MENGAYUN LANGKAH, MEMBANGUN LAKU

“Jangan pernah menilai saya berdasarkan jarene..”  Bukan. Itu bukan kutipan dari lisan atau tulisan Romo Mangun. Itu hanya sepotong kata-kata bijak yang ditulis di slebor belakang sebuah truk yang diabadikan kawan saya tempo hari. Bagi banyak orang, meski hanya sepenggal tulisan –yang kadang-kadang disertai gambar tak senonoh, pesan-pesan di slebor belakang truk selalu bisa membuat kita tersenyum, tertawa bahkan merenung.

Romo YB.Mangun Wijaya

Begitu pula kutipan ini, melintas begitu saja di benak saya ketika akan menulis tentang Romo Mangun. Tentu saja bagi saya yang tidak mengenal, bahkan belum pernah sekalipun bertemu dengan Romo Mangun selain lewat ‘Burung-Burung Manyar’, menulis tentang beliau hanya bisa berdasarkan ‘jarene’.  Bagaimanapun, nama Romo Mangun bagi generasi kami sudah mendekati dongeng, dan bisa jadi bagi generasi sesudahnya hanya menjadi ‘mitos’.

Meski jejak karyanya telah terkikis jaman, namun sesungguhnya apa yang menjadi subyek keprihatinan dan kritik-kritik Romo Mangun, terutama dalam bidang pendidikan, masih saja berlangsung hingga hari ini.Seperti yang pernah ditulis oleh Romo Mangun dalam pengantarnya mengenai Dinamika Edukasi Dasar (DED) pada medio akhir 1980-an. Bahwa pendidikan dasar sejatinya adalah tentang bagaimana menumbuhkan jiwa pencari (eksplorator) dan pencipta (kreator) yang integral (utuh) dalam watak dan karakter. Beliau juga menekankan bahwa mendidik adalah bukan tentang membuat siswa menjawab 1000 pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya, namun membuat siswa bertanya 1 pertanyaan yang membawanya menemukan 1000 pengetahuan.

Sementara Indonesia, hari ini, masih sibuk memperumit urusan pendidikan dengan perkara ‘menuangkan sebanyak-banyaknya pengetahuan pada siswa’, sambil mempersulit birokrasi dan administrasi di tubuhnya sendiri.

Tak perlu riset panjang untuk mengetahui bagaimana masih kacaunya urusan pendidikan negeri ini. Cukup melihat sekilas soal-soal di Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk tahu bahwa anak-anak setingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) sudah harus berkutat dengan soal-soal panjang, yang bahkan untuk bisa membacanya saja masih sulit. Apalagi memahami hingga menemukan jawaban yang tepat. Hal yang sama terus berlangsung hingga bangku akhir Sekolah Dasar, dimana anak-anak kelas 6 SD

diminta menyelesaikan hitungan matematika pada soal cerita dengan tingkat kesulitan teknis yang ‘jauh’ dari perkara hidup sehari-hari seorang anak 12 tahun.

Lantas apakah watak dan karakter bangsa ini terbangun dengan berjejalnya ilmu sebanyak itu? Tempo hari saya mendengar cerita sekelompok anak ‘mengkafir-kafir’kan kawannya. Hari ini pun media sosial juga dipenuhi orang-orang dewasa yang melakukan hal yang sama. Mungkin jawaban atas pertanyaan barusan adalah ‘tidak’. Tapi agar terdengar optimis, mari kita jawab ‘belum’.

Perkara ‘menuang pengetahuan’ ini sekonyong-konyong menganggap anak seumpama‘gelas kosong’. Mengesampingkan fakta bahwa anak-anak adalah sesungguhnya  ‘gelas yang telah terisi’ dengan watak, minat dan bakat. Maka pendidikan yang baik hakikatnya adalah tentang ‘mengaduk’ bekal tersebut menjadi keingintahuan, sehingga anak dipenuhi hasrat untuk mengeksplorasi dan mencipta apapun yang menjadi minatnya. Pendidikan juga sepatutnya mendorong anak menjadi pribadi yang menyatu dengan sesama, Tuhan dan lingkungannya.

Jadi, bagaimana nasib kritik yang usianya hampir 20 tahun itu?

Melihat Indonesia hari ini, kritik itu masih ada. Banyak individu, komunitas dan institusi terus melancarkan kritik yang makin tajam dari hasil membaca, membandingkan, dan mengamati apa yang terjadi di negara lain, seperti Finlandia, misalnya. Namun sepertinya kebanyakan dari kita hanya berhenti pada ‘membaca’ dalam konteks literasi. Sehingga semua kritik hanya berlangsung dalam tataran ‘tutur’ dan ‘pikir’.

Lalu mengapa tidak mencoba memetik satu, satu saja, buah pemikiran orang-orang hebat seperti Romo Mangun itu untuk selanjutnya diejawantahkan dalam tataran yang lebih konkrit yaitu ‘laku’? Karena sebuah ide hanya akan berhenti pada ‘isme’ jika tidak dihidupi. Menghidupkan kritik dari pikir menjadi tutur adalah pekerjaan pemikir. Namun diatas itu, seorang humanitarian sejati, seperti Romo Mangun, Gus Dur, Ki Hajar Dewantara dan orang-orang hebat lainnya, adalah seorang yang menghidupi pikir dan tuturnya dalam laku.

Tentu saja membangun ‘laku’, terutama di bidang pendidikan dasar bukan hal yang mudah. Di awal, urusan birokrasi dan administrasi akan tampak seperti ‘dhemit’ yang pertama kali muncul saat memasuki rumah hantu di pasar malam. Sesudahnya, pekerjaan menyederhanakan materi ajar sudah pasti menyebabkan kecamuk menjelang ujian. Selain harus tergopoh karena merasa tertinggal, pekerjaan ini juga rawan membuat siapapun merasa bersalah karena telah melenceng dari ‘jalan yang benar’, yaitu kurikulum resmi negara.

Namun, toh, itu harus dilakukan karena kita tidak bisa berharap manusia-manusia hebat itu hidup selamanya untuk ikut berjalan bersama kita.Lagipula, kritik bukan nostalgia. Jika kehidupan mereka yang sesingkat manusia pada umumnya itu bisa menginspirasi seluruh bangsa, maka paling tidak kita yang biasa saja ini bisa me’laku’kan sesuatu. Seperti memaknai hal-hal kecil dengan seksama dan penuh tawa sembari membangun laku-laku otentik, alih-alih terus menghujam kritik walau hanya di dinding media sosial.

Mari mengayun langkah dan membangun laku di jalan yang kita buat sambil berjalan. []