin legi ini merupakan yang pertama dilakukan di SALAM. Gagasan awalnya adalah bahwa peristiwa yang terjadi setiap selapan hari di “Pasar Senin Legi” bisa menjadi peristiwa untuk masuk dalam belajar berorganisasi. Ide tentang adanya organisasi atau forum anak ini muncul saat para fasilitator mengikuti workshop awal semester kemarin, di mana secara khusus menjadi fokus dari teman-teman yang mengampu kegiatan kepanduan.

Pasar Senin Legi yang di dalamnya kaya akan dinamika, membutuhkan peran-peran nyata dalam berbagai hal dipandang akan dapat menjadi embrio wadah yang tepat untuk pertama kali anak belajar berorganisasi. Organisasi di Pasar Senin Legi ini nantinya diharapkan akan menjadi embrio munculnya Forum Anak Salam yang akan melengkapi, bersinergi dengan forum yang sudah ada sebelumya, forum orangtua. Pasar Senin Legi sendiri sudah rutin berjalan setiap 35 hari sekali. Awalnya yang menjadi penanggung jawab dan koordinator dalam berbagai peran seperti keuangan, bank, keamanan, kebersihan, humas, dokumentasi, dan perlengkapan adalah para fasilitator. Dan mulai Pasar Senin Legi 18 September 2017 ini, fungsi-fungsi tersebut akan direlakan untuk sepenuhnya dikerjakan oleh anak-anak.

Alur pemilu
Alur pemilu

Sebagai langkah awal, fasilitator mengadakan pertemuan untuk bersama-sama merancang alur pemilihan. Diskusi tersebut menghasilkan keputusan bersama bahwa yang akan terlibat menjadi pengurus-pengurus inti dalam berbagai divisi ini nantinya adalah anak-anak yang duduk di kelas 5 SD sampai dengan mereka yang sudah SMA. Proses berikutnya adalah anak-anak dari kelas 5 SD hingga SMA diminta mencalonkan nama-nama yang akan menjadi pengurus. Setiap kelas memiliki nama calonnya tersendiri, boleh dari kelasnya, boleh juga nama dari kelas lain. Setelah nama-nama tersebut terkumpul, fasilitator yang tergabung dalam Komisi Pemilihan Umum akan mengkonfirmasi kesediaan yang bersangkutan. Jika tidak bersedia, maka nama tersebut akan didrop, sebaliknya jika bersedia, maka proses dilanjutkan. Konfirmasi kesediaan calon pengurus ini memakan waktu 2 hari, hasilnya beberapa calon mengundurkan diri, sementara sebagaian besar lainnya menyatakan siap untuk mengikuti Pemilu nanti.

Persipan bagi para calon diadakan dalam wadah diskusi bersama dengan tim KPU. Persiapan ini dimaksudkan untuk bersama-sama memahami tugas dari masing-masing jabatan, bagaimana akan mengkampanyekan dirinya nanti, serta apa yang akan dilakukannya jika nantinya terpilih sebagai pengurus Pasar Senin Legi. Diskusi ini banyak dilakukan dengan mengajak teman-teman kecil mengingat-ingat kembali peristiwa Pasar Senin Legi, mengingat peran-peran yang ada bersama dengan tugas-tugasnya. Diskusi yang terjadi cukup dinamis karena dalam setiap Pasar Senin Legi sebelum-sebelumnya anak-anak juga telah turut terlibat untuk menjadi petugas, di bawah koordinasi fasilitator. Misalnya saja ketika teman-teman kecil diajak mendeskripsikan tugas lurah. Menurut mereka tugas lurah itu mengkoordinir, menyuruh, serta mengatur. Diskusi diperdalam oleh fasilitator dengan mempertanyakan, “Lalu apa saja yang dikoordinir, diatur, disuruh oleh Lurah?” Pertanyaan tersebut sangat membantu anak-anak untuk mengingat-ingat, kemudian merinci dengan detail siapa saja yang akan berada di bawah Lurah dan penjelasan tugas-tugasnya.

Foto: Dian Martiningrum.
Foto: Dian Martiningrum.

Berkaitan dengan kampanye, mereka mendiskusikan bersama bagaimana caranya untuk memperkenalkan diri, menyampaikan program-programnya, dan bagaimana membuat orang tertarik untuk memilihnya. Ada yang memiliki ide untuk melakukan kampanye melalui pendekatan langsung, ada pula yang menggunakan media sosial seperti instagram untuk memperkenalkan diri dan programnya.

Menyoal kepemimpinan, kami percaya bahwa pengalaman akan dengan sendirinya mengajarkan banyak hal. Anak-anak akan belajar dari peristiwa nantinya ketika sudah benar-benar menjalankan tugasnya. Maka tak perlulah muluk-muluk menjejalkan teori kepemimpinan atau menggelar latihan dasar kepemimpinan, biarlah peristiwa dan pengalaman yang akan menjadi gurunya.

Kandidat Pemilu
Kandidat Pemilu

Masa kampanye di sekolah dibagi ke dalam 3 hari masa kampanye. Dalam kampanye ini, tiap-tiap calon memperkenalkan diri dan mempromosikan programnya di depan para fasilitator dan teman-temannya. Jangan bayangkan kondisinya seperti kampanye para calon gubernur, bupati, atau anggota dewan. Kampanye anak anak ini menariknya justru bukan karena konten kampanyenya, tetapi bagaimana usaha mereka untuk berani berbicara di depan banyak orang, teman-teman dari banyak kelas dan juga semua fasilitator. Pengalaman ini merupakan proses pembelajaran yang berharga. Bagaimana seporang anak yang amat sangat tidak percaya diri berjuang mengatasi rasa malu dan takutnya. Bagaimana anak yang merasa gampang grogi mempersiapkan apa yang akan disampaikan dalam sebuah catatan.

Menyimak isi kampanyenya, ternyata motivasi mereka mau menjadi petugas beragam. Ada yang karena ingin mengembangkan kemampuannya, ada yang karena merasa mampu telah memiliki pengalaman sebelumnya, ada juga yang tertarik karena dengan menjadi pengurus berarti memiliki gaji (dalam bentuk uang SALAM).

Setelah tiga hari berkampanye, masa berikutnya adalah masa tenang, tidak ada lagi kampanye. Namun obrolan anak-anak seputar kampanye masih ada. Tiap-tiap hari ada saja anak-anak yang masih mengamati contoh kartu suara yang di tempel di papan. Beragam obrolan seperti pilihan berdasarkan level kegantengan, berdasar pertimbangan karena kenal dan lain sebagainya.

11 September 2017, menjadi hari yang dinanti-nanti. Seluruh warga salam, besar kecil, tua dan muda ikut dalam pesta demokrasi. Peristiwa hari Senin itu sungguh kaya akan dinamika. Apa yang dialami anak-anak hari itu mirip dengan pemilu yang sebenarnya. Mengambil nomor antrian, menunggu dipanggil, mendapat kartu suara, mencoblos di dalam bilik suara, memasukkan dalam kotak suara, sampai dengan mendapat tanda tinta pada jari sebagai tanda sudah memilih.

Foto: Dian Martiningrum.
Foto: Dian Martiningrum.

Saya tertarik mengamati anak-anak kecil di kelas1 dan 2. Jujur, dalam hati saya menyimpan keraguan (yang tidak seharusnya), “Mereka bisa po menentukan pilihan?” Keraguan saya tertepis ketika melihat bahwa ternyata mereka bisa melakukannya, mereka memiliki pilihannya sendiri, tidak terpengaruh temannya. Kemantapan ini justru semakin terlihat ketika ada anak-anak yang masih sulit untuk membaca, kemudian membutuhkan pendampingan fasilitator untuk membacakan nama-nama calonnya. Fasilitator cukup membacakan nama-nama calon, dan mereka dengan mantap memilih satu diantaranya. Hebat!

Proses penghitungan suara disaksikan langsung juga oleh mereka. Sorak sorai riuh rendah khas anak-anak mewarnai proses penghitungan suara. Sorot mata gembira yang berbaur dengan rasa malu malu tersipu, setiap kali namanya mendapat tambahan satu suara. Sorai-sorai bahagia ketika ”jagonya” lagi lagi mendapat tambahan angka. Atau seorang bocah yang berulangkali menghitung hasil suara milik kakaknya, untuk memastikan bahwa kakaknya tetap unggul di banding kawan lainnya. Semuanya berjalan alami, khas anak-anak tanpa settingan. Dan hari itu juga kami mendapatkan pengurus-pengurus baru untuk kegiatan Pasar Senin Legi.

Bagaimana pengurus-pengurus baru itu mengelola kegiatan Pasar Senin Legi? Saya akan menyaksikannya hari ini.

Bersambung