Belajar dari Anak, Mengenal Perbedaan Benda Mati dan Hidup

Kemarin ada pesan dari fasilitator kelas 1, Bu Wiwin, untuk berpetualang bersama anak dan mengamati benda hidup dan benda mati. Saya terlambat membaca pesan itu, baru sempat lihat siang, sebelum berangkat nyekar. Maka, petualangan dan penelitian Angger untuk mencermati benda hidup dan benda mati baru dimulai tepat setelah saya membacakan pesan Bu Wiwin.

Sambil duduk di depan gerbang, saya coba mengajak Angger berdiskusi, kira-kira akan menemukan benda mati dan benda hidup apa di makam simbahnya. (Sekitar sebulan yang lalu, kami sudah nyekar, jadi saya rasa ingatan Angger masih cukup kuat untuk mengingat ada apa saja di makam.) Maka katanya, “Batu, benda mati. Pohon kelapa dan undur-undur benda hidup.”

Pikir saya, ah, wong saya belum menjelaskan pengertian benda hidup dan benda mati, mesti ya anak ini tidak mengerti, paling cuma kebetulan saja jawab itu.

Saya pun mengujinya, “Kalo kelapa? Benda hidup atau mati?”

Katanya,”Gimana to Ibuk tu, ya mati, lah.”

Saya tanya lagi untuk mengetahui pemahamannya,”Kenapa kelapa benda mati, tapi pohon kelapa hidup?”

Angger jawab,”Ya nggak tau kenapa, tapi udah jelas, lah.”

Saya sedikit menjelaskan, entah ini sesuai dengan teks pada buku atau tidak, bahwa ciri benda hidup adalah bertumbuh, bernapas, butuh asupan makan dan minum, serta butuh membuang sisa olahan makan dan minumnya. Yah, sama sok taunya lah tanpa buka buku udah kepedean bikin kesimpulan.

Mendengarnya, Angger hanya manggut-manggut.

Tepat pukul dua siang, kami berangkat. Pertama-tama ke makam Kuncen, tempat eyang kakung, papa dari bapaknya Angger dimakamkan. Di sana saya memberi tawaran pada Angger untuk memotret benda-benda hidup dan mati yang ada, supaya tidak lupa. Angger menolak. Kami hanya membahas benda-benda yang terlihat, tak terlalu banyak jenis benda, hanya dominan nisan besar-besar dan pohon kamboja. Angger hanya mengamati tanggal eyang kakungnya meninggal, dan mencoba membaca nama eyang kakungnya.

Bapaknya sempat berkata, “Di sini sih kebanyakan benda mati semua, dari nisan sampai isinya.”

Di makam Kuncen, Angger lebih tertarik mengamati beberapa makam dengan bambu runcing dan hiasan kayu berbentuk bendera merah putih. “Mereka dulu perang pakai bambunya itu ya waktu masih hidup?”, begitulah yang selalu ditanyakannya, selain bertanya mengapa ada patung Bunda Maria di beberapa makam sementara di makam yang lain tak ada. Saya hanya menjawab, “Yang dikubur di situ Katolik.”

Kami melanjutkan perjalanan ke makam simbah dari ibu mertua saya di Gunung Sepikul dan ke makam simbah saya di Tirto, keduanya berada di kecamatan Pandak, Bantul.

Dalam perjalanan, saya bertanya lagi, “Ngger, lihat benda mati apa?”

Angger kesal, nanya kok gitu melulu.

Dijawabnya, “Banyak, lah. Aaahh.”

“Kalau mobil benda mati apa hidup?” saya masih bertanya lagi. Mungkin bagi Angger, pertanyaan saya persis seperti cobaan hidup yang datang melulu,  tapi Angger kan belum ngerti konsep pencobaan.

“JELAS HIDUP, LAH.” jawab Angger, agak menyentak, galak, persis ibunya.

“Lhoh!” Serempak saya dan Angger sadar kalau ada yang keliru dengan jawaban Angger tadi.

Angger tertawa, mengoreksi jawabannya menjadi benda mati. Dia katakan, karena mesin menyala jadi sering disebut hidup.

Sampai di makam, Angger melihat kambing dari dekat. Yah, saya masih bersemangat menanyai Angger, meski sudah yakin bahwa Angger paham beda benda mati dan benda hidup. Di makam Gunung Sepikul, Angger sempat jatuh terguling. Katanya, ia berniat memukulkan ranting yang ditemukannya ke tembok kamar mandi. Tapi malah terpelanting dan terguling. Katanya sambil tertawa,” Salah Angger sih sembrono jadi jatuh, untung nggak sakit.” Tentu sembrono yang dimaksud bukan soal klenik dan hantu, tapi karena ingin memukul tembok kamar mandi, jadi tak melihat kalau tanah di dekat kamar mandi ada yang berlubang.

Dari makam itu, kami pindah ke makam di Tirto. Makam ini adalah makam keluarga saya. Simbah, pakde, dan adik saya dimakamkan di sana. Angger tak berminat mencari undur-undur. Saya juga sudah tak lagi bertanya benda hidup dan mati. Rasanya ingin cepat selesai, karena panas matahari sungguh luar biasa. Jika cepat selesai, maka kami juga akan makin cepat menuju Warung Sate Sor Talok, sate kesukaan kami yang sudah setahun lebih tak dikunjungi karena memang hampir tak pernah makan di luar rumah selama tahun 2020.

Akhirnya sampai juga ke sate kesukaan kami itu. Angger memesan sate satu porsi untuknya, Agni memesan tongseng. Sambil menunggu makanan dihidangkan, Angger mengamati benda hidup dan mati lagi. Kali ini nggak pakai kesal. Angger menyebutkan jika ada benda mati di sawah, yaitu sampah plastik dan ember plastik yang terlihat dari kursinya. Lalu, ayam betina yang berkumpul disebutnya sebagai benda hidup. Agni, adik Angger juga tertarik dengan kelompok ayam betina sampai menirukan gaya “bicara” ayam betina dengan berbisik dan mulut dimonyong-monyongkan. Yap, persis saat sekelompok ibu-ibu mengobrolkan isu-isu terkini.

Saya bertanya lagi pada Angger, “Kalau tadi lihat kambing di makam itu benda hidup, lalu kambing yang digantung itu benda hidup juga atau tidak?”

“Mati, lah, Bu. Lihat, pisau yang dipakai ngiris daging tajam buaaanget itu.” begitu jawab Angger yang tampaknya sangat bosan dengan tema yang saya sodorkan tanpa mencoba mengajak diskusi secara lebih atraktif seperti sambil akrobat atau menari mungkin.

Meski kesal dengan cara saya, Angger tetap menjawab dan mencoba bersenang-senang dalam tema yang kurang bisa saya kelola untuk jadi lebih menantang bagi Angger. Tapi saya senang, saya tak merasa pernah memberikan teori-teori dan dia sudah paham bedanya. Puji syukur. Saya rasa, Angger sudah sinau sambi nggawe dalan. Saya rasa Angger sudah melakukan cara belajar sesuai dengan semboyan: “mendengar saya lupa, melihat saya ingat, melakukan saya paham, menemukan sendiri saya kuasai.”

Oh iya, Angger kan memang anak kelas 1 SD Sanggar Anak Alam, Yogyakarta, pantas kalau cara belajarnya tak seperti saya yang produk konvensional, yang tak percaya diri sampai tulisan ini selesai karena belum mencari referensi bacaan tentang ciri benda hidup, atau yang lebih tepat bagi saya, makhluk hidup. Jangan-jangan saat tadi Angger sempat bingung apakah mobil benda hidup atau benda mati karena Angger sudah paham perbedaan makna dari kata “benda” dan kata “makhluk”, ya? Hmm…. Besok belajar lagi dari Angger, ah. Semoga Angger bisa menjelaskan selancar tadi saat di jalan ia sempat menceritakan tentang “Attack on Titan” yang embuh banget buat ibunya.

#belajardariAnak

#belajardarirumah

#sanggaranakalam

#kelas1SD