Rumah itu gak cukup berdiri di atas tanah doang. Harus kuat, dalam, dan tahan guncangan. Nah, begitu juga pendidikan anak usia dini. Bukan soal ajari A-B-C sakdino, tapi soal nandur pondasi urip saklawase. Pendidikan anak usia dini itu bukan TK yang isinya lomba mewarnai dan nyanyi “Balonku Ada Lima” sambil goyang ala TikTok. Itu sih hiburan. Pendidikan usia dini itu ibarat nandur bibit nang tanah subur: kudu dipilih benihé, disiangi gulma-gulmané, dikasih air, dijaga cahyané, lan yang paling penting — jangan dipaksa cepet panen! Lah, anak-anak kok disuruh calistung sakdurungé ngerti carane njupuk sendok dewe.

Jadi, kita itu bukan cuma lagi ngebangun “sekolah TK”. Kita lagi mbangun rumah, dalam arti sebenar-benarnya. Rumah tempat anak-anak ngrasakke rasa aman, dicintai, didengarkan. Rumah tempat mereka nggak takut salah, tempat mereka boleh bertanya tanpa dibilang cerewet, tempat mereka belajar bukan hanya supaya pinter, tapi supaya jadi makhluk hidup yang utuh: ngerti rasa, ngerti tata, ngerti laku.
Kadang orang tuwa karo guru malah rebutan remote kontrol. Guru pengin anak mandiri, orang tuwa pengin anak pinter cepet. Guru ngajari empati, orang tuwa malah sibuk bandingin ranking. Guru ngajari main bareng, orang tuwa malah pesen les privat, “Biar anak saya gak kalah saing!” Lah emang bocah itu pebulu tangkis nasional apa kudu menang terus?
Di satu sisi, kita pengin anak-anak tumbuh merdeka. Tapi di sisi lain, kita ciptakan sistem sekolah yang bikin mereka stres sakdurungé ngerti carane buang ingus dewe. Mereka disuruh ngafal 10 jenis burung, padahal bedain bebek karo angsa wae isih bingung.
Di sinilah muncul sekelompok guru dan orang tua yang mulai waras. Mereka ndak mbangun sekolah, tapi mbangun rumah. Rumah pendidikan. Di sana, anak-anak diajak ngobrol, diajak dolanan, diajak mikir, bukan cuma dicekoki. Di sana, orang tua ora mung nitip anak, tapi nitip masa depan, dengan sungguh-sungguh.
Apa yang mereka bangun? Bukan tembok dari bata, tapi tembok dari rasa percaya. Atap dari kasih sayang. Jendela dari rasa ingin tahu. Lantai dari keceriaan. Dan pagar dari nilai-nilai hidup. Lha kok apik tenan, to?
Karena mbangun pondasi anak bukan soal bikin dia juara lomba puisi nasional umur 5 tahun. Tapi soal ngajari dia ngerti rasa. Ngerti kapan harus tertawa, kapan harus diam. Ngerti carane nyambut tangan temannya yang jatuh. Ngerti bedane marah karena lapar dan marah karena merasa disakiti. Iki ilmu penting! Tapi seringkali dilupakan karena terlalu sibuk ngejar nilai.
Anak-anak bukan makhluk kecil yang disuruh cepet gede. Mereka bukan proyek prestasi. Mereka bukan cermin harga diri orang tua. Mereka itu amanah — sak titipan langit — sing kudu dipeluk, dirumat, lan dikuatké pondasiné.
Maka, kalau sampeyan tanya, “Apa pentingnya pendidikan usia dini?”
Tak jawab: Penting banget, Lur!
Karena dari situlah bangsa ini bisa punya pondasi yang kokoh. Bukan pondasi dari beton, tapi pondasi dari jiwa-jiwa yang utuh, akal sehat yang hidup, dan hati yang ngerti welas asih.
Dan ingat, rumah yang kuat bukan karena besar dan mewah — tapi karena dibangun dengan cinta, kesabaran, dan tekad bersama. Daripada ngurusi ranking, mendingan ngurusi rasa.
Daripada ngajari cepet calistung, mendingan ngajari anak ngerti urip.
Fenomena pendirian Pendidikan Usia Dini (PAUD) yang seharusnya menjadi perhatian fundamental justru menunjukkan ironi. Di tengah upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak, ada kecenderungan di kalangan orang dewasa, termasuk pemerintah, untuk membuat proses penyelenggaraan PAUD menjadi semakin rumit dan bertele-tele. Keinginan untuk mencanggih-canggihkan kurikulum dan metode pengajaran seringkali mengesampingkan esensi dari pendidikan itu sendiri, yaitu mendukung perkembangan alami anak-anak. Sementara itu, hakikat dunia anak belia yang penuh dengan rasa ingin tahu, eksplorasi, dan kebebasan berkreasi seringkali terlupakan.
Ada satu ironi yang menggelitik sekaligus bikin garuk-garuk kepala, bahkan kalau perlu—garuk dompet dan nurani sekalian. Namanya PAUD—Pendidikan Anak Usia Dini. Ini mestinya taman bermain yang jadi taman surga buat anak-anak. Tapi sayangnya, yang sering main di sana malah bukan anak-anak, melainkan orang dewasa: mulai dari birokrat, pendidik yang kebanyakan gelar, sampai para pengusaha alat peraga edukatif yang kadang lebih pintar menjual daripada mendidik.
Lha, bocah umur 4 taun wae durung bisa milih baju sendiri, kok kurikulumé wis kayak nyiapno pilot tempur! Ada standar kompetensi, indikator capaian, portofolio perkembangan, asesmen holistik, dan silabus tematik integratif lintas bidang. Lah ini PAUD, Cak, bukan pelatihan astronot.
Kita ini kadang terlalu cinta pada kata “mutu”, tapi lupa bahwa mutu itu bukan soal seberapa canggih metode pembelajarannya, tapi seberapa dekat ia dengan kebutuhan anak. Dan anak usia dini itu, ya, kebutuhannya main, bertanya, menyentuh, berantakin, merengek, ketawa, dan ngupil sambil meluk guru. Bukan disuruh bikin prakarya yang hasilnya udah dirapihin ibu guru duluan.
Lucunya, pemerintah pun sibuk menata PAUD seperti menata ekonomi makro. Ada perizinan yang ribet, standarisasi ruangan, penataan kurikulum, laporan berkala, dan pelatihan-pelatihan yang seringkali lebih cocok untuk dosen S3 daripada guru TK. Padahal, guru PAUD itu butuhnya bukan cuma pelatihan, tapi pendampingan yang manusiawi. Gajinya juga jangan dibuat lebih kecil dari harga satu toples biskuit lebaran.
Yang lebih konyol, banyak orang tua yang juga ikut-ikutan latah. Anak baru bisa nyebut “ayam” malah udah dibelikan buku Cambridge Early Learning dan disuruh ikut les bahasa Inggris, Mandarin, dan coding dasar. Lah piye? Emaknya aja belum tentu bisa bedain Python sama piton. Tapi demi “masa depan anak”, semua diseretkan. Anak-anak akhirnya kehilangan waktu untuk jadi anak-anak.
Kita ini sering ngotot mau “mempersiapkan anak menghadapi masa depan”, tapi malah nggak membiarkan anak hidup di masa kini. Di usia 3–6 tahun itu, yang dibutuhkan anak adalah dunia yang membebaskannya dari tekanan, bukan dunia yang menuntut dia jadi miniatur orang dewasa. Anak bukan proyek investasi masa depan. Anak itu jiwa hidup yang sekarang juga butuh tumbuh, bukan hanya ditunggu hasilnya.
Yang kita perlukan bukan sekadar PAUD dengan alat digital, gedung mewah, dan slogan “berbasis karakter”. Tapi PAUD yang berjiwa: tempat anak merasa diterima, dicintai, dan diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. PAUD yang dibangun bukan dari dana BOS dan proposal-program, tapi dari cinta, kesabaran, dan kepercayaan bahwa anak-anak itu bukan papan tulis kosong—mereka udah datang bawa potensi, tinggal disirami dengan kebijakan yang gak kebanyakan aturan.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal seberapa rumit sistemnya, tapi seberapa dekat ia dengan hakikat hidup. Dan hakikat hidup anak adalah bermain, bertanya, dan merasa aman.
Jadi, mari kita selamatkan PAUD dari cengkraman para dewasa yang terlalu serius sampai lupa rasanya jadi anak-anak. Kita kembalikan taman kanak-kanak ke taman yang sebenarnya: tempat anak-anak tumbuh, bukan tempat dewasa bereksperimen.
Maka, kalau kita sungguh-sungguh ingin membangun masa depan yang sehat—bukan sekadar pintar di atas kertas tapi juga utuh secara batin—maka mulailah dari hal yang paling sederhana dan paling sering kita remehkan: membiarkan anak-anak menjadi anak-anak.
Jangan terlalu cepat menyekolahkan mereka dari pagi sampai sore, lalu mengeluh ketika mereka tumbuh menjadi manusia yang asing di rumah sendiri. Jangan terlalu sibuk menjejalkan “masa depan” ke dalam kepala anak-anak, sampai lupa bahwa masa kini mereka pun butuh dinikmati, dihargai, dan dihormati.
Kalau pendidikan usia dini diibaratkan pondasi rumah, maka jangan bangun pondasi itu dengan beton kaku, melainkan dengan cinta yang lentur, kebijakan yang sederhana, dan kebijaksanaan yang membumi. Jangan sampai PAUD jadi sekadar bangunan dengan plang besar, tapi kosong dari kehangatan.
Karena sejatinya, anak-anak tak butuh dunia yang sempurna. Mereka hanya butuh dunia yang mau mengerti mereka. Dan tugas kita, para orang dewasa, bukan menciptakan anak-anak yang sesuai standar birokrasi, tapi dunia yang bisa mereka percayai.
Sebab kelak, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, mereka akan ingat bukan berapa banyak worksheet yang mereka kerjakan, tapi siapa yang pertama kali bilang: “Mainlah, Nak. Hidup ini bukan perlombaan. Tapi perjalanan untuk jadi manusia.” []

pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply