Keriuhan Awal Mei

Penutupan Pesta Panen Wiwit 2019 sekaligus pembukaan Bulan Presentasi Sanggar Anak Alam (SALAM) telah berlangsung dengan meriah dan lancar pada Kamis-Jumat, 2-3 Mei 2019 lalu. Dalam 2 hari tersebut, di SALAM berlangsung Pasar Pangan sekaligus serangkaian presentasi riset anak yang tersaji dalam berbagai bentuk, mulai dari workshop pembuatan makanan/ minuman hingga pameran karya serta talkshow.

Suasana Pasar Pangan Sehat SALAM

Pasar Pangan

Pasar Pangan yang dihelat kali ini, tak jauh berbeda dengan gelaran acara SALAM terdahulu, bertemakan pangan lokal dan sehat. Namun yang sedikit berbeda, panitia Pasar Pangan yang kali ini dimotori oleh para orangtua kelas Taman Anak (TA) melakukan seleksi yang cukup ketat untuk para pelapak. Penelusuran dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan pelapak adalah benar-benar penjual pangan sehat, dan mendukung pengembangan produk pangan lokal dengan mengeksplorasi bahan-bahan yang dapat tumbuh di Indonesia. Peserta juga berkomitmen untuk melakukan gerakan minim sampah dengan memilih material kemasan yang ramah lingkungan, dan mau mengelola sendiri sampah yang berasal dari lapaknya.

Tak hanya dari para pelapak. Kampanye untuk berbelanja dengan membawa wadah sendiri dari rumah juga gencar dilakukan untuk para pengunjung. Panitia juga melakukan penggalangan wadah plastik layak pakai untuk jaga-jaga jika ada pengunjung yang tidak membawa wadah. Panitia sengaja hanya menyiapkan tempat sampah organik dan biopori untuk mengamati produksi sampah di event kali ini.

Foto Anang Febe

Meski banyak pengunjung berbelanja dengan wadah sendiri, namun ternyata tetap saja tumpukan gelas minum sekali pakai masih tampak di beberapa sudut. Sebagian besar gelas itu adalah gelas sekali pakai berbahan kertas. Bu Lia dan Bu Dede yang pada acara kali ini berperan sebagai MC, berulang kali harus mengingatkan agar sebisa mungkin pengunjung berbelanja dengan wadah minum/ gelas yang dibawa dari rumah/ gelas milik sekolah. Menurut penuturan Bu Dede, gelas kertas termasuk dalam kategori sampah multy-layer. Artinya, gelas sekali pakai itu, sekalipun telah memiliki logo tiga panah berkeliling yang artinya dapat didaur ulang, prakteknya justru tidak bisa terurai karena sampah tidak bisa dipilah. Sekalipun bisa, pemilahan memerlukan alat khusus dan Indonesia belum memiliki alat pemilah sampah multy-layer tersebut.

Penumpukan sampah gelas sekali pakai tampak lebih banyak di hari kedua, saat SALAM kedatangan 100-an tamu dari IAIN Salatiga. Tampaknya anjuran untuk membawa wadah makan dan tumbler sendiri kurang tersosialisasikan.

Presentasi Riset

Dalam rangkaian acara tersebut, beberapa anak SALAM melakukan presentasi dengan turut membuka lapak dan melakukan workshop. Seperti Mayzza, anak kelas 4 SD SALAM, yang membuka lapak soto ayam di ruang Petruk Bawah pada Kamis, 2 Mei 2019. Dengan lancar, Mayzza melakukan proses pembuatan soto sembari menjawab pertanyaan dari para pengunjung workshop. Dipandu Mbak Tyas selaku moderator, Mayzza mempersiapkan suwiran ayam, meracik kuah, dan menjual sendiri produk soto buatannya. Satu mangkok soto ayam buatannya dijual seharga Rp. 8.000,-.

Workshop Riset Bilal & Ranu

Di ruang lain, Bilal, Mesta dan Ranu membuka lapak sekaligus workshop cara membuat mie ayam. Mereka bahkan membuat promo khusus. Untuk pengunjung yang berulang tahun di bulan-bulan tertentu, bisa memperoleh gratis satu porsi mie ayam lezat.

Di hari berikutnya, giliran kelas 2 SD SALAM mempresentasikan hasil belajarnya dengan membuka lapak dengan berjualan makanan yang terbuat dari jamur. Riset kelas 2 semester ini adalah jamur. Di ruang yang sama, terpajang foto-foto proses belajar kelas selama 1 semester. Mulai dari melakukan petualangan mencari berbagai jenis jamur, menemukan jenis jamur yang bisa dikonsumsi, mengamati proses budidaya jamur, melakukan budidaya jamur sendiri di sekolah, memanen hinga mengolah jamur menjadi makanan lezat yang makin lezat jika dicocol sambal.

Keseruan-keseruan Bulan Presentasi masih akan berlangsung hingga 24 Mei 2019 mendatang. Semoga semua pihak, baik anak, orangtua maupun fasilitator aktif melakukan dokumentasi, baik dalam bentuk foto, video maupun tulisan agar eksperimen di laboratirium pendidikan ini tidak sekadar menguap menjadi kenangan. []