Mengumpulkan Memori Indah Semasa Kecil

PAMERAN SENI RUPA SALAM

“CA-RA-KA” (CIPTA RASA KARSA) 2 MEI 2018

Eksperimen. Begitu Utin Rini Anggraini menggambarkan karya terbarunya yang akan dipamerkan di Pameran CARAKA. Menurutnya, eksperimen lebih membebaskan ide. Sesuai dengan konsep Sanggar Anak Alam (SALAM) selama ini.

Utin Rini Anggraini

“Dulu memang cenderung pop art, tapi sekarang ke arah eksperimen, membebaskan ide,” ujar seniman kelahiran Pontianak, 18 Desember 1976, yang April kemarin ikut dalam Pameran Estetika Domestika.

Nah, pada karya yang dibuatnya khusus untuk Pameran CARAKA, Utin, sapaannya, mencampurkan lukisan (drawing) dengan sentuhan sulam. Menurutnya, dalam sulam terdapat benang yang dekat dengan kaum ibu. Bisa diibaratkan, benang itu masuk ranah domestic, ranahnya ibu-ibu.

“Dan aku sedang menikmati peran domestic. Karya ini adalah jembatan buatku untuk menghubungkan dunia seni yang biasanya maskulin dengan keberadaanku di ruang domestic,” ujar ibu dua anak yang belum lama ini menggelar pameran di Phillo Artspace Jakarta.

Utin menuturkan, dalam membuat karyanya ini dia berusaha mengumpulkan memori-memori indahnya semasa kecil dulu. Salah satunya memori saat dia asyik membuat baju-baju boneka dengan jahitan tangan.

“Aku menikmati prosesnya, mengingat memori indah sewaktu kecil. Dulu aku juga pernah belajar menyulan tapi nggak selesai, sekarang nerusin lagi,” ujarnya.

Ditanya terkait Seni dan Pendidikan. Utin punya argumennya sendiri. Menurutnya, seni dan pendidikan sangat berkaitan, karena hubungannya dengan rasa. “Seperti belajar Sastra, sesuatu yang tidak hanya bisa dihitung atau diraba tapi juga bisa dirasakan dengan jiwa,” jelasnya.  (*)