Seni Sebagai Media Belajar Yang Baik

PAMERAN SENI RUPA CA RA KA

SENI sebagai media ekspresi dan belajar. Begitu kata-kata yang terucap dari seorang Eunike Nugroho saat ditanya pendapatnya tentang seni dan pendidikan. Bagi Keke, sapaannya, dalam kehidupan seorang manusia, baik dia anak pun dewasa, menyerap pengetahuan, pengalaman apapun itu ke dalam tidak cukup jika tidak mendapatkan media untuk menyalurkan hasil olah ca-ra-ka-nya ke luar.

Eunike Nugroho

Selain itu, menggambar dan melukis juga merupakan cara belajar yang baik. ”Seni botani yang saya dalami mengajarkan bahwa pemahaman utuh datang dari pengamatan yang sungguh-sungguh atas satu subjek saat menggambar atau melukisnya. Menurut saya, lebih dari media ekspresi, seni juga media belajar yang baik,” jelas lulusan DKV UNS Solo yang pernah mengikuti pameran di Solo, Sanur, Calverton (UK), Sheffield (UK), dan Pittsburg (US) ini.

Keke yang bergabung dalam Pameran CARAKA yang diadakan Forsalam dan SALAM ini mengungkapkan, karya yang dipamerkan berupa lukisan Bunga Matahari dengan media cat air.

”Karya ini bukan tipikal karya saya biasanya yang lebih rinci sebagai lukisan botani tapi merupakan ilustrasi yang pernah saya kerjakan untuk suatu merek dagang. Kebetulan saya merasa karya ini cukup ekspresif dan rasanya cukup menarik untuk khalayak umum,” jelas Keke yang merupakan anggota American Society of Botanical Artists (ASBA), The Florilegium Society, Sheffield, Inggris dan salah satu pendiri Indonesian Society of Botanical Artists(IDSBA).

Perempuan kelahiran Semarang, 28 Maret ini menuturkan, dirinya merupakan seorang ilustrator lepas dengan spesialiasi cat air dan seni botani. Seni botani sendiri adalah genre seni rupa yang merupakan perpaduan kajian sains (ilmu botani) dan seni rupa. Ciri khasnya terletak pengerjaan yang rinci, cermat, dan akurat secara ilmu botani dalam menampilkan suatu tumbuhan. Ini karena riwayat awal seni botani ditujukan untuk membantu para ahli botani/botaniwan mengidentifikasi suatu spesies.

Karya Keke

”Hanya saja karya dalam pameran ini bukan termasuk lukisan botani saya, hanya lukisan bunga yang lebih lepas dan ekspresif,” ungkap ibu yang selama lebih dari 6 tahun terakhir bekerja

sama dengan klien-klien mancanegara antara lain dari Kanada, Amerika Serikat,

Inggris, Jerman, Norwegia, Swiss, Turki, Spanyol, Italia, Denmark, Jepang, Cina, India, Mesir, Rusia, maupun Indonesia.

Karya-karyanya muncul antara lain sebagai sampul buku terbitan Penguin Randomhouse (Amerika Serikat), Harlequin (Kanada), majalah ilmu pengetahuan Technologist (Swiss), Süddeutsche Zeitung (Jerman), seri perangko Canada Post, poster festival jazz Istanbul (Turki), materi promosi kosmetik Shiseido, hingga ilustrasi kemasan anggur produksi Codorníu (Spanyol). Beberapa produsen nasional seperti Excelso, Kapal Api, Tong Tji pun memakai karyanya.

Pernah menggeluti profesi sebagai desainer grafis, pengarah seni di beberapa agensi iklan di Jakarta, Keke merasa bahagia bisa bekerja di rumah sembari menemani putrinya, Nawang yang saat ini bersekolah di KB Salam. Dia menekuni cat air untuk menjawab stigma bahwa cat air adalah media yang paling sulit dikuasai.

Kesempatan belajar seni botani saat dia menemani suaminya bersekolah di Inggris dipercayainya sebagai salah satu pintu yang membuka jalan hidup seperti sekarang.

Karyanya the Old and the Young I, Paphiopedilum praestans (2014) lolos ke dalam Pameran Triennal Internasional ke-15 Seni dan Ilustrasi Botani oleh Hunt Institute-Carnegie Mellon, mewakili Indonesia setelah 33 tahun vakum dari ajang bergengsi dalam dunia seni botani tersebut. []