Sebuah Rumah untuk Belajar

SIAPA yang tak kenal dengan sosok yang satu ini, Soenarto PR, pendiri Sanggar Bambu. Dalam gelaran Pameran CARAKA yang diadakan Forsalam dan Salam ini, penikmat seni lukis realism naturalis bisa melihat salah satu karyanya.

Panen Padi, Karya Eyang Narto

Menurut putra Soenarto PR, Bima Batutama, karya yang ditampilkan adalah lukisan Panen Padi. Lukisan ini menceritakan proses panen padi. ”Dilukis dengan pastel plus akrilik di atas kertas,” jelas Bima mewakili ayahnya.

Dia menjelaskan, pameran CARAKA ini merupakan pameran yang menampilkan karyanya di tahun 2018 ini. Sebelumnya, karya-karya pemilik nama lengkap Soenarto Prawirohardjono ini ditampilkan dalam pameran ulang tahun Sanggar Bambu pada April 2017 dan pameran Nandur Srawung pada September 2017.

Sosok Soenarto PR tidak bisa dipisahkan dengan Sanggar Bambu. Karena lewat sanggar yang disebutnya sebagai rumah untuk belajar ini telah memunculkan banyak seniman handal. Sanggar Bambu ini dia dirikan pada 1 April 1959 di Jogjakarta. Tidak hanya seni rupa, kelompok seni ini juga berperan dalam dunia teater, musik, dan disiplin ilmu seni lainnya.

Sosoknya pun memiliki peran penting dalam dunia seni rupa Indonesia. Tak heran jika Soenarto PR mendapatkan penghargaan Anugerah Seniman dan Budaya pada 2016 dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogjakarta.

Perjalanan seni Soenarto PR memang cukup panjang. Bakat seninya sudah mulai terlihat saat masih duduk di bangku kelas 2 SD. Saat itu, dia menorehkan beberapa sketsa wajah dan alam. Keinginan untuk meneruskan pendidikan seni rupa pun menjadi semakin kuat. Menjelang remaja, Soenarto memutuskan masuk ke Akademi Seni Rupa Indonesia. Dia pun akhirnya menemukan jati diri sebagai pelukis realism naturalis.

Ada sepuluh karya Soenarto PR yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Mulai dari Relief dan Monumen Jenderal Ahmad Yani di Museum Sasmita Loka Jakarta hingga karyanya di Monumen Latuhary di Pulau Haruku Ambon. []