PEMBELAJARAN DALAM FILM ‘DEAD POET’S SOCIETY’

Dead Poet’s Society film drama berdurasi 128 menit cukup fenomenal dan unik. Film yang diproduksi tahun 1989 yang bisa dikatakan sangat menginspirasi—Film ini mengisahkan sekelompok siswa yang bersekolah di salah satu sekolah elite di Amerika yaitu Akademi Welton. Sekolah ini merupakan sekolahan yang terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi dan menganut semboyan Tradisi, Kehormatan, Disiplin dan Pretasi. Kisah ini bermula dari kisah kehidupan sosial tujuh orang siswa yaitu : Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven  dan Gerard yang merasakan ketidaknyamanan dengan peraturan di sekolahnya tersebut.

DEAD POET’S SOCIETY

Pemikiran mereka tentang ilmu pengetahuan berubah setelah datang guru baru yang mengajarkan satra inggris kepada mereka. Guru tersebut adalah John Keating yang juga merupakan alumni akademi welton. Guru ini mengajar dengan metode berbeda sehingga siswa terinspirasi dengan proses belajar, salah satunya adalah Neil yang memang sejak awal memiliki minat dalam bidang sastra dan akting.

Hingga suatu saat Neil dan kawan-kawannya  menemukan catatan tua sekolah dimana guru sastra inggris mereka, John Keating, pernah mempunyai klub rahasia bernama Dead Poets Society. Klub yang anggotanya gemar membaca puisi dan selalu memiliki pemikiran berbeda dari yang lainnya menjadi inspirasi Neil dan kawan-kawan untuk membentuk sebuah klub yang sama. Lambat laun pemikiran Neil dan teman-temannya terbuka lebar berkat proses belajar yang dilakukan oleh Keating, terlebih lagi mereka mendapatkan istilah baru yaitu Carpe Diem yang dalam bahasa inggris berarti Seize The Day yang berarti raihlah kesempatan menjadi motto baru dalam hidup mereka. Terutama Todd, remaja paling pemalu diantara teman-temannya yang lain yang lambat laun menjadi seorang pemberani mengutarakan isi hatinya berkat pola pikir Keating yang selalu menginspirasi dan mendukungnya.

Film ini mengandung pesan moral sekaligus menyindir pemikiran-pemikiran orthodox atau pemikiran kaum kolot pada masanya. Freethinkers adalah jargon yang selalu diucapkan oleh John Keating. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, seize the day! Semua perkataan yang meluncur dari mulut Keating seolah-olah merasuk kedalam diri Neill, Todd, Knox dan Dalton. Neill yang notabene seorang murid yang paling pandai tahu bahwa berakting adalah kegemarannya dan impiannya disamping mendapat nilai bagus terus-menerus di sekolah, kemudian Knox mempraktekan betul apa itu yang disebut seize the day dengan cara menemui gadis pujaan hatinya walau dia tahu bahwa gadis yang disukainya sudah dimiliki orang lain, dan Todd, remaja pemalu yang akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya dengan lantang ke seluruh orang. Betul, mereka adalah para pemuda yang tahu dan paham betul makna pelajaran yang diberikan oleh Keating di setiap kelasnya, tahu betul bahwa menjadi seorang yang bisa menikmati kehidupan, cinta, dan keberadaan diri adalah modal penting untuk menjalanai hidup ini selain menjadi bankir, pengacara maupun seorang dokter yang sukses.

Namun apa yang diajarkan oleh Keating dianggap tidak baik oleh pihak sekolah karena melenceng dari prinsip akademi welton. Hal ini memunculkan berbagai permasalahan, terlebih lagi adanya permasalahan antara Neil dengan orangtuanya yang tidak sependapat. Neil ingin mengembangkan bakat beraktingnya tetapi orangtuanya inngin ia menjadi dokter. Sehingga hal ini membuat Neil tertekan. Ia semakin tertekan dan akhirnya melakukan bunuh diri sebagai protesnya kepada orangtuanya dan sebelum bunuh diri ia memberikan pesan “Ia merencanakan hidupku tapi tak pernah menanyakan apa yang aku inginkan”. Pesan ini menjadi sebuah senjata bagi orangtuanya untuk mencari penyebab Neil bunuh diri. Orangtua Neil bekerjasama dengan pihak sekolah untuk mengusut tuntas permasalahan ini dan yang mereka curigai adalah guru sastra inggris yang tidak lain adalah John Keating. Alhasil John Keatingpun dikeluarkan dari sekolah. Pada saat akan berpamitan para siswa yang dulu diajarnya merasakan keberatan sehingga mereka melakukan suatu seperti yang dulu pernah diajarkan oleh Keating.

Dari hal itu dapat kita lihat bahwa adanya konflik antara siswa, orangtua, guru dan sekolahan. Kebanyakan orangtua tidak memperhatikan apakah bakat dan minat yang dimiliki oleh anak mereka, orangtua selalu mengatakan memberikan yang terbaik kepada anaknya akan tetapi mereka justru menjerumuskan anak mereka dalam kegelapan. Selain itu pihak sekolahpun tidak mengembangkan proses pembelajaran yang mampu menarik siswa dalam mencerna mata pelajaran yang diperoleh. Kebanyakan kebijakan yang diterpkan kurang berpihak kepada siswa dan cenderung menjadikan siswa menjadi apatis dan individualis. Seharusnya antara guru, orangtua dan sekolahan melakukan segala kebijakan yang tidak merugikan siswa. Siswa harus lebih diajak aktif dalam berbagai pembelajaran yang dilakukan supaya mereka tidak hanya manghafal dan memahami tetapi juga melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran yang mereka peroleh benar-benar memiliki kegunaan dalam kehidupannya di masa mendatang.

Guru-guru di sekolah itu umumnya mengajar sesuai tradisi yang nampak membosankan siswa—para siswa belajar dalam ruang kelas dan duduk di kursi masing-masing. Siswa belajar dengan cara mengulang-ulang atau mengungkapkan secara lisan berulang-ulang suatu materi pelajaran hingga hafal di bawah bimbingan guru. Lain halnya dengan Pak Keating, ia mengajar dengan cara yang berbeda. Pertama kali, ia masuk ruang kelas dengan berjalan santai, tangan kanan memegang buku dan tangan kiri masuk ke dalam saku celananya sambil bersiul-siul. Ia tidak berhenti dan berdiri di depan kelas melainkan berjalan terus melewati para siswa ke belakang kelas dan menghilang di balik pintu menuju ruang lain. Para siswa memandangi Pak Keating dengan penuh keheranan. Sambil melongokkan kembali kepalanya, Pak Keating mengajak para siswa untuk mengikutinya. Para siswa yang semula bingung dan ragu-ragu akhirnya mengikuti Pak Keating ke luar ruang kelas menuju lorong ruang pertemuan yang besar yang dindingnya penuh dengan foto-foto para siswa terdahulu. Di situlah Pak Keating memberikan pelajarannya dengan cara dialog dengan para siswa sambil berdiri karena tidak ada bangku di situ. Pak Keating meminta para siswa memandangi foto-foto tersebut dan mendengarkan suara-suara atau seruan yang dibisikkan oleh orang-orang dalam foto tersebut. Saat para siswa memandangi foto-foto tersebut, Pak Keating membisikkan kata-kata: “carpe diem” dari belakang telinga para siswa, yang menimbulkan keheranan mereka dari mana asalnya bisikan tersebut.

Dari cerita ini dapat disimpulkan bahwa Neil memiliki cita-cita yang demikian mendalam sehingga seolah-olah ia tidak dapat hidup bila tidak mencapai impiannya sebagai aktor. Pikiran Neil sudah buntu saat ayahnya menentang keras dan tidak mau kompromi. Pribadi Neil yang rapuh tidak kuat menghadapi rintangan tersebut sehingga ia mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Dapat diambil pelajaran pula bahwa orang tua sebaiknya jangan memaksakan kehendak atau keinginan kepada sang anak yang memiliki minat atau impian hidup yang berbeda dengan orang tua.

Kasus Neil merupakan contoh yang paling tepat untuk menggambarkan proses seseorang dalam pembentukan identitas. Latar belakang kehidupan Neil yang merupakan anak tunggal dan dari tingkat ekonomi yang biasa aja sehingga ayahnya dengan susah payah memasukkan Neil ke Welton, Neil dalam tahap ini mempunyai beban yang berat antara ingin menentukan hidupnya dan berada dalam posisi yang sulit untuk menentang ayahnya yang otoriter.

DEAD POET’S SOCIETY

Namun ketika ia bertemu dengan Pak Keating, ia seperti telah menemukan model yang tepat untuk mendeskripsikan seperti apa seharusnya ia. Dia lah yang pertama kali mencetuskan kembali untuk membangkitkan kembali komunitas Dead Poet’s Society sebagai media untuk melepaskan diri dari keterkukungan, penjara sistem sekolah dan tuntutan orang tua. Didalam komunitas tersembunyi inilah lambat laun ia mengerti bahwa ia telah menemukan peran yang tepat bagi dirinya yaitu sebagai aktor dan ia “berhasil”. Didalam tahapan ini Neil telah berada dalam proses pencapaian posisi Identity Achievement.

Ketika ayah Neil mengetahui keterlibatannya kembali dalam kegiatan yang dianggap tidak bermanfaat, dan mengultimatum untuk kembali konsentrasi pada sekolahnya sebenarnya Neil sudah punya kekuatan untuk menolak dengan mempertahankan perannya yaitu melakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya saja ketakutan pada ayahnya ketika ketahuan untuk kedua kalinya dan medapatkan peringatan yang lebih keras untuk pindah sekolah, ia mengalami kondisi moratorium dimana komitmen Neil untuk bertahan pada keputusan menjadi aktor menjadi lemah.

Akhirnya ia menyadari setelah ada tekanan bertubi-tubi dan ia sudah tidak mempunyai kemampuan untuk menolak arahan ayahnya, ia terpengaruh akan puisi pembukaan dari komunitas Dead Poet’s Society :

“Aku masuk ke hutan untuk hidup dengan sengaja

Untuk menghisap semua sumsum kehidupan

Aku mendukung untuk mengusir yang tidak hidup

Dan jika tidak, jika mati aku tahu bahwa aku tak pernah hidup.”

Sepenggal puisi itu tersirat, bahwa ketika Neil tidak mampu mengaktualisasikan  dirinya untuk hidupnya dan selalu berada dalam bayang-bayang system sekolah dan orang tua seperti layaknya mayat hidup, maka bila ia mati itu adalah pilihan terbaik untuk “bebas”. Sehingga tahap ini Neil berada dalam tahap Identity Difusion.

Perkembangan identitas tidak berakhir dengan pencapaian kematangan secara fisik, tetapi perkembangan tersebut merupakan proses yang terus menerus terjadi yang dimulai dari ia lahir sampai lanjut usia. Perubahan tubuh yang akan mempengaruhi sikap individu, proses kognitif dan perilaku, akan terus terjadi sepanjang hidup. Jenis masalah yang akan ditemukanya pun akan semakin kompleks. Dalam tahap remaja pertengahan ini seharusnya Identity Achievement sudah terlihat, akan tetapi ternyata tidak. Terlihat bahwa Todd, Meeks, Pitts, Knox, Cameron, Charlie masih dalam tahap pencarian identitas, sedangkan Neil Perry sebaliknya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Hal ini mengajarkan pada orang tua agar jangan terlalu bersikap otoriter pada anak. Termasuk guru harus lebih memahami siswa, mendidik dan membimbing melalui pendekatan-pendekatan  yang  humanis sehingga siswa akan lebih merasakan bahwa proses belajar dan pembelajaran menjadi suatu hal yang wajib dan bersifat menyenangkan—Masa remaja merupakan  masa emas dalam  kehidupan. Pencarian jati diri mereka berawal dari masa ini. Maka pendidikan dan pembelajaran siswa di fase ini membutuhkan pemahaman terhadap setiap individu agar tercipta lingkungn belajar yang nyaman.

Peran guru yang ditunjukkkan oleh Keating  menunjukkan secara totalitas bahwa guru tidak hanya mengajar secara kaku dan kurang fleksibel tetapi juga harus bisa berperan dalam mencari metode dan cara mendidik siswanya menjadi lebih humanis dan bersahabat—Seharusnya film ini banyak ditonton oleh guru-guru agar dalam memberikan pembelajaran pada siswa lebih kreatif, mengutamakan kebutuhan siswa, keluwesan dalam mengajar dan memberikan  inspirasi yang positif serta bermanfaat pada siswa-siswanya. []