Dari Pangan lokal Hingga Ilmu Yang Berpihak.

Salah satu hal yang membuat saya terpukau dari Sanggar Anak Alam (SALAM) yang dipandegani Bu Wahya dan Pak Toto adalah bagaimana mereka menanamkan kesadaran pada peserta didik tetang makna pangan dalam kehidupan, yang jauh dari sekedar kebutuhan perut—Anak-anak ditumbuhkan kesadarannya tentang hal fundamental dalam hidup.

Anak SALAM sedang belajar menyeduh kopi Iindonesia

Peserta didik didorong untuk secara mandiri memiliki pengenalan secara akademis maupun kultural atas pangan. Anak-anak yang belajar di Salam mendapat pendampingan untuk menumbuhkan gairah melakukan penelitian tentang pangan sesuai tahap tumbuh kembang anak. Dalam menginspirasi anak untuk tergerak mengembangkan rasa ingin tahu, dan bekerja menjawab pertanyaan dengan langkah-langkah ilmiah, ini adalah keunggulan yang penting untuk dipelajari para pendidik di tempat lain.

Menurut saya proses belajar seperti ini adalah proses yang mendalam, karena anak-anak dituntun untuk lebih mengenali diri dalam hal memahami minat dan kemampuan untuk bekerja menjawab pertanyaan yang muncul.

Dan bekerja adalah proses yang lengkap, psikologis, intelektual, ketrampilan dan termasuk motorik ketika anak akhirnya melakukan berbagai uji coba sesuai inisiatifnya untuk menemukan atau melengkapi jawaban atau menemukan keyakinan atas temuan sesuai tahap belajarnya. Belajar dengan pendekatan multidisipliner melalui penelitian ini , mengantar anak memiliki wawasan yang tidak terkotak-kotak, sebagaimana hidup ini mengandung banyak aspek yang saling terhubung.

Dari soal pangan ini anak-anak mengenal dan menyadari kemanusiaan sebagai mahluk yang ada dalam lingkungan yang luas, saling terhubung dengan sesama manusia dan alam.

Pilihan pada pangan lokal adalah adalah juga wujud menjaga keselamat teman—dalam pengertian luas mendukung usaha ekonomi kolektif yang terbatas modal dan kelestarian lingkungan.

Anak SALAM belajar dengan nara sumber

Kesadaran tentang keterhubungan ini memudahkan peserta didik memiliki keberpihakan pada semua manusia yang berjuang untuk kehidupan mereka. Bila kita bicara tentang hidup yang bermanfaat, belajar memang harus dimulai dari bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana mengupayakan hidup yang berkualitas, yang beradab, adil dan damai.

Selamat ulang tahun ke 21 untuk Sanggar Anak Alam (SALAM) 20 Juni .

Semoga semakin memperkuat gagasan pendidikan untuk Keindonesiaan yang adil dan beradab.