Menghadirkan tontonan anak-anak Wayang Serangga.

Terkenal ala Youtubers

AKHIR PEKAN, bersama suami, mengantar anak bareng teman-temannya ke sebuah mall di wilayah Sleman. Mereka ingin sekali bertemu dengan idolanya, para youtubers, yang selama ini mereka tonton di kanal Youtube.

Foto: Sisca Marindra.
Foto: Sisca Marindra.

Memang, saat ini idola tak lagi sebatas penyanyi, pemain film, atau bahkan atlet seperti pada zaman kanak-kanak saya dulu. Para tokoh-tokoh yang aktif di dunia maya pun kini mampu menyihir mata para anak-anak dan remaja. Terbukti, pada acara itu hadir ratusan atau mungkin jika diakumulasi bisa ribuan anak-anak dari usia SD, SMP hingga SMA tumplek blek di sana.

Seru memang, karena itulah ciri dari peradaban generasi Z, Sebuah generasi yang fasih dengan teknologi digital. Teori generasi (theory of generation) ini pertama kali diutarakan oleh sosiolog Hungaria Karl Mannheim. Generasi Z ini lahir di saat penggunaan komputer dan internet sedang marak-maraknya. Tak heran jika pas lahir jebrol mereka langsung bisa mengoperasikan handphone.

Menghadirkan tontonan anak-anak Wayang Serangga. Foto: Sisca Marindra.
Menghadirkan tontonan anak-anak Wayang Serangga. Foto: Sisca Marindra.

Lantas bagaimana kita, para orang tua, menyikapi ini? Padahal di Sekolah SALAM diam-diam tengah membangun sikap anak-anak supaya kelak tidak hanya sekadar menjadi “manusia follower, yakni manusia yang percaya dengan dirinya — jadi cukuplah menjadi followernya Tuhan Yang Menciptakan kita saja.

Namun, di era digital seperti sekarang tidak hanya televisi yang jadi sumber tontonan anak-anak. Kalau saat era 1990an televisi jadi primadona sebagai cakrawala informasi. Kini, hal itu sudah berubah. Televisi hanya salah satu rujukan dalam mencari informasi dan hiburan. Pergeseran ini dimungkinkan karena pengaruh perkembangan teknologi informasi. Kini, semua orang dapat menyaksikan tayangan apa saja hanya dalam genggaman melalui gawai (gadget) masing-masing. Hanya satu klik saja, segala informasi langsung ada di hadapan mereka.

Kemungkinan kedua, karena tayangan yang disiarkan di televisi tidak terlalu beragam, terutama tontonan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang makin terbatas. Sebagaimana diketahui, pada era dulu, segmen tontonan anak-anak pada sore hari atau saat libur sangat beragam. Ada film kartun, film bergenre keluarga, dan tayangan ilmu pengetahuan.

Menghadirkan tontonan anak-anak Wayang Serangga. Foto: Sisca Marindra.

Namun kini, waktu yang disediakan untuk slot tontonan segmen anak-anak justru dijejali oleh sinetron dan reality show yang hanya menjual dramatisasi. Di tengah semakin berkurangnya keberagaman konten di televisi untuk anak-anak, membuat mereka mencari informasi dan hiburan lewat internet.

Lewat internet pula, anak-anak asyik berinteraksi di dunia maya. Kebanyakan mereka memilih media sosial. Facebook, Twitter, dan Instagram tentu tak asing bagi mereka. Ditambah lagi dengan perkembangan video blogging (vlog) di kanal Youtube.

Siapa saja dapat menyiarkan konten di Youtube. Hingga akhirnya muncul orang-orang biasa yang kemudian menjadi terkenal dan menjadi public figure hanya karena Youtube. Mereka ini dikenal dengan istilah Youtubers.

Konten yang disiarkan oleh para youtubers ini macam-macam. Misalnya kegiatan sehari-hari hingga konten yang memuat informasi tentang film, musik, serta dinamika di masyarakat.

Keberadaan youtubers ini seolah jadi fenomena baru yang akhirnya diikuti oleh anak-anak. Pengaruhnya ternyata cukup besar. Banyak yang meniru gaya bicara, gaya berpakaian mereka, hingga ikut membuat vlog. Bahkan kini youtubers bisa dibilang jadi sebuah profesi dan dicita-citakan. Coba sekarang tanya ke anak-anak, cita-citanya apa? Pasti dari sekian anak, ada yang menjawab ingin jadi youtubers.

Foto: Sisca Marindra.

Dari Youtube ini, banyak anak-anak bisa mengakses tontonan yang baik. Namun, mereka juga dengan mudahnya mengakses tontonan yang tak sesuai dengan umurnya. Meskipun ada restricted mode di kanal tersebut untuk menyaring konten dengan rating dewasa. Namun, kenyataannya tidak semua orang tua mengetahuinya sehingga tontonan di kanal Youtube terkadang luput dari perhatian.

Berangkat dari situ, sosialisasi literasi rating di Youtube menjadi suatu hal yang perlu dilakukan. Baik untuk kita, para orang tua pemilik akun media social, pengunggah konten digital, maupun kita, sebagai penonton tayangan.

Tujuan spesifiknya ya tentu saja melindungi anak-anak kita dari tontonan yang tidak sesuai umurnya. Juga melindungi mereka dari informasi yang tidak benar, hoax, atau tontonan yang mengandung ujaran-ujaran kebencian. Lebih lanjut orang tua juga bisa menemani, mendiskusikan dengan-anak bagaimana secara kreatif mampu menggunakan media tersebut sebagai media ekspresi. Tentu saja sebagai orang tua harus tahu bagaimana memproteksi anak-anaknya. Nah, segera cek smartphone dan langsung menuju setting untuk menghidupkan restricted mode.