Blog

BIOSAKA, Tubuh, dan Ingatan Tanah

Tanah tidak pernah butuh kita. Ia sudah lebih tua. Lebih arif. Lebih sabar. Yang butuh adalah kita—manusia yang menulis “pembangunan” di atas papan tulis, lalu lupa menulis kembali namanya: bumi. Petani menemukan BIOSAKA. Cairan sederhana, diracik dari rerumputan, pelepah, dedaunan—seolah ramuan rahasia yang sebenarnya bukan rahasia. Alam memberi, manusia sekadar meracik ulang. Tapi apakah ini sekadar pupuk? Atau tanda bahwa kita sedang kehabisan bahasa untuk mengucap “kesuburan”?

Di masa lalu, nenek moyang memberi sesajen pada sawah. Bukan untuk “memberi makan dewa”, tetapi untuk menjaga relasi. Sawah adalah tubuh bersama. Hari ini, BIOSAKA—yang diklaim organik, murah, ramah lingkungan—adalah sesajen baru: kita menaruh kembali ke tanah apa yang dulu kita rampas dengan pupuk kimia.

Ada ironi. Di negeri yang tanahnya subur, kita tergoda menjadi buruh perusahaan pupuk. Kita menggadaikan panen pada harga gas alam, pada kuota impor amonia, pada pabrik-pabrik BUMN yang memproduksi pupuk bersubsidi. Petani seakan tidak lagi menanam padi, melainkan menanam ketergantungan.

BIOSAKA bisa kita baca sebagai tanda pemberontakan kecil. Seperti tubuh yang menolak obat dokter kota dan kembali ke ramuan jamu desa. Sebuah tubuh yang ingin ingat asalnya.

Tapi ingatan selalu rapuh. Kita sering mengulang nasib: teknologi lokal diglorifikasi sebentar, lalu ditelan pasar. BIOSAKA mungkin hanya mode sesaat, menunggu digantikan jargon baru: “biochar”, “nano-fertilizer”, “smart-agriculture”. Kata-kata yang terdengar canggih, tapi makin menjauhkan petani dari tubuh tanahnya.

Bukankah sejarah pangan kita adalah sejarah kehilangan kedaulatan? Dari zaman tanam paksa, ketika tebu menggantikan padi, hingga revolusi hijau yang mengganti kompos dengan urea. Sejarah ini selalu sama: tanah sebagai korban, petani sebagai penonton.

Maka BIOSAKA, dalam fragmen kecilnya, bisa juga dibaca sebagai doa. Doa yang tidak diucapkan di masjid atau gereja, melainkan di sawah yang basah. Sebuah doa agar tanah mau memaafkan manusia.

Apakah tanah akan memaafkan kita? Atau ia sudah menunggu waktu untuk menelan semuanya—dengan banjir, longsor, dan kekeringan? Pertanyaan itu menggantung. BIOSAKA mungkin bukan jawaban. Ia sekadar ingatan yang cair—sebotol kecil, berisi sisa-sisa kesetiaan manusia pada tanah.

Mungkin kita harus membaca BIOSAKA bukan sebagai pupuk, pestisida, atau ramuan organik. Melainkan sebagai tubuh politik itu sendiri.

Tanah adalah rakyat. Bahan organik adalah pengalaman sehari-hari: sisa luka, sisa ketakutan, sisa cinta. Lalu BIOSAKA: ramuan sederhana yang lahir dari tubuh rakyat untuk menghidupi dirinya sendiri.

Berbeda dengan pupuk kimia—produk industri, modal, birokrasi—BIOSAKA lahir dari bawah, dari rerumputan, dari tangan petani yang tidak menunggu regulasi. Ia anti-formula, anti-resep resmi. Persis seperti politik yang otonom: tumbuh liar, melawan “subsidi” yang hanya menjinakkan.

Maka pertanyaannya: apakah mungkin sebuah bangsa belajar berpolitik seperti meramu BIOSAKA? Mengumpulkan sisa-sisa tubuh, menggilingnya, memerasnya, lalu membiarkannya bekerja sendiri? Politik yang bukan proyek pabrik, bukan komando negara, melainkan cairan kehidupan.

Atau, jangan-jangan BIOSAKA justru akan bernasib sama: diambil alih, dipatenkan, diproduksi massal oleh korporasi. Dari botol plastik murahan menjadi label glossy dengan harga berlipat. Dari doa sawah menjadi komoditas.

Seperti tubuh rakyat: selalu dijanjikan kesuburan, tapi akhirnya dijadikan pasar.

SUMBER: Hanik Channel https://www.youtube.com/watch?v=O3PZ41b5EAY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *