Tulisan ini diolah dan dirajut kembali melalui pembacaan mendalam atas laporan mentor/fasilitator Arka Bhagavadgita, Kelas 4 (empat) Sanggar Anak Alam, Semester I Tahun Ajaran 2024/2025. Laporan tersebut tidak diperlakukan semata sebagai dokumen administratif pendidikan, melainkan dibaca sebagai jejak pengalaman belajar seorang anak—catatan tentang rasa ingin tahu, percobaan, kegagalan kecil, kegembiraan, dan proses tumbuh yang berlangsung di ruang-ruang keseharian.
Dari laporan itu, fakta-fakta pedagogis—tema riset, metode belajar, praktik lapangan, hingga refleksi fasilitator—ditafsirkan ulang dan dipadukan dengan pendekatan esai reflektif yang menggabungkan bahasa liris dan kritik sosial. Data tidak dipindahkan secara mentah, tetapi diolah menjadi narasi yang berusaha menangkap makna di balik proses belajar: bagaimana pengetahuan lahir dari percakapan keluarga, dari langkah kaki ke ruang publik, dari interaksi antara tubuh anak, lingkungan, dan sejarah yang diam-diam hadir.
Dengan demikian, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai ringkasan laporan, melainkan sebagai pembacaan kreatif atasnya—sebuah upaya menjembatani dunia pendidikan alternatif dengan refleksi yang lebih luas tentang sejarah, modernitas, dan cara anak menata dunianya sendiri. Fakta dan imajinasi dibiarkan saling menyapa, sebagaimana pengalaman belajar Arka sendiri yang bergerak lentur antara pengamatan konkret dan daya khayal.
Esai ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap proses pendampingan mentor/fasilitator yang memosisikan anak bukan sebagai objek evaluasi, melainkan sebagai subjek pengetahuan. Dalam semangat itu, laporan belajar dibaca bukan untuk menilai, tetapi untuk mendengarkan—dan dari proses mendengarkan itulah tulisan ini dirajut, sebagai ruang refleksi bersama tentang pendidikan yang berpihak pada rasa ingin tahu dan pengalaman hidup anak.
Perencanaan, kata orang dewasa, selalu terdengar seperti sesuatu yang serius dan berat: tabel berbaris rapi, target yang harus dicapai, agenda yang menuntut ketepatan waktu. Ia seperti rel baja—lurus, kaku, dan tak memberi banyak ruang untuk belok. Tetapi bagi seorang anak kelas empat, perencanaan justru bisa lahir dari sesuatu yang nyaris tak disengaja: percakapan ringan di meja makan, di antara suapan nasi dan tawa kecil yang belum mengenal tenggat.
Di meja itu, Arka menyebut satu kata sederhana: kereta.
Bagi orang dewasa, kereta sekarang ini terkait dengan tepat waktu, bersih dan nyaman, atau perhitungan tiket murah dan mahal. Tetapi bagi Arka, kereta adalah pintu. Ia mencatat nama-namanya, menanyakan rutenya, menghafalkan jam berangkatnya—seolah sedang merapal mantra tentang dunia yang bergerak tanpa henti. Di sana, rasa ingin tahu bekerja tanpa perintah, tanpa rubrik penilaian.
Ada paradoks yang lahir diam-diam. Dunia pendidikan kita gemar memasang rel yang kaku bagi anak-anak: tujuan sudah ditentukan, arah sudah ditarik lurus sejak awal. Namun Arka menemukan relnya sendiri. Ia ingin tahu bukan karena disuruh, melainkan karena satu kata itu memanggilnya.
Kereta, dalam pengalaman anak, adalah jendela bergerak. Ia bukan sekadar membawa penumpang dari Yogyakarta ke Jakarta, tetapi juga mengangkut pertanyaan-pertanyaan kecil: mengapa bisa bergerak cepat? Mengapa jadwalnya begitu teratur? Mengapa nama-namanya terdengar puitis—Bogowonto, Taksaka—seperti potongan puisi yang diwariskan dari masa lalu?
Orang dewasa sering lupa bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari buku teks. Ia bisa muncul dari deru lokomotif, dari papan jadwal di stasiun, atau dari obrolan santai di ruang keluarga. Yang remeh, dalam mata anak, sering kali justru menjadi kunci.
Sejarah bangsa ini pun pernah bergerak di atas rel. Kereta pertama di Hindia Belanda—Batavia–Buitenzorg, 1867—bukan hanya simbol modernitas, tetapi juga tanda kolonialisme yang sedang menancapkan kuku. Rel membelah sawah dan kampung seperti garis lurus kekuasaan. Gula dan kopi meluncur cepat ke pelabuhan, sementara keringat kuli kontrak tertinggal di ladang. Modernitas, sejak awal, datang dengan catatan kaki yang pahit: maju untuk siapa?
Arka tentu belum tahu kisah itu. Ia hanya tahu bahwa kereta bergerak, punya rute, punya jadwal. Tetapi justru di situlah kemurniannya. Dengan mencatat nama dan rute, ia sedang—tanpa sadar—berdialog dengan masa lalu. Bukan untuk menaklukkannya, melainkan untuk mengenalnya.
Mencari data, dalam bahasa sekolah, terdengar teknis dan dingin: observasi, wawancara, praktik. Di tangan Arka, pencarian data berubah menjadi hunting. Kata itu lebih mirip petualangan daripada kerja akademik. Ia berburu kereta di Abu Bakar Ali, Rol Rel, Nilu Café. Ia menghitung: 12, 10, 12. Angka-angka kecil yang bagi orang dewasa mungkin sepele, tetapi bagi Arka adalah bukti bahwa dunia bisa dipahami dengan mata dan tubuhnya sendiri.
Sejarah pernah mengenal perburuan jenis lain: perburuan tanah, tenaga, dan sumber daya. Pengetahuan dipakai untuk mengendalikan. Statistik menjadi alat kuasa. Tetapi di tangan anak, angka kembali jinak. Ia tidak lagi menjadi instrumen kontrol, melainkan permainan pengetahuan.
Arka juga belajar tentang jarak—bukan sebagai target efisiensi, melainkan sebagai pengalaman. Jarak dari rumah ke stasiun bukan sekadar kilometer, melainkan langkah kaki, waktu, dan rasa lelah. Ia mengembalikan pengetahuan ke tubuh. Di saat dunia orang dewasa sibuk memadatkan jarak, anak justru merayakannya.
Nama-nama kereta pun bekerja seperti mantra. Bogowonto, Manahan, Sancaka—bukan sekadar kode perjalanan, tetapi bunyi yang menyihir imajinasi. Dengan pengulangan, warna, dan irama suara orang tua, hafalan berubah menjadi ritual kecil penuh kasih. Di situ, kita melihat bagaimana ingatan bekerja: bukan sebagai gudang beku, melainkan sesuatu yang hidup, yang selalu membutuhkan pemanggil.
Teknologi sempat gagap menghadapi lidah bocah. Google tak memahami suara Arka yang belum sempurna. Mesin, yang katanya pintar, ternyata tak sabar pada proses belajar manusia. Tetapi justru dari kegagapan itu, Arka belajar satu hal penting: bahwa pengetahuan tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesetiaan mengulang.
Tabel-tabel yang ia susun—nama kereta, rute, jam—bukanlah data dingin. Ia adalah peta kecil tentang cara anak menata dunia. Puzzle yang ia potong dan rangkai bukan sekadar mainan, melainkan latihan epistemologis: bahwa dunia tidak pernah diberikan secara utuh; ia harus dirakit, kadang salah, lalu disusun ulang.
Di akhir semester, Arka diminta menceritakan kembali perjalanannya. Di panggung kecil itu, riset pribadi berubah menjadi pengetahuan bersama. Kereta—yang dulu menjadi simbol kuasa dan disiplin waktu—kini hadir sebagai kendaraan imajinasi.
Arka tidak sedang membangun peradaban. Ia hanya menyebut satu kata di meja makan: kereta. Tetapi dari kata sederhana itu, kita diingatkan bahwa masa depan tidak selalu dirancang di ruang rapat teknokrat. Ia sering lahir di ruang-ruang paling biasa—di antara tawa anak-anak, di antara pertanyaan yang terdengar remeh.
Dan barangkali, di situlah modernitas menemukan maknanya kembali: bukan sebagai kuasa atas orang lain, melainkan sebagai keberanian untuk membuka rel baru—dari rasa ingin tahu, dari imajinasi, dari seorang anak yang sedang jatuh cinta pada kereta.[]
Seorang otodidak, masa muda dihabiskan menjadi Fasilitator Pendidikan Popular di Jawa Tengah, DIY, NTT dan Papua. Pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST. Pendiri Akademi Kebudayaan Yogya (AKY). Pengarah INVOLPMENT. Pendiri KiaiKanjeng dan Pengarah Sekolah Alternatif SALAM Yogyakarta.
Leave a Reply